Thursday, August 25, 2016 | By: Bagus Yulianto

Cerpen Rahasia Hati, Tak Ada Yang Berubah



Salam sastra semuanya. Kali ini saya akan membagikan salah satu cerpen saya yang ada di buku "Rahasia Hati" terbitan Kekata Publisher. Sebuah cerpen yang bertemakan rahasia hati ini, penulis coba ungkapkan melalui perasaan terpendam yang dimiliki sang tokoh. Perasaan yang begitu dalam sampaitak seorangpun layak mengetahuinya.

Tak Ada Yang Berubah

I
Bagaimana aku menemukan jalan masuk yang tersembunyi, jika disini lebih gelap dari pada dibaliknya? Kubiarkan semuanya berlalu begitu saja. Tanpa ada yang kudapat dan tertempa dengan segala kesempatan yang ada. Baik langit yang ingin mencurahkan segala isinya untuk dapat kubagi dengan orang-orang sekitar. Bumi yang menyemburkan semburat hitam agar orang-orang yang menampikku tak lagi mengenal kebaikan. Semuanya terasa tak berpijak saat sudah menyentuh hatiku yang kelam dan terlelap dengan semuanya. Hanya karena mengenang setiap jengkal sentuhan wanita yang selama ini memberikanku drama usang yang saat ini sudah tak laku dipasaran.
Biarlah kenangan ini merantaiku. Toh, aku juga menikmati kesendirian ini. Terkadang, bukan terkadang, tapi selalu. Ya, aku selalu risih dengan keramaian yang ada. Lelah dengan senyuman yang muncul di peron dengan gemuruh kereta api yang menderu-deru dan mengalahkan suaraku yang memanggil namamu yang hanya terdiri dari dua kata. Di etalase-etalase pinggir jalan yang memajang gambar-gambar yang mengingatkanku akan sosok dan perawakan lembut dirimu. Gelang kaki menghirukkan ingatanku tentang kau yang menerimanya dengan senyum lebar. Kau memakai gelang itu keesokannya, padahal aku membelinya asal-asalan dari anak kecil yang kebetulan menawarkannya di dekat stasiun depan rumahmu. Novel romantis yang kau paksa aku membelinya. Tapi atas usaha senyum manismu yang membuat tubuhku seakan dililit kebanggaan memiliki dirimu, membuatku membeli novel romantis yang aku sendiri tidak hafal bentuk sampulnya. Tapi, tahukah kau. Diam-diam aku membaca novel yang membuat dirimu terharu akan kisahnya. Aneh, membuat diriku ini juga menitikkan air mata saat membacanya juga. Ternyata asik juga membaca novel romantis yang memberikannku emosi tentang masa-masa remaja yang kita habiskan percuma, bukan? Sampai kepada warung bakso pinggir jalan dengan kepulan asap tipis yang sedikit membuat diriku ini mengingat bibirmu yang memerah kepanasan akan kuahnya. Haruskah aku singgah disana agar aku kembali melihat semua itu?

II
“Bagaimana menurutmu tentang langit senja hari ini. Sudah satu semester kita memandang langit yang sama, bukan? Tapi, baru kali ini aku merasakan bahwa kali ini berbeda. Terlihat lebih tentram.” Kata gadis muda yang menyandang tas sekolahnya itu.
“Ya. Langit tetaplah langit. Itu tergantung suasana hati kita yang memandang.” Jawab Hariz singkat.
“Benar. Dan aku salah satu wanita yang memandangnya dengan hati bahagia.”
“Bahagia akan sesuatu?”
“Bukan sesuatu, tapi seseorang.”
“Oh!” Hariz enggan untuk menanyakannya lebih lanjut. “Biarlah dia bahagia dengan dunianya. Aku tidak memiliki hak untuk mencampurinya. ‘Bahagia,’ kata yang sudah lama tidak menyinggahi sanubariku. Karena masih ada gadis lain yang harus kutunggu. Gadis yang selama ini menarik kebahagiaan agar tetap disampinggu. Ya, itu.
“Hariz, kenapa kau baik selama ini kepadaku?” tanya gadis muda itu. Dengan rambut lurusnya yang tergerai menarik taram di penghujung tahun, mengisyaratkan harapan yang terpancar dari matanya. Tatapan yang menginginkan seseorang begitu dalamnya.
“Memangnya ada yang aneh dengan itu?
“Ya!”
“Teman memang harus saling membantu, bukan?” jawab pria itu yang hatinya sudah sedingin abu ditungku perapian.
“Oh iya.” Kenestapaan tiba-tiba singgah dihatinya saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut pria itu. “Aku cuma seorang teman.” Gadis muda itu berpalis.
“Ya, teman!” jawab pria itu menerawang sambil membayangkan wajah gadis yang selama ini ia tunggu. “Mungkin wajahnya sekarang sedikit berubah setelah tiga tahun kami tidak bertemu. Hanya melalui memo-memo yang tidak pernah kukirim kepadanya.”
Gadis itu melihat kekosongan yang teramat dalam dimata Hariz. Apakah dia menyadari sesuatu atau sebaliknya, dia juga tidak tahu. Ada sebuah ruang yang gadis itu tidak bisa tempati apalagi menggantikannya dengan ruangan yang lebih indah dengan berbagai kemewahannya. Semua itu terlalu dalam baginya. “Tidak bisakah kau memandangku sekali saja, Hariz? Cukup sekali saja. Apakah cahaya senja tak memantulkan hatiku yang dipenuhi kebahagiaan kedalam hatimu yang tak pernah nampak dasarnya bagiku? Begitu dalamkah dasarnya sehinggah aku tidak pantas untuk menariknya keluar dan berkata bahwa ‘kamu akan bahagia bersamaku’. Kenapa kau selalu baik selama ini kepadaku? Mungkin aku yang terlalu menganggap serius semua perhatian yang kutunggu setiap harinya. Indah, sungguh indah cahaya senja hari ini dan senja-senja sebelumnya. Ya, indah bukan, Hariz?
Tiba-tiba gadis itu menangis. Dia benamkan wajahnya dalam-dalam dengan menakurkan wajahnya. Bahunya bergoncang saat ia mulai menahan sedu-sedannya. Sebenarnya, pria itu paham akan derita yang gadis itu rasa. Tapi, pria itu tak mau mengerti.
Aku mengerti. Aku mengerti apa yang sedang kamu tangiskan. Dan aku juga mengerti apa arti dari air mata itu. Maafkan aku, karena tidak ingin mengerti tetasan hujan yang mendesau di hati ini. Maaf! ” Pikir Hariz.
 Kemudian gadis yang sejak tadi jalannya pelan, kini berhenti dan terus menangis. Tangisannya membuat setiap orang merasakan rasa sakit yang ia rasakan. Seakan semua kesedihan tertumpah kapada gadis muda yang perasaannya selama ini tak mendapat balasan. Perasaan yang selama ini ia kungkung dan jaga dengan sangat hati-hati. Tapi, pria yang ia harapkan pantas untuk menerimanya, bahkan tak pernah ingin menyentuh perasaan itu. Tak pernah.
Hariz hanya bisa memunggungi gadis itu dan membiarkan gadis itu menangis dipunggungnya yang memantulkan cahaya senja. Hariz sungguh tidak mengerti kanapa gadis itu menangis. Kini punggungnya yang basah oleh air mata gadis itu, seakan-akan membuat gadis itu menelan setiap lengang yang ia rasakan dan semakin hanyut dalam ingatannya. Menampikkan cahaya senja yang katanya memantulkan senyum kebahagiaan untuk kehidupan remaja mereka.
Aku sedari tadi bersamanya hanya bisa menemaninya dan melihatnya menangis mengeluarkan semua yang ia rasakan. Biarlah dia menangis mengeluarkan semua yang ia rasakan. Akan lebih baik saat aku tidak mengganggunya. Mungkin langit senja terlalu indah untuk dipandang. Seakan hatinya yang kosong menarik semua lipur yang setiap harinya matahari pancarkan. Dan melalui cahaya senja ia berbagi semua sengsara yang mengungkungnya. Mungkin perasaan yang ia rasakan sama dengan yang aku rasakan. Cinta tak memandang seseorang untuk merasakan kerinduannya. Aku merasakan apa yang gadis itu rasakan. Rasa rindu, barangkali.” Pikir Hariz dalam benaknya.
Kini sosok kedua anak remaja itu tampak bagai siluet dengan bermandikan sisa-sisa cahaya senja yang kelihatannya enggan untuk terbenam. Terbenam dengan meninggalakn luka dihati gadis itu yang menerima kekecewaan dihatinya dan pria itu dengan rasa rindu yang teramat sangat terhadap wanita yang selama ini ia tunggu. Sedangkan corak sidamukti yang terlukis di kain batiknya tak pernah ia pandang. “Langit tetaplah langit.” Tidak ada yang istimewa dengan itu semua.

III
Sekarang tahun yang kesembilannya, Hariz tidak penah melihat wajah Lestari. Gadis yang selama ini ia tunggu. Gadis yang nantinya akan menerima semua perasaan yang selama ini ia dekam erat-erat dan meledak saat gadis yang ditunggu menerimanya. Pikir Hariz penghibur diri.
Lestari, di tempat kerjaku yang baru, tak ada yang istimewa disana. Hanya disibukkan dengan tugas-tugas kantor yang setiap harinya menulis dengan format yang sama. Surat ini, surat itu, hanya menerima perintah dari atasan. Tapi, tahukah kau? Semua itu akan terasa ringan dan istimewa saat kau ada disampingku.” Memo singkat yang ditulis Hariz ditelepon genggamnya, tak pernah ia kirim. Sekarang sudah dalam jumlah yang banyak. Tak pernah terlintas untuk menghapus pesan-pesan yang tidak pernah sampai kepada orang yang dituju, apalagi mengirimnya kepada Lestari.
Tak pernah sekalipun Hariz membuka hati untuk gadis lain. Begitu dalamnya dasar di hati Hariz sehingga tak ada seorangpun yang pantas mengangkat semua kerinduan yang ia simpan. Erat, sungguh erat. Bahkan ia sendiri tak sanggup mengangkatnya sampai gadis yang ia pajang fotonya dikamar, datang untuk mengalirkan air segar dihatinya.
Tempat-tempat yang dulunya ia kunjungi bersama Lestari, sudah menjadi tempat istimewa dihatinya. Tempat itu pula yang ia kunjungi setiap libur dari kantor. Peron kereta api, dimana ia dan Lestari bertemu untuk pertama kalinya.
Lestari sudah sangat sering melihat Hariz di peron kereta api itu. Tapi tak ada yang istimewa dari pertemuan itu. Kecuali, memperhatikan Hariz yang selalu terlambat menaiki kereta kerena keasyikan membaca buku dan akhirnya ketinggalan kereta. Saat menunggu kereta, Hariz biasanya membaca buku yang selalu ia kantongi. Dengan keasyikan itu pula, kadang-kadang Hariz tidak menyadari bahwa kereta sudah berangkat. Semua itu, sudah menjadi perhatian Lestari.
Kali ini, Hariz duduk disamping Lestari yang setiap harinya menunggu Ibunya pulang kerja. Kali ini Hariz kembali ketinggalan kereta dan melanjutkan bacaannya.
“Ketinggalan kereta lagi, ya?” Lestari memulai pembicaraan.
Hariz hanya keheranan saat ada gadis yang tidak ia kenal bertanya kepadanya. “Ya!” Jawabnya singkat dan melanjutkan bacaannya.
“Kelihatannya, buku yang sedang kamu baca menjadi keterlambatan selama ini!”
“Mungkin!”
“Memangnya tidak ada waktu untuk membacanya di rumah?”
“Ada!” Jawab Hariz singkat untuk menunjukan kekesalannya yang terus ditanya oleh gadis di sampingnya.
“Memangnya buku apa yang sedang kamu baca? Bukunya cukup tebal.”
“Dunia Sophie.”
“Dunia Shopie? Karangan Jostein Gaarder?”
“Kamu tahu tentang bukunya?” Tanya Hariz sedikit tertarik. Sangat jarang seseorang tertarik dengan Novel Filsafat yang sangat membosankan dan membicarakan hal-hal abstrak.
“Ya, aku tahu. Soalnya aku juga sering membacanya di rumah.”
“Oh ya?”
“Ya! Sekarang kamu bab berapa?”
“Baru bab empat. Tapi ceritanya terlalu teoritis pada bagian ini. Tidak seperti di bab pertama yang sangat memancing keingintahuan kita tentang filsafat. Bagaimana denganmu?”
Begitulah pertemuan pertama yang mereka alami. Pertemuan yang menjadi awal sebuah arti cinta bagi pria itu. Perasaan yang mengungkungnya selama bertahun-tahun. Dan selama bertahun-tahun itu pula, ia mengunci semua perasaan yang dunia ini ingin tunjukkan kepada pria itu. Bahkan ia sendiri enggan untuk melepas kerinduan yang membuatnya membuang semua kenikmatan disekelilingnya.
Kamar. Satu-satunya tempat yang memberikan kenikmatan bagi Hariz. Disana dia bisa memandang foto-foto gadis yang selama ini ia rindukan. Semalaman hanya memandang foto-foto itu. Meringkuk diatas lantai yang dingin sambil memeluk kedua lutut. Dan sesekali membenankan kepala kedalam lamunan yang panjang. Membayang apa yang sudah mereka lalui bersama. Bersama menarik bonanza yang dipersiapkan untuk kebersamaan mereka kelak. Seakan-akan foto-foto yang sedang ia pandang bergerak dengan sendirinya. Membelai tubuhnya yang sudah sangat merindukan sosok gadis yang sudah membuat hatinya betah untuk bertahan dalam kedalaman cinta yang sudah mereka buat. Begitu dalam semua ingatan itu. Menenggelamkan mujur selama bertahun-tahun. Tanpa dia tahu bahwa, begitu banyak kenikmatan disekitarnya yang tidak pernah ia rasakan.
Sungguh sayang! Hariz sudah melewatkan begitu banyak sisa kekuatan yang ia tumpuk dan hanya tercurahkan untuk mengenang gadis yang belum tentu mampu menarik semua kebahagiaan kepadanya. Kebahagian semu menciprat tak terbendung. Semuanya sia-sia untuk dikenang.


Bagus Yulianto
Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA

Entri Populer

Blackjack widgets