Saturday, November 5, 2016 | By: Bagus Yulianto

SEMANGAT SECERAH MENTARI - Rihhadatul Aisy Putri - Lomba Menulis Cerpen



SEMANGAT SECERAH MENTARI
Oleh:   Rihhadatul Aisy Putri
           
            Ibu, sering menceritakan diwaktu lenggangnya bahwa aku terlahir dipagi yang cerah, saat mentari hendak merekahkan sinar lembutnya yang bagaikan seringaian cerah-ceria. Begitu juga dengan pertemuan pertamaku dengan Ayah, pria paling humor yang sangat kukenal. Saat aku lahir dengan oekan pertamaku, pria itu tidak menyambut tangisan itu. Selang beberapa hari setelahnya, beliau pulang dari luar daerah. Dari ceritanya, aku dituturkan bahwa beliau kusambut pertama kali dengan senyuman. Menurutku, itu adalah pujian termanis dari sosok pria tersayangku.
            Teman-teman juga berkata bahwa aku adalah sosok ceria, bahkan orang yang sama sekali tak kukenali dalam beberapa saat bisa seakrab teman atau sahabatku sendiri. Bahkan, ada yang menjuluki aku sebagai tukang senyum, dan membawa pengaruh positif. Secara alami aku terbentuk untuk menyenangkan orang lain, juga berusaha untuk menjadi pendengar yang baik. Disamping itu, aku juga punya impian yang kuharap dapat terwujud. Dari sifat dan sikapku, aku ingin menjadi seorang Psikiatri, tapi aku juga tertarik untuk menjadi Psikolog, karena itu aku berusaha menjadi pendengar yang baik.
            Sebentar. Mungkin anda berpikir bahwa aku adalah sosok yang seutuhnya bahagia, percayalah, aku pernah berada dalam posisi yang amat-sangat menyedihkan. Hidupku juga memiliki lika-liku tersendiri, cerita yang serupa benang kusut, ingatanku pun tak sesempurna dulu, bahkan kini aku masih takut mengingat masa laluku. Hei! Aku pernah dalam awan kelabu yang berkepanjangan, dan itulah badai yang mengguncang hidupku. Tapi, cerita itu membuatku berada dalam posisi kuat, berusaha bertahan dan terus mencoba menjadi karang yang diterjang ombak dahsyat. (Jadilah bola bekel yang ketika dijatuhkan akan bangkit lebih tinggi lagi.)
            Aku¾si bungsu dari dua bersaudara. Saudara laki-lakiku, Hafizh kini menjadi Mahasiswa Fakultas Hukum disalah satu Universitas Negeri dikota kami. Ia berhati sekuat baja, kehidupannya bahkan lebih keras dariku. Tapi, begitulah hasil dari didikan orangtua kami. Ayah adalah orang hukum, pria rasional berhati lembut yang humoris, ia mendidik anaknya untuk menjadi disiplin yang baik, bertanggung jawab atas kegagalannya.
            Sedangkan Ibu, wanita mandiri yang mirip hatinya dengan saudaraku. Walaupun ia tidak bekerja diluar, tetapi ia berperan penting dalam mendidik kedua buah hatinya. Ia adalah panutan untuk kami, seorang wanita  yang berpikiran matang. Tapi aku sangat suka ketika air matanya terjatuh, saat sedih itu ia adalah orang yang terdramatis yang kukenal. Bahkan saat umurku menginjak remaja, hakku seolah-olah diambil alih olehnya, ia sama sekali tak ingin aku bebas seperti anak seumuranku. Karena ia tahu, bahwa aku anak rumahan, jadi tidak apa aku berdebat dengannya kalau-kalau aku keberatan diomeli ketika telat pulang sekolah. Benar, ia adalah wanita cerdas yang memimpin hatiku.
             Jika dibandingkan, sifatku sama sekali tidak seperti mereka. Aku hanyalah perempuan manja yang selalu meminta tolong, anak yang egois dengan pendapatnya, dan selalu bertengkar. Tapi kedua orangtuaku sedari dini mendidik bahwa mereka bukanlah tipe yang membesarkan anak-anak manja. Aku sadar bahwa mereka selalu mendorong kami mencapai prestasi terbaik, karena itulah yang bisa kami lakukan untuk membalas jasa-jasanya. Dan itu, kami sedang berusaha melakukannya.
            Ditahun 2015, aku merasakan kedua pengalaman yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Saat bertemu dengan teman sebenarnya yang dapat menerimaku yang terlalu pendiam, saat itu juga yang kurasakan sebagai pencapaian yang amat menyenangkan. Dan diakhir tahun, kejadian itu adalah pelajaran. Aku jatuh sakit disaat teman-temanku sibuk mengerjakan tugas, menyelesaikan presentasi mereka, mengikuti ulangan harian, tepat disaat kelas kami dalam semester satunya. Dikalender penuh kutandai dengan absen sekolah untuk ke Rumah Sakit, Klinik, maupun pengobatan tradisional. Hasilnya, hanya dua bulan penuh aku hadir dikelas itu. Dan penyakitku, masih samar.
            Ditengah pertempuranku melawan rasa sakit itu, aku benci melihat semua orang yang tertawa, berbicara panjang lebar, atau bahkan berlarian untuk bermain sepuasnya. Rasanya aku ingin mengutuk mereka, seolah-olah langit dan bumiku direnggut. Aku menangis sepanjang malam, bahkan aku sangat ingin menangis saat hujan agar tak ada yang tahu isakkanku itu. Saat itu juga, bukan tentang Ayah atau Ibuku yang tengah bahagia, tapi mereka tenggelam dalam kesedihan juga, mereka bingung akan menjejakkan kaki kemana lagi untuk mengobatiku.
            Sepanjang detik aku menantikan waktu makan, lalu meminum obat berwarna-warni yang sangat pahit, setelah itu tidur. Hanya itu. Diakhir tahun yang biasanya aku merasakan kebahagiaan, saat itu berbeda, aku mendapat tamparan kejiwaan. Aku frustasi, akal sehatku seolah lenyap, mimpi seolah menjadi nyata, semuanya dalam kalut balutku. Aku benar-benar dalam kondisi putus asa, saat itu aku pernah berpikir untuk menghentikan waktu milikku, disuatu malam tanpa sepengetahuan orangtua atau siapapun, aku meneguk obat dalam dosis lebih. Itu sama sekali tak berhasil. Tuhan, lagi-lagi menyelamatkan nyawaku.
            Dan pada waktu yang sama, semua harapan dan semangatku hilang. Sahabat-sahabatku menjauh, mungkin mereka mengira bahwa aku dalam kondisi jiwa yang parah. Tetapi sebenarnya, dibulan Desember aku mencoba masuk beberapa hari, kondisiku masih wajar dibandingkan saat dirumah. Aku menyapa siapapun yang kukenal, seperti biasa, aku tetap ceria. Tapi disatu sisi, hatiku risih. Rasanya tanganku ingin menghantan tembok-tembok penghalang itu.
“Apakah setelah membaca ini anda merasakan sesuatu yang adil pada setiap manusia? Bukankah, kehidupanku sama-sama berliku seperti kehidupan anda? Adil, bukan.”
            Tahun berganti, aku berusaha bangkit dari segala awan kelabu. Walaupun masih sering pingsan, tapi kondisiku mulai bulan januari sudah berbeda. Seolah ada yang baru dalam hidupku, sebuah keyakinan yang tumbuh perlahan-lahan. Aku percaya bahwa Tuhan Maha Adil, dan semuanya kuserahkan. Pelajaran dari kisah kelam itu menjadikanku jauh lebih kuat dan jauh lebih hebat dari sebelumnya. Ini bukan omong kosong!
            Aku menghapus semua gelap itu, disatu sisi aku sibuk  menghadirkan cahaya yang bisa bersinar terang yang dapat menyinari semuanya. Seperti mentari yang benderang aku harus menjadi terik yang menghalangi keterpurukan. Aku terus mencoba bangkit tanpa rasa takut sedikitpun. Dan saat itulah titik yang amat kuat kuraih.
            Tidak segalanya dapat membuatku takut. Aku yakin pada diriku semua akan baik-baik saja, selama hati ini masih menyisihkan waktu luang untuk mengingat Tuhan. Tanpa-Nya, aku tidak akan meraih kesuksesan yang begitu menabjubkan. Dengan tulisan dari tangan kecilku, aku menuliskan berbait-bait cerita yang berliku. Tuhan selalu ada, dan akan selalu setia mendengarkan.       
            You. keep fighting! The words leave scars, but the words helps you to change. Stay strong! The world is changing, the world is a hard place, but you can do everything.”
TAMAT
Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA

Sang Komang - Putri Vita Nadia - L0mba Menulis Cerpen



Sang Komang
Putri Vita Nadia

            Pagi itu, Komang bergegas mengeluarkan sepedanya dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Saat ia hendak mengayuh sepeda, tiba-tiba ia teringat akan mamaknya. Komang menaruh sepedanya dan berlari ke dapur. Ia mendapati mamaknya yang sedang memasak sambil bersenandung kecil.
            “Mak,” panggil Komang yang membuat mamaknya terkejut.
            “Kenapa kau balik lagi?” tanya mamak.
            “Kan aku belum pamit sama mamak,” jawab Komang santai.
            Komang memegang tangan mamaknya dan mencium tangannya perlahan. Matanya terpejam mengingat hanya mamak satu-satunya orang tua yang ia punya.
            “Assalamu’alaikum, mak,” ujarnya lembut.
            “Barakallah, anakku. Baik-baik di sekolah ya, jangan bandel,” tutur mamak.
            Komang mengangguk dan berbalik ke halaman depan.
            “Komang!” seru mamak.
            Nama Komang sendiri adalah panggilan sayang dari mamaknya, meskipun nyeleweng dari nama asli Komang sendiri.
            Komang menoleh ke arah mamak.
            “Sini peluk mamak,” mamak membuka lengannya berharap putra sulungnya menghambur ke pelukannya.
            “Mak, Komang kan sudah gede. Kok masih main peluk saja?”
            “Mamak tahu ini keputusan ini berat buat kau, Mang,” ujar mamak. Raut mukanya menjadi sedikit sendu.
            “Mungkin bukan rezeki Komang, mak. Komang bisa sekolah saja, Alhamdulillah,”
            Tanpa basa-basi, mamak memeluk Komang. Ia terharu karena kesatria kecilnya kini sudah dewasa, hanya saja kebiasaan sering ke warnetnya saja yang belum hilang.
            “Mamak bangga sama kamu, Mang,” bisik mamak.
            Komang tak bisa menolak, ia kembali memeluk mamak. Ia membayangkan ketika ia masih kecil dan ia dikelilingi dengan orang-orang yang menyayanginya, termasuk abah.
            “Sudahlah mak, jangan kau menangis lagi,”
            Komang mengusap air mata mamaknya. Mamaknya tersenyum.
            “Kau juga jangan sering-sering meninggalkan mamak. Kasihan adik kau yang selalu mencari abangnya,”
            “Hehe…insyaallah, mak,” Komang nyengir.
            “Cepat sana kau pergi ke sekolah, bisa terlambat nanti,” kata mamak mengantar Komang ke halaman depan.
            Komang segera menaiki sepeda dan menjauh meninggalkan rumahnya.
Sesampainya di sekolah…
            “Muhammad Setya Alfani,” panggil Pak Yono.
            “Ss-sa-saya, pak!” jawab Komang gemetaran sambil menghampiri meja guru.
            “Akhir-akhir ini, nilai kamu turun terus. Ada apa?” tanya Pak Yono.
            “Kebanyakan ke warnet, pak!” sahut Thomas.
            “Kebanyakan stalking facebooknya Puspita, pak!” imbuh yang lain.
            “Hahahahahahaha…,” semua menertawakannya.
            Komang malu, itu nilai ke-10 nya yang mendapatkan nilai di bawah standar untuk semester ini. Terlebih lagi, ia malu pada Puspita, gadis yang didamba-dambakannya.
            “Kamu ini, nilai udah pas-pasan masih sempat-sempatnya ke warnet. Ya udah, ditingkatkan lagi, ya!” tutur Pak Yono dengan tegas.
            “Iya, pak,” suara Komang melemah saat itu juga.
            Sepulang sekolah, Komang masih termangu di kelas. Ia menatap kertas-kertas ulangannya yang bertinta merah tersebut. Tiba-tiba, seseorang membuka pintu kelas dengan perlahan.
            “Kamu ngapain disini?” tanya Putri, teman sekelasnya yang terkejut melihat Komang.
            “Melamun. Kau sendiri?”
            “Buku matematikaku ketinggalan, untung saja kelas belum dikunci sama Bang Somat,” jawab Putri sambil mengambil bukunya di loker.
            Komang hanya terdiam. Ia tak peduli jawaban Putri, yang ia pedulikan sekarang hanyalah ‘bagaimana masa depannya nanti’.
            “Aku duluan,” ujar Putri. Putri tak mau mengusik lamunan Komang karena mereka juga tak terlalu dekat.
            “PUT!” seru Komang.
            Putri menghentikan langkahnya tepat sebelum ia mendorong pintu kelas.
            “Aku mau tanya sesuatu sama kau,”
            Gadis pemalu itu akhirnya memberanikan diri untuk duduk di sampingnya.
            “Mau tanya apa?”
            “Kau tak pernah menyesal sekolah disini?” tanya Komang.
            “Pernah,” jawabnya dingin.
            “Kenapa?”
            “Bukan perkara aku menyesal masuk sekolah ini, tapi menyesal karena masuk di program IPA,” terang Putri.
             “Hah? Kok bisa? Kau kan pandai,” ujar Komang.
            “Dari kecil, aku nggak suka berhitung, Fan. Lebih tepatnya nggak bisa. Nilai UN matematikaku saja 5, apa nggak salah bapak memasukkanku ke program IPA?” Putri tertunduk.
            Komang terdiam, menunggu kelanjutan cerita gadis pendiam itu.
            “Tapi, aku baru sadar kalau bapak melakukan ini agar aku dimudahkan mencari pekerjaan nantinya. Aku sedikit menyesal pernah berargumen dengannya. Kenapa tiba-tiba tanya kayak gitu? Kamu menyesal masuk sekolah ini?”
            “Sejujurnya iya, tapi demi mamak aku tak berkata apapun soal ini. Aku ingin sekali masuk SMK. Nilai rapot oke dan Alhamdulillahnya lagi aku sudah diterima. Tapi, gara-gara mataku ini minus, jadi tak lolos. Padahal, aku ingin sekali menjadi masinis macam abahku,” kata Komang. Ia menundukkan kepalanya, malu.
            “Terus?”
            “Aku jadi tak punya semangat hidup. Aku mulai malas kalau disuruh belajar, tapi tidak ketika dihadapan mamakku. Aku pura-pura belajar agar mamakku tak menanggung beban berat ketika melihatku,” lanjut Komang.
            “Fani, kamu ini laki-laki! Masa’ gitu aja udah keok, malu sama abah kamu. Abah kamu pasti menunggu kamu jadi penerusnya, walaupun nggak 100% harus kayak beliau…,”
            Komang terdiam, mendengarkan dengan seksama.
            “…kamu ini juga abang dari adikmu, kamu panutannya. Kamu nggak bisa bermalas-malasan, kayak orang mati tahu nggak!”
            JDERRR!!! Ucapan Putri menghantam harga dirinya sebagai manusia, utamanya sebagai laki-laki.
            “Orang mati itu udah nggak punya tujuan hidup. Ya karena mereka memang udah mati. Tapi, mereka mengemis sama Tuhan biar bisa kembali ke dunia dan mencapai tujuan hidupnya,” tutur Putri yang sudah seperti bapak-bapak motivator.
            Komang merenungkan kata-kata Putri.
            “Sori, aku nggak bisa lama-lama disini,” Putri beranjak dari kursinya dan berjalan menuju depan pintu.
            “Besok dan seterusnya, aku nggak mau lihat kamu dapat tinta merah lagi. Nggak malu apa sama Puspita? Daaah~,”
            BLAM!
~
5 Tahun Kemudian…
            “Duh, anak kebanggaan mamak sudah pulang,” mamak menyambut Komang yang sudah 2 tahun tak pulang.
            Komang memeluk mamaknya. Erat.
            “Mak, maafin Komang ya. Komang baru bisa jenguk mamak sekarang,” ujar Komang.
            “Tak apalah, Mang. Kau sudah pulang dengan  keadaan membanggakan,” mamak juga balas memeluknya.
            “Maaf juga kalau Komang pernah menyesali keputusan Komang masuk SMA, padahal ridho mamak ada disana. Terima kasih ya mak, sudah mau mendoakan dan berjuang buat Komang,” lanjutnya. Tak terasa, air mata membasahi pipinya.
            “Sudahlah Mang, berterima kasihlah juga dengan orang-orang yang mau mendukung kau. Bukan mamak saja, hehe… Abah kau pasti bangga, nak,” ujar mamak.
            Komang mengangguk.
            “Sudah, sekarang makan dulu. Kau pasti capek habis perjalanan jauh,” kata mamak menghentikan drama telenovela itu.
            “Iya mak, Komang juga sudah lapar. Kangen masakan mamak,”
            Siang itu, mereka memilih untuk berkumpul di ruang tengah untuk bernostalgia kenangan lama. Membicarakan segala sesuatu yang pernah jadi rahasia diantara mereka. Komang tersenyum ketika melihat senyum terlukis di wajah mamaknya. Ia menyadari bahwa tak ada yang lebih berharga selain menghabiskan waktu dengan orang tua sebelum menyesal ketika mereka tiada.
Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA

Entri Populer

Blackjack widgets