Thursday, December 31, 2015 | By: Bagus Yulianto

Puisi : Tidak Patut Untuk Dirujuk

Saya akan membagikan Puisi karangan saya sendiri. Puisi bertema Kehidupan Remaja. Bagaimana pemikiran emaja dan apa tanggapan orang lain terhadap para remaja. Remaja dengan dunianya sendiri dan orang dewasa dengan komentarnya.



Selamat menikmati
Klik link dibawah ini untuk mendownload



Tidak Patut Untuk Dirujuk

Sudah semalaman aku melihat
Tayangan-tayangan yang membuatku belajar
(Film-film remaja yang menurutnya mendidik)
Tentang apa yang harus kulakukan
Untuk masa mudaku ini
Menyanyi sendiri sambil mengingat wajah kekasihku
Tertawa dan tersipu malu saat dia memuji tentang kehebatanku
Terkadang sedikit obrolan santai tentang masa depan
Aku dan dirimu
Sungguh indah jika berandai-andai, bukan?

(Dia menulis puisi yang menurutnya patut untuk dibaca)
Aku akan menangis seharian
Jika itu cukup untuk menunjukkan cintaku padamu
Saat kau berdiri diujung arkade
(Dengan pakaian tidak senonoh, tapi sangat selaras baginya)
Membuatku menitikkan air mata saat mengenang
Air mata yang kita teteskan bersama
Untuk membuat dunia kita tetap bertahan
Dan utuh untuk dikenang pada masa depan kita kelak

Kau tahu?
Medali yang dikalungkan padaku
Atas kerja keras masa mudaku
Masih tetap kugantung didekat foto kita berdua
Yang kita ambil saat hari jadian kita yang kedua
(Sekali lagi dia mengira, ini patut untuk dibaca. Tidak)

Padang, 11 Desember 2015, 23:38 WIB

Silahkan baca kumpulan cerpen dan kumpulan puisi lainnya!
Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA

Cerpen "Robohnya Surau Kami" Karangan A.A. Navis

Robohnya Surau Kami adalah sebuah kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis. Cerpen ini pertama kali terbit pada tahun 1956, yang menceritakan dialog Tuhan dengan Haji Saleh, seorang warga Negara Indonesia yang selama hidupnya hanya beribadah dan beribadah. Cerpen ini dipandang sebagai salah satu karya monumental dalam dunia sastra Indonesia
Buku Robohnya Surau Kami ini berisi 10 cerpen: Robohnya Surau Kami, Anak Kebanggaan, Nasihat-nasihat, Topi Helm, Datangnya dan Perginya, Pada Pembotakan Terakhir,Angin dari Gunung, Menanti Kelahiran, Penolong, dan Dari Masa ke Masa.

Di dalam setiap cerpennya di buku ini, A.A. Navis menampilkan wajah Indonesia di zamannya dengan penuh kegetiran. Penuh dengan kata-kata satir dan cemoohan akan kekolotan pemikiran manusia Indonesia saat itu - yang masih relevan pada masa sekarang ini.


Selamat menikmati
klik link dibawah ini untuk mendownload




ROBOHNYA SURAU KAMI

Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.

Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengansegala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.

Sebagai penajag surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih di kenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum.

Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari.

Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi. Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya.

Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku, karena aku suka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa, sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk disampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya Kakek,

“Pisau siapa, Kek?”
“Ajo Sidi.”
“Ajo Sidi?”

Kakek tak menyahut. Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelakupelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo akhirnya. Ada-ada saja orang-orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelakupelaku ceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak, dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan menjadi pemimpin berkelakuan seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pimpinan tersebut kami sebut pimpinan katak.
Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatang Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya Kakek lagi. “Apa ceritanya, Kek?”

“Siapa?”
“Ajo Sidi.”
“Kurang ajar dia,” Kakek menjawab.
“Kenapa?”
“Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggoroh tenggorokannya.”
“Kakek marah?”
“Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal.”

Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi Kakek, “Bagaimana katanya, Kek?”
Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku, “Kau kenal padaku, bukan? Sedari kau kecil aku sudah disini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua, bukan? Terkutukkah
perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?”
Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka mulutnya, dia takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri.

“Sedari muda aku di sini, bukan? Tak kuingat punya isteri, punya anak, punya keluarga seperti orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umatnya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca Kitab-Nya.
Alhamdulillah kataku bila aku menerima karunia-Nya. Astagfirullah kataku bila aku terkejut.Masya Allah kataku bila aku kagum. Apa salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk.”

Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyelakan tanyaku, “Ia katakan Kakek begitu, Kek?”

“Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya.”
Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kepadanya. Dalam hatiku aku mengumpati Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Dan akhirnya Kakek bercerita lagi.
“Pada suatu waktu, ‘kata Ajo Sidi memulai, ‘di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Begitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah dimana-mana ada perang. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seirang yang di dunia di namai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan di masukkan ke dalam surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk ke surga, ia melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan ‘selamat ketemu nanti’. Bagai tak habishabisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Susut di muka, bertambah yang di belakang. Dan Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya.
Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu
Tuhan mengajukan pertanyaan pertama.

‘Engkau?’
‘Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku.’
‘Aku tidak tanya nama. Nama bagiku, tak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia.’
‘Ya, Tuhanku.’
‘apa kerjamu di dunia?’
‘Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku.’
‘Lain?’
‘Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu.’
‘Lain.’
‘Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu, menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.’
‘Lain?’

Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan. Tapi ia insaf, pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang belum di katakannya. Tapi menurut pendapatnya, ia telah menceritakan segalanya. Ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanya mengalir, diisap kering oleh hawa panas neraka itu.

‘Lain lagi?’ tanya Tuhan.
‘Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya, o, Tuhan yang Mahabesar, lagi Pengasih dan Penyayang, Adil dan Mahatahu.’ Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji Tuhan dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salah tanya kepadanya.
Tapi Tuhan bertanya lagi: ‘Tak ada lagi?’
‘O, o, ooo, anu Tuhanku. Aku selalu membaca Kitab-Mu.’
‘Lain?’
‘Sudah kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalau ada yang lupa aku katakan, aku pun bersyukur karena Engkaulah Mahatahu.’
‘Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan tadi?’
‘Ya, itulah semuanya, Tuhanku.’
‘Masuk kamu.’

Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti kenapa ia di bawa ke neraka. Ia tak mengerti apa yang di kehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap.
Alangkah tercengang Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. Lalu Haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya kenapa mereka dinerakakan semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun, tak mengerti juga.

‘Bagaimana Tuhan kita ini?’ kata Haji Saleh kemudian, ‘Bukankah kita di suruh-Nya taat beribadat, teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkan-Nya ke neraka.’
‘Ya, kami juga heran. Tengoklah itu orang-orang senegeri dengan kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat,’ kata salah seorang diantaranya.
‘Ini sungguh tidak adil.’
‘Memang tidak adil,’ kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh.
‘Kalau begitu, kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita.’
‘Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini.’
‘Benar. Benar. Benar.’ Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh.
‘Kalau Tuhan tak mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?’ suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu.
‘Kita protes. Kita resolusikan,’ kata Haji Saleh.
‘Apa kita revolusikan juga?’ tanya suara yang lain, yang rupanya di dunia menjadi pemimpin gerakan revolusioner.
‘Itu tergantung kepada keadaan,’ kata Haji Saleh. ‘Yang penting sekarang, mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan.’
‘Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja, banyak yang kita perolah,’ sebuah suara menyela.
‘Setuju. Setuju. Setuju.’ Mereka bersorak beramai-ramai.

Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan.

Dan Tuhan bertanya, ‘Kalian mau apa?’

Haji Saleh yang menjadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama rendah, ia memulai pidatonya: ‘O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembahmu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran- Mu,mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepalakami.Tak sesat sedikitpun kami membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau memasukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agar hukuman yang Kaujatuhkan kepada kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam Kitab-Mu.’

‘Kalian di dunia tinggal di mana?’ tanya Tuhan.
‘Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.’
‘O, di negeri yang tanahnya subur itu?’
‘Ya, benarlah itu, Tuhanku.’
‘Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya,
bukan?’
‘Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami.’ Mereka mulai menjawab serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu.
‘Di negeri mana tanahnya begitu subur, sehingga tanaman tumbuh tanpa di tanam?’
‘Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.’
‘Di negeri, di mana penduduknya sendiri melarat?’
‘Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.’
‘Negeri yang lama diperbudak negeri lain?’
‘Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.’
‘Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?’
‘Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.’
‘Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?’
‘Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.’
‘Engkau rela tetap melarat, bukan?’
‘Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.’
‘Karena keralaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?’
‘Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.’
‘Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak di masukkan ke hatinya, bukan?’
‘Ada, Tuhanku.’
‘Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. 

Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk di sembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!”
Semua menjadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang akan di kerjakannya di dunia itu salah atau benar. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada
malaikat yang menggiring mereka itu.

‘Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’ tanya Haji Saleh. ‘Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak isterimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun.’

Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan Kakek. Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk.

“Siapa yang meninggal?” tanyaku kagut.
“Kakek.”
“Kakek?”
“Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur.”
“Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara,” kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang.

Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa dengan istrinya saja. Lalu aku tanya dia.
“Ia sudah pergi,” jawab istri Ajo Sidi.
“Tidak ia tahu Kakek meninggal?”
“Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis.”
“Dan sekarang,” tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab, “dan sekarang kemana dia?”
“Kerja.”
“Kerja?” tanyaku mengulangi hampa.
“Ya, dia pergi kerja.”

—the end—

Silahkan baca kumpulan cerpen dan kumpulan puisi lainnya!
Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA
Tuesday, December 29, 2015 | By: Bagus Yulianto

Puisi : Sore, Saat Kami Pulang Sekolah

Pernahkah kalian merasakan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Saya akan membagikan salah satu dari perasaan itu. Puisi dengan tema Perasaan ini akan saat sangan asyik untuk dibaca oleh kalian yang sedang galau.


Selamat menikmat
klik link dibawah ini untuk mendownload



Sore, Saat Kami Pulang Sekolah

“Sebaiknya kau pergi dari rumahku! Sudah terlalu banyak kau menyusahkan orang tuaku. Yang selalu menyayangimu, bahkan melebihi kasih sayangnya padaku.” Desah gadis kecil itu.
            Bocah laki-laki yang sedari tadi bersamanya tidak menampik sedikitpun kata-katanya -Atau mungkin ia pura-pura tidak mendengar semua itu-
            “Dimana rumahmu?”
            “Apa?”
            “Dimana rumah tempat asalmu? Rumah tempat kau dan orang tuamu tinggal dulu.”
            “Aku tidak ingat.” Jawab anak laki-laki itu menunduk.
            “Bagaimana mungkin kau melupakan tempat asalmu sedangkan kau bersama Ayah dan Ibumu? Dan Ibumu yang melihatmu tumbuh dengan...”
            “Aku tidak ingat wajah Ibuku!” Sergah anak laki-laki itu.
            “Ehmm.. dan Ayahmu?”
            “Aku juga tidak ingat.” Jawabnya singkat. “Tapi, dia Ayah yang benar-benar baik.”
            “Bagaimana mungkin kau tahu dia Ayah yang baik saat kau tidak mengingatnya?” Nada suaranya mulai meninggi. Gadis kecil itu menghampiri anak laki-laki yang tengah mengekorinya sejak tadi. “Pergi dari hidup kami. Dan Ayahku adalah Ayah yang jauh lebih baik!”
            Heran akan semua kata-kata yang keluar dari mulut teman gadisnya itu. Semuanya membuatnya menerawang tentang apa yang salah akan sikapnya. Dari kejauhan dia memandang gadis kecil yang berlari meninggalkannya. “Aku tidak akan mengambil keluargamu!”

Padang, 3 Desember 2015, 22:10 WIB


Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA

Cerpen "Senjata" Karangan Motinggo Busye

Siang semua. Kali ini saya akan share Cerpen dari Motinggo Busye Dari Kumpulan Cerpen "Keberanian Manusia" dengan judul "Senjata."




Selamat mnikmati!
Klik link dibawah ini untk mendownload


Senjata



Dia memakai ransel yang diikatkan dengan malas dipunggungnya yang bungkuk. Dan tangannya dimasukkan ke kantong jaket militernya.

Mulanya sama sekali tidak kuperhatikan orang itu. Aku asyik memikirkan uang sewa kamarku yang belum lunas bulan lalu dan harus dibayar dalam tiga hari ini. Yang kupikirkan bukan uang itu. Tapi cara yang punya rumah memintanya. Dia tidak tahu bagaimana kepahitan hidup seorang penulis yang menggantungkan diri kepada karangan-karangannya.

Malam ini aku tidak pulang ke rumah. Malas dan mengkal. Maka aku memilih dengan menyusuri jalan-jalan malam hari sampai akhirnya pegal dan kemudian memilih jalan yang sepi. Dan kemudian kupilih sebuah tembok rumah dan duduk-duduklah aku di tangganya sambil merokok kretek.

Mulanya memang aku tidak memperhatikan orang itu. Tapi sekali bawah sadarku merasakan sesuatu dan demi heranku melihat tingkahnya yang agak aneh. Dia jalan mondar-mandir dalam jarak dua puluh langkah dan itu dilakukannya lebih dari setengah jam kukira. Kalau pegal dia duduk di pagar jalanan dan kemudian jalan lagi.

Akhir-akhir ini aku takut pada tentara. Dulu aku menabrak seorang tentara malam-malam dengan sepeda. Untung dia sabar dan tidak memukulku. Anehnya ia sesudah tidak jadi memukul itu
lantas menanyakan kartu penduduk. Dan soal kartu penduduk itu akhirnya menimbulkan perbuatan yang mencemaskan hidupku.

Aku tidak punya, jawabku dulu.

Ingatan itu belum habis, tentara yang mondar-mandir tadi itu tiba-tiba telah dihadapanku berdiri dengan tangan masih dimasukkan dalam jeketnya. Aku mulai takut kalau-kalau ia menanyakan kartu penduduk pula.

“Kau kawannya?” tanyanya tiba-tiba sambil memalingkan mukanya ke seberang jalan.

“Kawan siapa, Pak?” tanyaku berdebar.

“Maaf!” katanya kemudian dengan bersungguh hati. Dan kemudian menerusi, “Kau tinggal di mana, Mas?” pertanyaan yang aneh itu kujawab, “Jalan Wahidin.”

Lalu dia duduk begitu saja di sampingku. Aku yakin ia susah, sebab beberapa kali nafasnya dilepaskannya.

“Kenapa kau duduk-duduk di sini,” suaranya tidak mengancam, tapi isi kalimatnya terang mencurigaiku.

“Tidak apa-apa, Pak. Saya cuma kecapekan,” jawabku jujur.

“Betul-betul kau tidak punya kawan lain yang pergi ke seberang sana?” agak keras suara itu buatku walau diucapkannya lembek sambil menolehkan kepala ke seberang jalan.

“Tidak!”

“Awas kalau ada!” kini betul-betul mengancam ia rupanya.

“Kau dan dia akan saya tembak,” sambungan suaranya tambah mempertakut diriku.

Sesaat kami tidak bicara. Ia kelihatan sebenarnya amat lesu. Tapi tetap gelisah. Aku tak berani memulai bicara sebab takutku. Dan ketika ia bergerak sedikit, darahku serasa luput semua. Tapi ia cuma berdiri tidak memandangku. Dan kemudian pergi lagi ke arah tempat ia mondar-mandir semula. Ia tidak mondar-mandir lagi, cuma berdiri tenang-tenang di bawah tiang listrik. Dan alangkah senangnya hatiku ketika ia bergerak ke arah pepohonan jeruk dan hilang di antara pagar-pagar gang.

Aku akan cepat-cepat pergi saja. Aku khawatir ia gila. Tapi kemudian kubantah sendiri: Tidak mungkin tentara gila dilepaskan dari markas pondokannya. Kemudian kubantah lagi, gila atau tidaknya, tidak peduli. Yang penting aku harus pulang kini-kini juga dengan segera, agar tidak terlibat dalam persoalannya. Tapi ini pun kubantah, dia tadi menanyakan alamatku dan aku ada menyebutkan. Dia tadi curiga padaku. Dan tentu dia akan makin curiga sebab aku pergi. Dan ini akan menjadikannya marah yang akan disusulnya dengan memburuku dan aku betul-betul akan ditembaknya. Kemudian kuputuskan, sebaiknya aku tinggal diam di sini sampai pagi datang, biarpun ini akan menyiksaku.

Aku menyesal telah terhampar ke tempat ini dan mempersulit keadaan diri sendiri saja. Akhir-akhir ini aku khawatir tentang keadaan diriku dan khawatir pula kalau diriku dapat kesulitan.

Pernah dulu aku berniat akan bunuh diri. Tapi kubunuh perasaan gila begitu. Kemudian datang pula seorang kawan. Dia juga penulis. Dan menceritakan juga kesulitan-kesulitan hidup. Lalu kusuruh secara bergurau, “Bunuh diri saja!” walau aku menyatakan dengan hati yang bersungguh-sungguh. Tapi seperti juga diriku, dia pun tak jadi bunuh diri. Dan ketika kami bertemu, kawan itu berkata, “Buat apa kita membunuh diri kita. Lebih baik kita bunuh saja orang lain,” sambil ketawa. Dan kemudian ia mengajakku merampok toko, sambi! ketawa pula. Tapi kami tak jadi membunuh orang atau merampok toko.

Ketika aku senyum sendiri, alangkah kagetku. Orang tadi keluar di antara pohon-pohon jeruk dan terus menjurus ke arahku.

Aku mulai pura-pura menekur dan takutku menyita sampai ke seluruh tulang-tulangku.

“Mas,” tapi suara itu pun perlahan kudengar.

“Apa, Pak?”

“Barangkali dia pulang jam empat atau setengah lima.”

“Siapa, Pak?” tanyaku.

Ia tak menjawab tapi terduduk. Kelihatan sukar sekali dia duduk. Dan aku hanya berdiam diri saja sebab takutku

“Mas!” katanya.

“Ya?”

“Ada lelaki tidur dengan biniku sekarang!” kini barulah aku merasa tenteram. Dan suara itu dapat kurasakan sebagai tanda persahabatan.

“Mulanya kau kucurigai tadi. Tapi maaf, tadi aku agak pusing,” katanya.

“Aku pulang dari operasi, Kereta masuk jam sembilan malam tadi,” suaranya makin bersahabat. Dan betapa pun, aku senang kini.

“Aku minum-minum dulu di markas. Sebenarnya aku sudah boleh pulang tadi-tadi. Tapi jam sebelas aku pulang. Aku bawa oleh-oleh buat biniku, kutaruh di depan pintu belakang, sebab aku yakin lelaki itu pasti keluar dari pintu belakang.”

Tiba-tiba pula takut menyentaki darahku. Aku tak kepingin ikut-ikut dalam soalnya dan dalam soal siapa saja dalam saat sekarang ini.

“Bagaimana, Mas?”

“Tembak saja!” kataku tiba-tiba secara tak sadar, terpengaruh oleh perkataan “tembak” yang dari tadi sering beramuk di hatiku, sejak ketemu dengan orang ini agaknya.

Begitu senang aku, sebab aku tak ditanyai atas usulku yang terlanjur tadi. Dia memandangku lama-lama, kemudian mengeluh dalam-dalam. Barangkali ia takut mengambil resiko penembakan, pikirku. Ini kutangkap di matanya. Barangkali dia masih sayang pada bininya, pikirku, dan akan dimaafkannya. Dan ini kutangkap di matanya.

“Apa tadi, Mas? Tembak?”

Aku jadi terpana oleh pertanyaannya. Sebenarnya aku akan meneriakkan bantahan kembali, tapi aku sendiri nanti akan dicurigai dan diriku jadi korban pelor secara tak karuan. Dan aku bisa mati anjing.

“Ya. Tembak,” katanya perlahan dan pilu.

Lama ia pandang wajahku.

“Ketika operasi aku dapat menembak musuh dengan sebaik-baiknya. Kau tahu?” suaranya mengobarkan kebanggaan. “Dan setidak-tidaknya ada lebih lima yang kupasti,” kemudian ia mengeluh dengan nafas yang sakit.

Kami saling terhening beberapa saat, di saat mana otakku dibalaukan oleh kebuntuan-kebuntuan pikiran. Dengan tiba-tiba saja ia bersuara, “Kita di sini saja sampai jam lima. Biarpun dia lewat jalan belakang, gang itu gang buntu,” dan sekaligus suara-suara persahabatan begitu berakhir dengan ajakan agar aku terlibat dengannya.

“Kau tolong aku nanti. Mau kau menolong?” biarpun tidak kujawab, tapi ia sendirilah yang menjawabnya, “Tentunya kau mau menolong,” demikian ngeri kuterima putusan kerja sama ini.

“Sudah jam berapa?” tanyanya gelisah.

“Aku tak punya jam!” jawabku takut-takut.

Ia meraihkan nafas dalam. Kami terdiam agak lama.

“Sudah jam berapa?” tanyanya lagi.

“Aku tak punya jam, Pak,” kujawab dengan heran.

“O, iya, ya!” dan kemudian ia berdiri.

Kelihatan sekarang, dia makin gelisah. Dipandangnya ke arah di seberang dan matanya mulai menyala-nyala.

“Kau tolong aku!” perintahnya tiba-tiba. Ketika aku terdiam agak lama, ia menanyai agak mengancam, “Tak mau kau menolong aku?”

“Mau Pak!”

“Ambilkan pistolku di ransel belakang.” Dan ia menunduk ketika itu, sehingga dengan mudah pistol itu kuambil dan kuberikan padanya.

“Isikan pelornya! Itu kosong,” perintahnya lagi.

Aku benar-benar takut dan pasti, bahwa ia gila. Aku gugup, sebab dalam hidupku aku belum pernah berkenalan dengan senjata api. Lama-lama aku terdiam deagan takut dan gelisah, sampai aku kemudian dibentaknya, “Tak mau kau menolong aku?”

“Aku tak pernah pegang pistol, Pak.”

Matanya jadi merah dan tiba-tiba kurasa tanganku diraihnya, sehingga pistol itu jatuh.
Kucoba memandang dia dengan mata minta dikasihani, tapi begitu kaget aku ketika dalam matanya berenang butir-butir air mata putus asa. Biji matanya kemudian turun mengajak mataku melihat sesuatu.

Kedua tangannya! Tangan-tangannya tidak bertelapak dan berjari lagi, sebab putus tentang pertengahan lengan.

Ia menggigil. Tak berani aku memandangnya. Yang kudengar hanya tangisnya yang menggigit-gigit sepi malam.

TAMAT Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA
Sunday, December 27, 2015 | By: Bagus Yulianto

Cerpen : Sungguh, Aku Tidak Bisa Tertawa


Selamat sore sahabat semua. Kali ini saya akan membegikan cerpen karangan saya sendiri dengan tema Persahabatan. Persahabatan begitu dalamnya ditunjukkan dalam cerpen ini. Selamat menikmati.

Untuk mendownload klik link di bawah ini!



Sungguh Aku Tidak Bisa Tertawa


Sungguh aku tidak bisa tertawa. Mengingat semua kilatan masa yang membuat mataku silau akan kenang-kenangan lama tentangmu, kawan. Begitu indah untuk dikenang dan aku yang menitikkan air mata setiap kali mengingat itu semua. Apakah kau melihat langit yang sama saat aku mengenangmu. Kau bukan Ibu yang memberiku makan dan minum setiap hari. Kau bukan pacar yang membuatku merindu setiap kali kita berpisah. Kau bukan dewa yang mengharuskanku untuk memuja dan mengikuti setiap titah yang kau berikan. Kau hanya teman. Hanya teman. Yang selalu membuat mulutku lepas untuk tertawa.
            “Ayo, Rama!”
            “Iya. Aku akan segera kesana.”
            Hanya dia yang dapat membuatku melupakan tentang kesahku. Cuma teman. Kisah yang terlalu manis, barangkali. Bahkan melebihi manisnya buah arbei.
            “Sudah berapa lama kita bersahabat?” tanya Desta. Teman sekelasku –menurutku- yang kuanggap sebagai teman.
            “Ehmm, sudah lama.”
            “Tidakkah semua itu membuatmu jenuh? Hanya berkutik dengan kenangan masa lalu. Tidakkah kau ingin memandang langit malam ditempat yang lebih berwarna. Di dunia nyata, barangkali.”
            “Kau tak akan mengerti perasaan orang yang sudah terkungkung. Mungkin seperti aku ini.” Jawabku pasrah.
            “Tapi, aku sudah mati!”
            “Meskipun kau bilang seperti itu, kau tetap menjadi temanku, bukan?”
            “Aku tak ingin kau hanya memandang hal semu dan melupakan semua hal yang dapat kau raih dengan tenaga yang tersisa. Sungguh, kau sudah menyia-nyiakan itu semua.”
            “Ya! Aku tahu kau sudah mati dan aku tahu aku menyia-nyiakan masaku. Aku tahu semua itu, karena aku memandang langit yang sama dengan mu.” Desahku.
            “Jika itu yang membuatmu bahagia saat ini, cukup kau lakukan. Tapi, aku akan selalu ada bersama.” kata Desta setengah berbisik. Kata-kata itu kontan membuatku sadar akan sesuatu. Sesuatu yang benar-benar telah aku sia-siakan.
            Ya, Destalah yang menjadi tempat bagiku untuk meluahkan semua sedu-sedan. Mulai dari urusan sekolah yang mendera, rumah yang menolak saat aku singgah, sampai dunia yang tak menerima hawaku. Tak jarang, dia memberikan nasihat yang menurutku lebih dari cukup. Dengan aksen dan tata bahasa yang terbilang berlebihan, tapi semua itu yang membuat setiap perkataannya terlihat berbobot. Bahkan titik dan koma yang terkandung dalam perkataannya memilki arti.
            “Oh ya. Sangat jarang sekali kamu pergi ke sekolah pagi-pagi sekali. Seperti sekarang misalnya. Kenapa?”  tanyaku untuk melerai kebuntuan.
            “Biar aku juga bisa menjadi anak rajin seperti mu.” Selorohnya.
            “Dasar. Kalau begitu aku harus tiba duluan di sekolah dari pada kamu.” Segera aku berlari meninggalkan Desta.
            “Aku tidak akan kalah!”
            Desta ikut berlari mengejarku yang ingin tiba terlebih dahulu disekolah.
            “Aku akan mengalahkanmu!”
            “Coba saja kalau bisa”
            “OK. Tapi kali ini aku yang akan sampai duluan di sekolah.”
            Begitulah persahabatan yang terjalin antara kami. Sungguh indah, bukan?
Sore itu, saat aku dan Desta pulang dari sekolah yang sungguh melelahkan. Begitu banyak tugas yang diberikan oleh guru dan ditambah dengan badanku yang kurang sehat. Bagaimanapun juga, ini adalah salah satu fase untuk menjadi dewasa, bukan? Merasakan begitu banyak perasaan dan situasi yang kita belum pernah hadapi sebelumnya. Baik itu menyangkut keluarga, teman, sampai kepada pendamping hidup nantinya. Aku yakin, suatu saat akan datang masa dimana aku harus memilih. Memilih yang terpenting bagiku, hidupku dan orang-orang disekitarku.
            “Seperti biasa, kau membuat Pak Komar salut akan kepintaranmu. Belum lagi dia membahas tentang Hukum Relativitas, tapi kau sudah melangkahinya. Seakan dunia melayang di dalam kepalamu.” Celoteh Desta.
            Aku hanya diam saja sambil memberikan sedikit senyum tanda kepuasanku akan pujiannya.
            “Oh ya. Nanti sore kamu ada acara atau tidak? Di toko buku depan rumahku ada koleksi komik baru.” Tanya Desta.
            “Maaf! Kali aku merasa kurang enak badan. Maaf ya, Ta.” Ucapku dengan wajah memelas. Sungguh, aku kurang enak badan sekarang.
            “Tidak apa-apa. Nanti, kalau kamu pingsan, aku juga yang repot ditengah jalan.”
            “Ada temanku disana, bukan?”
            “Tapi, aku sudah mati?” Kesahnya datar.
            “Terima kasih ya.”
            “Untuk apa?”
            “Untuk semuanya!”
            “Dasar. Kebanyakan baca buku barang kali.”
            “Mungkin.”
Didepan gerbang kamipun berpisah. Jalan rumah kami yang saling bertolak belakang membuat kami harus jalan berpisah setiap kali pulang sekolah. Pikirku. Dimanapun aku berada, pasti disana ada Desta. Dimanapun itu.
            “Sampai jumpa besok!” salam Desta.
            “Ya.”
            Kembali aku mengayunkan langkah untuk kembali pulang ke rumah. Tubuh terasa lunglai tak bertenaga. Terkuras habis semua tenaga yang kumilki.
            “Mungkin aku demam.” Bisikku dalam hati.
            Kulangkahkan kaki untuk terus berjalan dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki. Sungguh aneh saat membuat teman yang sudah begitu dekat denganmu, merasakan kekecewaan.  Meskipun ia sudah mati. Tapi, ku yakin dia akan mengerti dan selalu mendoakanku. Kecewa akan sesuatu yang tidak bisa kau lakukan bukanlah sesuatu yang membuat dirimu jatuh ke dalam lembah, tapi proses yang nantinya membuatmu tahu akan sesuatu. Sesuatu yang sebelumnya belum kau kenal apalagi sentuh dalam hidup yang sungguh membosankan ini.
Aku berpikir akan sikapku yang membut orang lain kecewa. Dan aku juga berpikir tindakan apa yang harusnya aku berikan. Tapi, aku tidak pernah berpikir apa yang terbaik untukku selama ini. Apakah ini bisa mendatangkan kebahagiaan bagiku? Dan tentunya kebahagiaan ini juga mendatangkan kebahagiaan bagi orang-orang disekitarku.
Dalam lamunan panjang ini. Aku merasa ada seseorang yang sedari tadi memperhatikanku. Ya, ada seorang gadis yang duduk di kursi dekat pohon akasia itu. Dia memegang sebuah buku tapi tidak membacanya. Sedangkan ia asyik terus memandangku yang tengah berjalan. Seketika, ia menyongsongku dengan tatapan pasti.
Dia menyodorkanku sebuah surat. Surat yang ditulis disebuah kertas putih bergaris-garis dan dilipat dengan sangat rapi. Mungkin karena surat ini ditulis oleh seorang gadis. Kuraih surat itu dan seketika gadis itu meninggalkanku. “Apa ini?
Gadis itu berjalan gontai seketika meninggalkanku dengan sebuah surat. Surat yang menurutku tidak tahu asal usulnya. Meskipun ku tahu ada seorang gadis yang memberikannya, tapi aku tidak tahu siapa gadis itu dan untuk apa surat ini. Aku hanya bisa meraih dan menyimpan surat itu di dalam saku. Sepeti sebelumnya, kembali kuayunkan langkah untuk pulang kerumah. Ya, rumah.
Tempat yang menurut orang-orang sebuat tempat yang terlalu indah. Penuh dengan suka duka dalam proses tumbuhmu. Dikelilingi oleh mereka yang menyayangimu dan setiap harinya melihatmu melakukan hal-hal baru dalam hidup. Mereka yang nantinya melihatmu menitikkan air mata kala senang tak tertahankan atau sebaliknya. Sungguh indah sebuah rumah bagi orang lain. Tapi tidak bagiku. Sungguh menyakitkan.
“Kenapa pulang terlambat?” Tanya Mama saat aku baru tiba di pintu rumah.
“Ada ujian susulan.” Jawabku singkat.
“Kenapa kamu sendirian yang ujian?”
“Satu kelas, ma!”
“Satu kelas?” Teriak Ibu sambil melayangkan sebuah tamparan di pipiku. “Zainab sudah dari tadi dia pulang ke rumah. Dan kamu bilang ada ujian susulan satu kelas?”
Gadis yang bernama Zainab itu tidak kukenal. Apa dia teman sekelasku?
Aku hanya diam menerima tamparan itu. Tubuhku tetap berdiri dengan kokohnya sambil menundukkan kepala. Sungguh, kebencian sudah bersarang di benak kepala setiap kali menerima tamparan dari Mama. Mungkin sudah terlalu sering tamparan itu singgah di pipiku. Berapa kalipun tamparan itu meyinggahiku, aku tak akan bergidik.
“Kamu sudah menjadi anak yang suka berbohong sekarang, ya? Sudah berani kamu membohongi Mama yang membesarkanmu sendirian saat tidak seorang Ayah yang kau anggap sebagai manusia. Mamamu ini bekerja setiap malam hanya untukmu. Untukmu! Dan kau yang mengecewakannya.” Mata Mama terus membera di depanku. Semua kata-kata itu sudah puluhan kali terucap di depanku.
“Tapi, kenapa mama harus bekerja seperti ini. Melayani pria-pria yang tidak tahu asal-usulnya dan kau yang mendapat uang dari mereka setiap malam. Aku hanya ingin hidup normal dan orang tua yang normal juga. Tidak bisakah kau mengerti?”
Sebuah tamparan kembali bersarang dipipiku. “Kembali ke kamarmu!”
Menyakitkan! Sungguh semua ini membuatku ingin melupakan dunia tempat aku tumbuh selama ini. Hanya kamarku yang menjadi satu-satunya tempat yang membuatku nyaman. Tempat semua keluh dan kasah ku simpan rapat-rapat.
Saat tiba di dalam kamar.
“Desta?”
“Oh, kamu sudah datang. Sudah dari tadi aku menunggumu.”
“Ya!” Jawabku dengan nada sedikit bingung. “Apa yang dilakukan Desta di kamarku dan bagaimana cara ia masuk ke kamarku?
“Ternyata komik yang tadi aku beli, ada bonusnya. Saya dapat edisi spesial dengan jumlah terbatas. Kamu tahu, di kota ini, hanya lima orang yang punya edisi spesial ini.”
“Oh, ya? Boleh aku lihat. Sungguh rugi aku tidak ikut denganmu, tadi.”
“Tenang. Ada temanmu ini, bukan?”
“Ya!” Aku tersentak. “Kau temanku.”
Sungguh menyenangkan saat ada orang lain yang selalu membuatmu melupakan dunia. Dunia yang sungguh tidak ingin bersahabat denganmu. Tidak menerima hawamu dengan sepenuh hati. Ku teringat surat dari gadis yang diberikan gadis saat aku pulang sekolah tadi. Perlahan kuraih surat itu dari dalam saku baju. Kembali ku amati surat dengan lipatan yang rapi itu.

Untuk Rama,
Rama, selama ini aku yang memperhatikanmu. Melihatmu meraih dunia dengan caramu sendiri. Tahu kah kau, kadang aku tidak mengerti saat kau memandang langit dengan cara yang tidak aku mengerti. Mungkin aku yan terlalu sara melihatmu selama ini. Yang terpenting, aku mengerti apa yang kau rasa dan pikirkan. Rama! Selama ini kau hanya memandang sesuatu yang semu. Sesuatu yang membuatmu melupakan hal terpenting. Menyia-nyiakan hidup yang tak akan kau dapatkan diwaktu luang. Rama! Masih ingatkah kau dengan teman sekelas kita. Teman yang kau anggap sebagai teman –dan aku teman yang kau anggap sebagai manusia- dengan hari-hari yang indah untuk dilihat.
Desta, ya Desta. Desta sudah mati. Sekali lagi, Desta sudah mati. Saat kita liburan sekolah semester tiga, dia meninggal dalam kecelakaan. Dan kau yang bersedih setiap kali mengingatnya. Tapi kau yang berbicara setiap hari dengannya, membuatku melihat sosok Desta di sampingmu.
Aku hanya mau mengatakan, kau sudah menyia-nyiakan dunia dan mulailah menerima dunia tempat kau tinggal. Rumahmu, Mamamu, sekolahmu dan teman-teman baru yang bangga akan keberadaanmu. Sekali lagi, Desta sudah mati

Temanmu,

Zainab
Ku tutup surat itu dengan menerawang. Menerawang semua yang sudah aku lalui. Menyia-nyiakan dunia dan bertindak seolah-olah aku adalah manusia teraniaya di dunia. Seolah-olah dunia tidak menerimaku. Tapi, aku yang tidak pernah membuka hati untuk dunia ini.
“Rama, kau sudah paham sekarang?” Tanya Desta yang duduk disampingku.
“Ya!”
“Aku sudah mati. Dan sekarang kau akan baik-baik saja tanpaku. Teman yang kau anggap teman, bukan. Selamanya akan tetap seperti itu.”
“Ya, kita adalan teman”
Perhalan, sosok pria yang selalu menemaniku selama ini menghilang secara perlahan. Meninggalkanku dengan dunia yang baru. Dunia yang akan kucoba untuk merangkul.
“Terima kasih, Desta!” Air mataku menetes di atas surat ang tengah aku baca. “Semuanya sudah berubah, bukan?”

Tanjung Gadang, 26 Desember 2015, 8:51 WIB

           

            
Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA

Entri Populer

Blackjack widgets