Monday, May 30, 2016 | By: Bagus Yulianto

Kita Pasti Tahu! Puisi Kehidupan - Besi Tuangku Tinta

ilustrasi menyindir

Besi Tuangku Tinta

Padangnya melemparkan orang-orang
dengan rumput-rumputnya yang mirip akar bahar
wanita-wanita berbondong-bondong
sempat juga mereka bertandang
Hus...
Kecepatan gerak bibir mereka saat bergunjing
membicarakan suami-suami mereka
membicarakan selingkuhan suami-suami mereka
membicarakan keluarga selingkuhan suami-suami mereka
membicarakan “itu”  suami-suami mereka
itunya tak membuat puas
saking seringnya mereka “begitu”
dengan cara begini dan begitu
Hus...
Klara tengah berlara
terlalu keseringan
acap kali namanya ditulis “Clara”
tak risih dan tak menggoda
joger pants-nya bergunduk-gunduk
di atasnya bongsor dan di bawahnya kecut
kecutnya membuat enggak nahan
membentuk pola bergaris-garis
seperti dipotong oleh pisau dapur
Eh,
Ibu kehilangan piasu dapurnya
dimana, ya?
Adek tengah menonton televisi
karena radio membuatnya tak nampak puas
tak nampak kulit dan mata orang-orang
orang-orang berbadan dua
perutnya buncit, pria dan wanita, atau mereka yang benar-benar berdua
Tunggu,
Sumpah serapah ibu menjadi-jadi
kembang kol tak jadi terpotong-potong
selamat untuk kembang kol, wortel, kangkung, dan minyak goreng
ampas-ampas biji sawit
tak membuat mereka kenyang
Tunggu,
Adek terdiam mendengar ocehan Ibu
wajahnya jernih seperti langit subuh
sudah terbiasa dengan onak dan serapah ibu
Barangkali,
Cacing-cacing di belakang rumah
sudah mati dan tak menumbuhkan pohon palem
palem bambu, palem botol, palem ekor ikan, palem jepang, palem kipas, palem kol, palem kuning, palem manila, palem merah, palem metalik, palem natal, palem paris, palem raja, palem rotan, dan palem wregu
membuat Siti kelaparan
memikirkan Uda Am
Da Am...
“Alah panek awak karajo,
indak ado urang yang mambali do,
alah ma, Da Am,
sampai di siko se la awak lai
sasak dado siti, Da Am.”
Na na na na na
Sopir becak sudah bangkot
masih saja bernyanyi muda
jenggot putih tergantung tua dan kusut
membuat takut para penumpangnya
apalagi bocah laki-laki yang tengah digendong
digendong dan kemudian diletakkan di atas pangguan ibu
bukan ibu yang memotong kol
tapi ibu dengan cadar hitam polos
uangnya minta ditarik
keluar kantong ‘tuk berfoya-foya
dengan rindu dan hatinya
ditinggal suami berkepala dua
Aduhai,
tinta besi tuangku habis


Padang, 23 April 2016, 12.26 WIB

Sumber Gambar:
Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA
Wednesday, May 25, 2016 | By: Bagus Yulianto

Sudahkah Kita Membacanya? Puisi Islami - Al-Quran Namanya

Al-quran

Al-QURAN NAMANYA

Lemahku tak membawa mujur
Bermanfaat dan bermartabat baginya
Selain fasih dan hafal akan maknanya
Setiaku bersama
Melantunkannya kala lara dan gelisah
Cukup kubaca satu atau dua baris
Darinya tumbuh tentram
Tak segan ia mendera dan melemparkan gundah
Lukapun tak lagi bersamaku
Selain makna dan manfaat setiap hari
Liku-likunya hidup
Tak membuatku gentar lagi
Karena bersama adanya
Kitab penyejuk bagi setiap pembaca
Al-quran namanya

Budaya dan adat namanya
Membangun manusia-manusia berbudaya
Dengan tradisi yang mengakar
Tersemai ke dalam lekuk kehidupan
Tak sadarpun ia mendera
Apalagi paham dan mengerti
Maka budaya melahirkan manusia
Tidak

Jika budaya melahirkan manusia
Maka Al-quran melahirkan manusia lemah
Mereka yang sadar akan dunia
Tak merusak dan bertaqwa
Beranak-pinak saling mengingat
Berkata santun dan lemah lembut
Elok dipandang mata
Tak hina didengar telinga
Bermanfaat bagi semua
Tak lain juga pemahamannya
Selain tertuju pada Pencipta

Akarnya akidah
Batangnya agama
Dan buahnya ihsan
Melahirkan manusia-manusia lemah
Tahu adab dan sopan santun
Manusia lemah yang sadar
Mencoba membangun damai dalam kebersamaan
Dari kitab suci mereka itu
Dan Al-quran namanya


Padang, 25 Mei 2016, 14.35

Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA
Tuesday, May 17, 2016 | By: Bagus Yulianto

Dan Kau Menunggunya! Puisi Ibu - Lahirlah Wahai Anakku

ibu-mengandung

Lahirlah Wahai Anakku

Ketika kau berpikir di atas dunia ini
Dimana harapan beterbangan secara acak
Di sudut-sudut rumah gadis kecil yang menunggu hujan
Sinar matahari tak akan menusuk kulitnya halusnya
Karena ia bukan permaisuri-permaisuri di dalam dongeng
Diceritakan ia senang
Ditinggalkan ia merajuk
Lahirlah wahai anakku
Lihatlah dunia yang akan kau tempati

Kubangun bekas rintik-rintik hujan
Mengeluarkan suara-suara yang akan memekakkan telingamu
Darinya akan muncul kegelisahan dan rasa kecut
Membuatmu takut untuk menetap di hatiku, Ibumu
Karena, jika kau terlalu berani
Mungkin kau akan menjadi singa betina
Atau macan jantan barangkali

Anakku, kau akan baik-baik saja hidup disini
Setengah hidupku hanya kuabdikan untukmu
Mengkhawatirkanmu dalam gelak dan tawa
Waktunya untuk belajar cara hidup
Semuanya indah, bukan? Anakku

Lututmu mungkin tak akan sanggup menahan hura-hura
Karena kau akan lahir di dunia yang kadaluarsa
Hikmah yang dulunya ditanam
Sudah mengawang dan menghilang
Mungkin kau akan sulit untuk terbang
Meskipun kau seekor rajawali lengkap dengan bulu sua
Tapi, kau lebih baik menjadi gadis kecilku
Menemaniku kala aku sedang ringkih
Dengan uban-uban ini

Cepatlah lahir wahai anakku
Aku tidak bisa bersembunyi
Dari burung biru yang tengah bernyanyi
Semangatlah dan datang ke rumah dengan riang
Sehatmu membuatku tenang
Bangunlah dan artikan kasih sayangku ini
Wahai anakku!


Bagus Yulianto
Padang, 26 Maret 2016, 19.02 WIB

Sumber Gambar
Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA

Entri Populer

Blackjack widgets