Sunday, July 24, 2016 | By: Bagus Yulianto

Terpendam, Puisi Dari Antologi Puisi "Kami Para Penulis" - PNP Menulis



Sebuah Puisi dari Buku Antologi Puisi-Kami Para Penulis, yang merupakan buku pertama dari Komunitas PNP Menulis akan menemani kalian para pembaca puisi. Terpendam, merupakan salah satu puisi dari dalam buku ini yang di tulis oleh Fitri Vonanda. Mengungkapkan kedalaman perasaan dari sang penulis yang diungkapkan secara implisit sangat asyik untuk dibaca dan diketahui.

Bagi kalian yang ingin membaca bukunya, silahkan dibaca di Pustaka Politeknik Negeri Padang








TERPENDAM

Hati yang kelam dan bayangan yang slalu menutupinya
Takkan berguna..
Bersembunyi di balik kata “ aku baik-baik saja” melelahkan
Mata berbicara kawan... sekalipun kau diam....
Tertawa.. huh.. dimataku tetap kau bersedih...
Apa salahnya mengamuk..?
Apa salahnya jujur...?
Apa salahnya terlarut dalam kesedihan..?
Apa salahnya diam.?
Apa salahnya ....
Tidakkah kau ingin jawaban..?
Tidakkah kau ingin terlepas..? bebas..?
Takkan ada kebebasan sebelum kau membebaskan jiwamu..
Takkan ada cahaya sebelum kau melihat matahari..
Takkan ada matahari sebelum kau terbangun dari tidurmu....
Bangunlah... bawa mataharimu... agar hati yang kelam itu bercahaya..
Agar banyangan yang menutupimu hilang tanpa bekas....

Fitri Vonanda







Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA

Chapter 3 Cerbung "Setengah" Karya M Nazwar Ali S



Cerbung Setengah

Setengah
Chapter 3

Sudah lama sejak hari itu, seperti semua sudah terbiasa dengan tubuh tanpa kekuatan ini. Tapi aku memiliki banyak teman dan berharap memilik banyak teman lagi, aku hanya ingin dikeramaian dan melihat senyum-senyum bahagia mereka sehingga memaksa ku untuk tersenyum juga. Bukankah pasir digurun tidak akan terbawa badai sendiri ? prinsip ini akan terus aku gunakan, aku tak ingin menderita sendirian walaupun hanya aku yang merasakannya ditengah keramaian yang diinginkan.

Begitu terik hari ini, malas rasanya berjalan pulang kerumah. Mencoba mencari tumpangan dan sama seperti manusia lain, tentu saja aku mencari yang gratisan. Yakin takkan ada yang mau yang memberi tumpangan, “Ah sudahlah lanjut jalan ajalah,” mendesah malas. Mungkin kalau jalan pulang nantik dirumah mintak uang sama ayah buat es dikasih, aku sampai nyengir-nyengir sendiri memikirkan bagaimana cara minta uangnya sama ayah.

Belum lama aku berjalan ditengah teriknya matahari cuaca langsung berubah gelap, sungguh aneh. “kalau seperti ini aku harus menambah kecepatan kayaknya.” Bukan berlari bukan pula berjalan itulah yang aneh dari apa yang aku lakukan. 

“rasanya kok udah berjalan jauh sekali ya.” Cepatku tak dapat mengelakkan hujan, hanya ada dua pilihan, memilih pulang basah atau pulang lama. Aku memilih pulang lama dan mencari tempat perteduhan. Hanya aku sendiri yang berteduh disana dan tak ramai pula orang yang lewat karena lingkungan ini sudah tidak terlalu jauh dengan rumah milik orang tuaku, dilingkungan ini memang agak sepi tapi warga yang menempatinya cukup ramah. Ditepi jalan aku melihat seseorang yang memakai seragam yang sama denganku dengan membawa kucing didepannya yang dia tutupi dengan jilbab penutup kepalanya. Dia datang menghampiriku lebih tepatnya menghampiri perteduhanku, dia tersenyum.

“maaf mengganggu, aku takut kucing ini basah,” dengan senyum basah wajahnya.

“itu kucing kok dibawa-bawa ? trus bawanya pake seragam pula lagi kan kotor.”

“kasian kucingnya, tapi aku nemuin dia kehujanan sendiri trus kucingnya masih kecil lagi. Lebih baik dirawatkan ? kalau kotor kan nantik bisa dicuci,” dia masih menjawab dengan senyum.

Dia cantik dengan senyumnya dan aku tidak mau dia senyum terus menerus seperti itu. Aku memalingkan wajah kesamping “serius dia cantik, tapi jangan senyum terus dong,” aku menggerutu sendiri.

“kamu suka kucing ?,” mencoba meneruskan topik.

“ini kucing kedua kalau aku bawa ini kerumah, dirumah sudah ada satu kok dan sudah besar juga. Kalau soal kucing aku gak terlalu suka hanya saja kasian melihatnya hidup tak terawatt. Kedua kucing yang kupunya aku dapat dari jalan alias kucing jalanan.” Dia tak senyum lagi.

Setelah dia menjawab tanpa senyum entah kenapa aku agak merasa sedikit kecewa, langsung aku juga ikut muram. “Kalau kayak gini bagus dia senyum aja deh,” kembali aku menggerutu sendiri. Entah dia melihatku menggerutu entah tidak, tapi pasti dia akan mengira aku anak aneh yang pertama dia temui karena gerutuanku.

“oh perhatiannya. Aku juga punya kucing dirumah dan hanya ada satu, aku punya kucing selalu yang jantannya karena takut kalau melihara yang betina ntar dia punya anak banyak dan aku gak bisa ngurusnya. Tapi asik gak punya kucing?”

“kalau perempuan tentu harus punya perhatian lebih kan?.  iya juga sih kalau punya banyak kucing ntar mereka malah terlantar tapi punya banyak kucing asik kok jadi punya banyak teman main, bukankah kucing asik kalau diajakin teman mainkan.?”

“haruslah, perempuan memang harus perhatian. Kalau dirumah orang tuaku kucing tu tugas utamnya sebagai hunternya tikus sih tapi kadang-kadang dia juga lucu kalau diajak main,” aku menjawab dengan tertawa kecil.

Dia juga ikutan tertawa, tapi dia tertawanya lama. Mungkin lucuanku memang lucu sampai dia tertawanya lama. Melihat dia tertawa aku hanya tersenyum untuk meunnggu dia bicara lagi, tapi sayangnya dia malah makin tertawa dan buat aku jadi ilfill. Aku bertanya lagi “kok ketawa terus ? jadi merasa aneh akunya.”

“habisnya kamu lucu, cara kamu bilang kalau kucing tu sebagai hunternya tikus trus kamu bilang rumah orang tua kamu, itu yang bikin aku ketawa. Tapi bener juga sih kalau kita seumuruan kayak gini pasti rumah milik orang tualah kan ?hahaha,” dia menjawab masih dengan tawanya.

Bukannya hanya senyumnya yang membuatnya cantik tapi tawanya juga, aku hanya kembali tersenyum melihatnya. Dia berkata “kalau gitu kamu tinggal dirumah aku aja, aku udah punya rumah biar kamu gak jadi penumpang dirumah orang tua kamu.”

Serentak aku terkejut “maaf deh aku belum siap kamu lamar, umur seginipun kamu udah sanggup lamar ya, trus cewek lamar cowok lagi. Tapi serius kamu udah punya rumah?”

“hahaha gak apalah kan harus dicari dari seumuran kayak gini. Serius aku udah punya rumah,’’ dia menjawab dengan terlihat serius.

“wah keren, dapat duit darimana bangun rumah,” aku hanya pura-pura terkejut karena tak percaya.

“duitnya gak pake duit aku, aku diberi hadiah ulang tahun sama orang tua aku waktu umur 15 tahun kemaren. Jujur aku gak juga gak percaya tapi inilah kenyataannya.”

Aku mulai percaya apa yang dia katakana karena dia menunjukkan beberapa foto di HP nya waktu ulang tahunnya tersebut dan aku baru sadar kalau dia orang kaya karena udah punya rumah walaupun masih siswa.
“tapi rumahnya dimana? kamu tinggal dilingkungan sini?.”

“rumahnya bukan disini dan aku juga bukan tinggal didaerah ini. Aku berasal dari tempat yang jauh dari sini, aku baru sampai tadi untuk mengunjungi nenek disini.”

“trus kok pake seragam sekolah? Trus kucing yang kamu ceritain gak dapat dari daerah sini?,” aku masih heran.

“iya soalnya langsung kesini siap sekolah karena orang tua aku mendesak gitu. Kucing yang ada dirumahku bukan dari daerah sini tapi kucing yang sedang kugendong ini pastinya dari daerah sini,” dia berbicara serius sambil melihat kucing yang dia pegang.

“ooh jadi kamu orang asing disini ya, pantesan kamu cantik,” frontal aku katakan.

“iya orang asing hehe. Kamu bilang aku cantik tapi tadi aku ajakin serumah kamu gak mau, cowok emang sering bohong deh.”

“aku bukan bohonglah emang aku gak mau, kita ni masih mudalah haduuh.” Aku agak menjawab dengan cemberut sedikit.

“iya aku becanda kok, jangan jawabnya kayak gitulah. Oh iya dari tadi ngobrol kok formal kali ya pake aku kamu gitu,” dia tertawa seperti mengajakku tertawa juga.

“nama aku nazwar dan tinggal disektiar lingkungan sini, aku masih siswa juga seperti kamu.”

“oke, nama aku suci dan terserah nazwar mau memanggil dengan panggilan apa.”

“sip deh, suci sepertinya hujan gak deras kali lah nazwar pulang ya. Yok barengan ?”

“oke suci juga, bye nazwar kita pulang beda arah.”

Dia melambaikan tangannya kepadaku sambil berbalik badan melihat kepadaku. Dia tersenyum dan sangat tersenyum hingga tanpa sadar aku juga membalas senyumannya. Dia berjalan perlahan aku berlari perlahan dan terdengar “nazwar besok aku sudah tak disini lagi soalnya besok aku balik, senang bisa mengenalmu,” mengatakannya kuat.

Aku lantas terhenti “balik kemana?,” suaraku lebih kuat mengatakannya.

“kerumahku yang jauh dari sini.”

Dia mengakhirinya dengan senyum yang terakhir aku lihat darinya “senang bisa mengenalmu juag.”

Ada satu hal yang mengganggu pikiranku, rumahnya yang jauh itu dimana dan kenapa dia pulang kearah dimana dia datang? Kenapa dia datang dan pulang kearah yang sama? Ini hari ini dengan terik yang berubah hujan dan membuatku kenal dengan seorang suci dalam perkenalan singkat. Sejak saat itu aku tak pernah melihat suci lagi.

Aku pulang kerumah dengan baju yang lembab karena hujan “Ayah aku pulang.”

Aku langsung masuk kekamar dan ganti baju, langsung kutemui ayah yang sedang duduk diteras depan. “yah, kasih nazwar duit yah buat beli eskrim,” dengan manjanya aku meminta dan padahal sudah siswa aku sekarang.

“jangan beli eskrim sekarang, tadi ayah liat kamu pulang panas-panasan dari sekolah dan terkena hujan ditengah jalan. Kalau makan eskrim sekarang ntar sakit, jadi gak uang buat beli es ya.”

“nah ayah kok gak bawa aku pulang naik motor juga?”

“ayah sengaja biar kamu olahraga, dirumah kerjaan kamu cuman tidur sambil nonton TV. Itu aha terus gak pernah yang lain makanya ayah gak ajak kamu,” ayah menjawabnya senyum.

“yahhhh ayah, kalo gitu kasih uangnya ya yah? Ya ya ya?.”

“ayah gak ada uang buat beli eskrim.”

Karena usaha manja ku gagal akhirnya aku menyerah untuk meminta uang kepada ayah. Seperti yang ayahku tadi  katakana aku lalu melakukan kebiasan setiap hariku dirumah.

Sekolah hari ini tak begitu berat karena lagi aku terus memikirkan pulang jalan kaki dengan terik matahri yang setia menemaniku. Lelah berjalan pulang sekolah ini rasanya lebih melelahkan dari bekerja seharian, aku selalu mensugesti otakku dengan pemikiran seperti itu dan mungkin memang karena sugesti itulah yang membuatku menjadi pemalas berolahraga. Diperjalanan pulang aku selalu memikirkan apakah hari ini aka nada orang baru yang akan aku temui dan akan menjadi kenalanku seperti yang hari dimana aku mengenal suci.

Baru sebentar aku berjalan Isa datang menyapa dari belakang dan menghampiriku “nazwar tungguin, jalan bareng ya.”

“asssst panggil kakak aku bilang, aku lebih tua dari kamu.”

“iya kakak nazwar,” isa menjawab dengan lembutnya.

Jarang sekarali Isa pulang berjalan kaki, karena setiap harinya isa selalu diantar jemput oleh supir ayahnya. Isa masih seperti biasanya orang yang periang dan merubahku untuk menjadi periang juga walau aku masih memikirkan bagaimana hari ibuku pergi. Tapi karena isa selalu memberiku rasa riangnya dan sekarang aku harus mengikuti rasa riang itu sendiri.

Isa pun telah jarang membahas tentang ici karena dia juga merasa bersalah kepadaku, dia merasa dialah yang membuatku mendapat penyesalan seumur hidupku. Memang sudah lama aku tak melihat ici dan tak membahas ici dengan siapapun. Aku tau ici masih mengingatku dan pasti ici mau bertemu denganku, tapi entah kapan waktunya itu.

“isa ikut kerumah nazwar ya, nantik antarin isa pulang pake motor.”

“iya iya mampir aja dulu kerumah, tapi ntar bayar ongkosnya ya.”

“oke pak ojek,” dia menertawaiku.

“asem -,-’’

Dalam perjalanan kerumah aku jadi lupa tentang sugesti panas yang aku buat karena isa yang selalu mengajakku berbicara dan membuatku kesal. “ayah aku pulang.”

Isa pun masuk kerumah “ayahnya nazwar isa pulang.” Dia tersenyum seperti biasa.

Isa memang memanggil ayahku dengan sebutan ayah nazwar dan ayah pun selalu senyum mendengar isa mengatakan itu dan kadang tertawa. Isa sudah sangat dekat dengan ayah karena dia sering bermain kerumah untuk mengajakku bernain keluar. Anehnya akulah yang selalu dihampiri isa kerumah dan satu kalipun belum pernah aku menghampiri isa kerumahnya untuk mengajaknya bermain.

Aku lalu membuka kulkas ternyata didalam sudah ada eskrim, ayah pasti membelinya tadi. Walaupun kemaren tidak dapat tapi sekarang tanpa memintapun ayah sudah belikan, memang benar ayah tidak pernah melarangku melakukan apapun hanya saja aku selalu mengadu kepada ayah tentang segala hal yang aku lakukan dan ayah selalu memberiku nasihat. Aku harus berusaha lebih keras lagi agar bisa mendatangkan senyuman diwajah ayah.

Aku memakan eskrim lalu duduk disamping tanpa mengatakan apapun, dan tampaknya isa mulai merespon “ayah nazwar, nazwarnya gak mau bagi isa es,” dia berteriak.

“buset, ini ini ambillah. Ampun deh ya sama anak ni, udah dibilang panggil kakak masih aja panggil nama ntar kualat lo.”

“terima kasih kakak nazwar,” jawab isa lembut.

Tidak berapa lama isa dirumah aku langsung mengantarkan isa pulang kerumahnya yang 10 menit perjalanan dari rumah. Dia mengajakku mampir kerumahnya tapi aku selalu merasa malu untuk masuk kerumahnya, entah kenapa aku selalu seperti itu kepada isa. Tapi isa tak pernah marah ataupun terlihat kecewa atas seringnya kutolak ajakan isa.

“ayah besokkan libur, nazwar besok bawa motor mau ajak isa main yah. Boleh yah?”

“iya boleh asal mainnya jangan ketempat sepi ya.”

Malam ini hujan deras disertai angin yang kencang, aku sengaja kekamar atas karena lebih bisa mendengar benturan air hujan diatas atap. Ini hal yang sering kulakukan untuk mengatasi rasa suntuk. Aku rasa dengan selalu mendengarkan sesuatu yang bising bisa menghabiskan semua rasa kosong yang aku miliki.

Paginya dingin bukan main, aku langsung bersiap untuk mengajak isa pergi main dan ini akan menjadi pertama kalinya aku mengajak isa dan menjemputnya kerumah. Anak laki-laki tak butuh waktu lama untuk bersiap-siap, aku pamit pada ayah dan langusng pergi kerumah isa.

Aku bunyikan bel “assalamualikum om…”

Kalau aku kerumah isa aku pasti mencari orang tuanya isa terlebih dahulu, takut dikira gak sopan main masuk aja tanpa sepengetahuan pemilik tumah walaupun aku temn anaknya.
Pintu terbuka “oh nazwar, masuk nak. Cari isa ya? Isanya belum bangun soalnya tadi malam dia gak bisa tidur katanya. Biar om bangunin isa dulu,” jawab papanya isa dengan ramah.

“iya om, maaf repotin.”

Aku sering kerumah isa seperti isa sering kerumah aku, tapi aku agak malu malu dirumah isa mungkin karena rumahnya memang besar atau karena segan ada orang tuanya. Mungkin dua-duanya. Yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya itu ialah datang kerumah isa dan mengajaknya bermain belum pernah aku lakukan. Sama sepertinya isa dirumah orang tuaku dia terbiasa dengan segala sesuatu disana dan begitu juga yang selalu merasa terbiasa dengan segala hal dirumah isa.

Papa isa lewat “duduk dulu nak, isa baru bangun tuh. Remot Tv ada dibawah meja ya.”

“iya om, makasih.”

Dihari liburpun papa isa masih tetap sibuk sepertinya dan pergi kekantor untuk bekerja. Papa isa adalah orang pebisnis yang terkenal dilingkungannya. Sayangnya dilingkungan isa tak seramah lingkungan sekitar rumahku. Tetangga isa pernah memarahiku karena waktu aku datang kerumah isa aku teriak-teriak memanggil papanya isa sering kali. Bukan hanya itu saja beberapa blok setelah rumah isa aku pernah temui kakak beradik yang sedang berkelahi dan saat aku melihat kearahnya dia malah melotot lalu “apa liat-liat? Mau juga kayak gini?” dia menunjukkan wajah adiknya yang sudah lembam akibat dipukuli. Tentu saja aku tidak mau seperti itu dan lari. Seperti itulah lingkungan sekitar rumah isa yang aku tau.

“nazwar tumben pagi kesini?” Suara isa lesu berserak.

“pergi main yok, sana mandi dulu. Udah lama ni nazwar nungguin.”

Tanpa pikir panjang nampaknya isa semangat untuk pergi main dan langsung pergi kekamarnya lagi da berteriak “tungguin agak lama ya, jangan kemana-mana dulu,” isa mulai blak-blakan.

Menunggu cewek berdandan itu rasa menuua ditempat duduk, tapi ditempat isa banyak hiburannya jadi bagiku menunggu dirumah isa bagaikan bermain digudang bermain. Aku memakan kue yang ada dimeja depanku dan menonton TV. “nak mau minum apa biar mama buatin,” mama isa datang dengan senyum.

Mama isa adalah orang yang sangat ramah dan bahkan mama isa menganggap aku seperti anaknya sendiri. Hal inilah yang membuat aku malu kerumah isa, seharusnya aku senang tapi aneh dengan diriku yang malu dengan kondisi seperti ini.

“gak usah repot-repot ma, nantik kalau nazwar haus biar nazwar ambil aja kedapur ma.”

“iyalah nak, kalau mau sesuatu liat aja dikulkas ya.”

“oke ma, jangan terkejut kalau nantik isi kulkasnya habis ya ma,” aku tertawa.

“iya nak gak apa asal jangan habisin kulkasnya juga,” mama isa juga bermaksud melucu tapi lucuan ini tidaklah lucu lagi. Hahaha

Bener yang dibilang isa, dia minta tungguin agak lama dan itu jadi kenyataan sekarang. Dirumah isa tidak ada hewan piaraan seperti kucing, kelinci atau hewan berbulu lainnya karena isa alergi terhadap hal itu. Yang ada hanyalah box yang didalamnya ada 3 ekor semut ditutupi tanah. Semut inilah piaraannya isa yang selalu dia sirami dan kasih makan setiap hari.

“yok kakak nazwar kita main,” isa sok imut.

“gak usah panggil kakak kalau kamu kayak gitu.”

“kakak nazwar pemalu ya ternyata,” isa mulai lebay lagi.

“ah sudah yok berangkat.”

“mama isa pamit ya pergi main sama nazwar,” teriak isa dari ruang depan dan aku pun melakukan hal yang sama.

Kami pergi agak menjelang kesiang karena lamanya menunggu isa, kami pergi ketaman bermain dan berbagai tempat yang ada festifalnya. Sepertinya isa senang dengan hal ini dan aku juga tak perlu khawatir untuk memikirkan hal yang akan membuatnya senang. Sudah banyak tempat keramaian yang kami kunjungi seperti yang ayah katakan, aku sudah tidak punya tenaga lagi dan lesu. Berbeda dengan isa yang masih semangat keliatannya. Aku mengajak isa pulang “isa pulang lagi yuk, udah capek trus udah sore pun.”

“apalah ganggu orang lagi senang aja, yoklah pulang huh,” sepertinya dia ngambok.

“kita pulang kerumah nazwar dulu ya, ntar diantar naik sepeda biar romantic,” aku berusaha melucu.

“kamu gak ada romantisnya dikitpun.”

Akupun terdiam dan melanjutkan perjalanan pulang, sore terlewati oleh perjalan pulang kami dan malam menunggu kami dirumah.

“ayah nazwar pulang, nazwar ambil sepeda buat antar isa ya yah.”

“iya hati-hati,” ayah menjawab dari kamarnya.

Isa tak mengatakan apapun seperti ini adalah masalah yang serius, akupun mulai kehilangan akal untuk membuat isa riang lagi. Isa naik dibagian belakang sepeda dan hal lucunya isa tidak bisa naik sepeda. Aku mencoba menghibur isa dengan berbagai lucuan tapi tak berdaya melawan isa yang sedang bermata tajam.
“isa kalau jadi pacar nazwar mau?,” bermaksud bercanda.

“serius nih serius?,” isa bertanya-tanya dengan cepat. Nampaknya isa menganggap ini serius matilah aku yang bermaksud bercanda. Aku terhenti sebentar, melihat terus kedepan tanpa kedipan. Benar itu adalah ici yang lewat. Aku turun dari sepeda dan meninggalkan isa.

“nazwar mau kemana?”

“tunggu aja disitu.”

“ini udah turun hujan cepetan,” teriak isa.

Hujan mulai turun dan aku meninggalkan isa yang tak bisa bersepada, aku mengejar ici dan mendapatinya.
“ici, kamu benar ici ternyata.”

“(terdiam)..”

“kemana aja, kok ngilang kayak anak hilang aja. Gak mau temenan lagi sama aku kah?” dengan sesak aku mengataknnya.

“kamu adalah nazwar. Nazwar adalah orang bodoh pertama yang aku jumpai dan bisa aku manfaatkan.”

“...apa yang kamu katakana?”

Aku langsung mencerna apa yang ici katakan, dan aku masih belum menemui maksudnya. Tapi dari apa yang pernah isa katakan padaku sepertinya sekarang aku sudah tau dan aku sudah mengerti. Inilah ici yang sebenarnya.

“tapi nazwar, aku ingin berada disampingmu lagi menemanimu tertawa,” ici berbicara lembut.

Aku benar-benar marah dengan kenyataan ini atas apa yang ici perbuat dan katakana padaku, tanganku gemetaran dan gigiku menggeretak. Tak tau apa yang mau aku katakana, seluruh emosiku tertelan kemarahan perkataan ici.

“berhenti ada disini, pergi sana. Aku menyesal mengenalmu aku tidak akan mengenalmu lagi. Pergi dari sini tak usah melihatku lagi tak usah datang kesini lagi.”

Aku berteriak kepada ici “pergi dari sini, kamu adalah orang jahat. Aku tidak pernah mengenalmu dan tidak akan pernah. Pergi dari hadapanku.” Suaraku kuat.

Aku menundukkan kepalaku “pergi dari sini, pergini dari sini. Enyahlah dari hadapanku, kamu adalah orang jahat, aku tak pernah mengenalmu.”

“pergi dari siniiiii….” Ini adalah teriakanku yang paling kuat.

Air mataku langsung keluar, nafasku sesak rasanya. Aku masih menundukkan kepala dan berkata dengan kuat “enyahlah, aku tak akan mengenalmu lagi. Lebih baik mati saja, kamu telah mengahncurkan masaku yang tak akan aku dapati sekarang.”ini adalah kata yang paling kasar seumur hidup keluar dari mulutku.

Isa ternyata berada dibelakangku, dia sudah basah kuyup karena hujan. Isa terlihat heran dan melihat lama kearahku, nampaknya dia terkejut mendengar kata-kataku. “nazwar bicara sama siapa? Itu tadi apa yang nazwar bilang?.”

Aku mengangkat kepala ku, ici sudah tidak didepanku lagi. Isa memegang bahuku, aku masih terlahap emosi dan menghempaskan tangan isa.

“nazwar kenapa?,” isa ketakutan, suaranya gemetaran.

“(diam)..”

“tadi nazwar udah buat isa senang, sekarang kok nazwar gini?.”

Dalam emosiku “berhentilah bicara, aku muak mendengar suaramu aku juga membencimu dan semua yang aku katakan adalah bohong. Pergi sana, pulang sana.”

Aku tersadar akan apa yang aku katakana kepada isa, aku juga gemetaran. Aku merasa bersalah seketika. Isa menangis dan berjalan pulang kearah rumah. Hujan semakin lebat, aku gemetaran. Tak tau apa yang harus aku lakukakn, emosiku membuatku hilang kendali. Aku merasa bersalah tapi aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Isa semakin jauh berjalan, aku berlari menuju sepeda dan mengayuh mengejar isa. Pandanganku terhalang air hujan, cahaya terang dengan cepat mendatangiku dan semakin melesat datang dan sekarang tepat didepanku. “itu mobil……”

Aku merasa diriku terlempar, aku tak dapat melihat apapun. Aku merasa ada sesuatu yang mengambil ingatanku. Suara bergema “nazwar…nazwar…nazwar.”

Itu suara teriakan seseorang “apakah itu isa?,” tapi aku tak dapat melihat apapun. Aku mendengar sesorang menangis. Lalu aku teringat apa yang isa katakana padaku tentang ici.

“ici adalah orang jahat nazwar dan nazwar adalah orang baik, ici memanfaatin nazwar. Karena itu ici tak peduli tentang nazwar sekarang, dia membiarkan nazwar melakukan hal jahat demi dia karena nazwar orang yang baik. Dia bukan orang baik nazwar dan dia bukan dari lingkungan yang baik juga. Papa isa juga korban dari keluarganya ici juga. Percaya sama isa,” itu yang isa katakana padaku dihari aku marah-marah kepada ibu.

Entah kenapa itu yang aku ingat, aku tak dapat melihat sesuatu mengambil ingatan dari ku dan aku tak mengetahui apa-apa lagi. Aku serasa tak sadarkan diri.

Beberapa lama aku tak sadar, aku terkejut dan hanya hitam yang disekelilingku. Aku mengingat apa yang terjadi padaku terakhir kali, kepalaku pusing. Aku coba membuka mata dan aku melihat ayah. Aku sudah terbaring dikursi ruang tamu dengan Tv menyala. Ayah melihat kepadaku “nazwar mimpi ya nak?”

“iya yah, nazwar mimpi.”

…END…


 Baca Juga
Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA

Entri Populer

Blackjack widgets