Friday, June 24, 2016 | By: Bagus Yulianto

Siti Merajuk, Puisi Dari Antologi Puisi "Kami Para Penulis" - PNP Menulis

Sebuah Puisi dari Buku Antologi Puisi-Kami Para Penulis, yang merupakan buku pertama dari Komunitas PNP Menulis akan menemani kalian para pembaca puisi. Siti Merajuk mengisyaratkan sebuah perilaku yang sering kita jumpai dalam kehidupan. Apapun itu, sangat menarik untuk digambarkan dipahami oleh orang lain. Begitu pula yang ingin diungkapkan oleh penulis.

Bagi kalian yang ingin membaca bukunya, silahkan dibaca di Pustaka Politeknik Negeri Padang

pnp menulis antologi puisi kami para penulis


Siti Merajuk

Siti merajuk
Siti termenung, lelakinya mencangkung
Lelakinya mencangkung, Sitinya merajuk
Siti merajuk, berbenung dan bukan mencangkung

Wahai ahli aksara!
“Siti merajuk!”
Tolong torehkan kedalam kata-kata sederhana
Mudah dipikir dan dimenungkan oleh kami, para lelaki
Menunggu Siti yang hatinya tergurat duri aur
Beberapa belahannya dikoyak mati,
Gatal-gatal, berlumuran getah Rengas
Lama-kelamaan membusuk dan bernanah
Tak tersentuh oleh air nira yang setiap pagi menetes dari mayang nyiur

Dulu, sifatnya sopan dan santun,
Ramah, tawa yang dibawanya kemana-mana
Tak lupa berbedak dan bergincu merah pekat
Membenamkan temaram berwarna keemasan
Dari celah-celah daun kopi, cahayanya menepi
Menyisakan kehangatan bagi kulit Siti
Dan sekarang, kami para lelaki tak dapat melihatnya
Karena Siti merajuk

(Ia menggeser posisi tidurnya dan dari katilnya yang rapuh keluarlah bunyi nyaring ketika ia menggeliat)

Aku Siti
Mereka bilang aku merajuk
“Siti resah ditinggal Mahmudin; Siti sedih dicongkak Abidin; Siti duka dimadu Syarifuddin; Siti malang ditinggal mati Haji Tamrin; dan Siti merajuk dicumbu rama-rama!”
Barangkali malam tak sempat singgah kerumah mereka
Para lelaki diluar sana
Dan menelan semua keluh dan kesah mereka
Apalagi menelan semua kekosongan yang rintik-rintik turunkan
Cukup hujan dan laut dalam
Yang membuatku hampa dan gelisah

Kalian tak usah risau dan canggung  
Karena sedihku, tak sanggup membuat lelakiku tetap disampingku
Dan aku adalah Siti

(Selimut kembali ia tarik keatas, sampai menyentuh dadanya yang sesak dan membuatnya melupakan semua gambaran-gambaran tentang gadis itu)

Aku lelaki yang tak disamping Siti
Bukannya tak mau, tapi aku memang tak mampu
Tak sanggup menorehkan satu atau dua kalimat
Di atas batu nisan yang tertancap di tanah merah basah
Memilukan hatiku ini
Karena aku yang membuat Siti merajuk
Bermenung dan bukannya mencangkung
Selamat jalan Siti


Bagus Yulianto
Padang, 11 Maret 2016, 17.03 WIB
Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA
Monday, June 13, 2016 | By: Bagus Yulianto

Mengenal Minangkabau, Sebuah Puisi Tentang Minangkabau - Tentang Kami Minangkabau


Tentang Kami Minangkabau

Jika kau bertanya kepada kami
Tentang apa itu Minangkabau
Kontan saja dada kami membusung
Senyum lebar terpacak lepas
Dengan mata berbinar barangkalai
Kami akan menjawab

“Negeri subur nan berbudaya
Hutan-hutan berjejer di bukit barisan
Ladang-ladang tersusun rapi di kiri kanan
Yang subur digarap halus
Yang tandus dipupuk bergotong royong
Tak ada yang tidak makan
Orang tua rentan, janda beranak dua
Orang tak waras ditinggal keluarga
Orang asing krhilangan tanah
Semuanya disuguhkan oleh alam yang terkembang
Dengan buah pisang yang di daunnya hinggap embun pagi
Kayu manis yang tumbuh di belakang rangkiang
Berjejer satu-satu
Rusa-rusa merumput di padang luas
Ikan-ikan menyelam dalam di sungai kampar
Karena mereka dan kami hidup rukun berdampingan
Dan tak takut dengan teriknya matahari
Yang tak memanaskan kami sama sekali
Apalagi mengernyit kening sambil merembeskan keringan kuning
Karena alam kami rindang
Bukit-bukit meliuk-liuk dari ujung ke pangkal
Darinya tumbuh jelatung, getah, kopi, sawit dan kemakmuran
Melahirkan kaum yang beradat.”

Jika penasaranmu masih belum lepas
Kami akan menjawab dengan suka cita

“Adat kami dirantai kehidupan
Perilaku sehari-hari yang dituliskan di atas lontar
Dengan batang padi sebagai penanya
Air kelapa sebagai tintanya
Campuran ubi ungu atau kunyit
Semuanya tersusun dalam adat
Adat yang sebenarnya adat
Panas tak akan membuatnya lekang
Hujan tak akan membuatnya lapuk
Apalagi modernisasi yang menjadi-jadi
Globalisasi yang mengeruk mata
Tak akan membungkus aturan-aturan dan nilai-nlai
Menjadi surat cinta yang ditancapkan diats sabut kelapa
Kemudian dihanyutkan di sungai yang deras
Yang tak tahu siapa pengirimnya
Karena sudah jelas, adat kami Minangkabau!:

Jika kau bertanya lagi

“Kami tak pernah bersengketa
Bunuh-bunuhan menarik minat mertua
Apalagi memperebutkan sawah dan ladang
Yang sudah digarap dari tahun ke tahun
Semuanya tak pernah kami alami
Karena kami beranak pinak saling tolong menolong
Menumbuhkan tenteram di tengah-tengah keluarga
Dengan pertikaian yang dibincangkan
Perkelahian yang dimusyawarahkan
Pertentangan yang dirundingkan
Dan goresan kasar menjadi kaluak paku
Hitam legam menjadi putih suci
Sakit berkepanjangan menjadi sehat yang ditularkan
Semuanya dipikul, dijinjing dan dimakan oleh kami
Kami yang hidup di tanah itu, Minangkabau!”


Bagus Yulianto
Tanjung Gadang, 24 Februari 2016, 17.04 WIB

Sumber Gambar:

Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA

Entri Populer

Blackjack widgets