Sunday, October 30, 2016 | By: Bagus Yulianto

THINGS ARE GONNA GET BETTER - Firman Affandi - Lomba Menulis Cerpen

THINGS ARE GONNA GET BETTER
Oleh: Firman Affandi

            Pertama kalinya Ninta berangkat sekolah tanpa sahabat-sahabatnya, Azila, Niall dan Ando. Mereka beda jurusan, Ninta, Ilina dan Archie di kelas Bahasa, sedangkan Azila, Niall dan Ando di kelas IPS. Mereka mempunyai minat, potensi, masa depan dan cita-cita yang berbeda, itu terbukti dari hasil tes bakat kelas X waktu mereka sekelas bersama.Mereka sedikit berat untuk berpisah karena selama ini mereka terus bersama tapi mereka sadar ini keputusan mereka.
“Ini kelas kita, guys! Aku harap anak-anaknya seru.” Seru Ninta.
“Mudah-mudahan gitu Nin.” Tambah Ilina
“Oiya, gimana dengan Azila, Niall sama Ando?” Tanya Archie
“Hai, Archie!” Sapa Revan yang tiba-tiba memegang pundaknya.
“Eh kamu ngambil Bahasa? Aku kira IPA”.
“Hehe nggak kok. Aku duduk bareng ya sama kamu?”
“Siip deh” Jawab Archie.
***
            Azila berangkat duluan, Niall dan Ando berangkatnya agak mepet jam 07.00 WIB karena ada acara sebentar kata Ando. Azila hanya termenung di tempat duduknya, dia tidak tahu mau ngapain, dia merasa asing dengan anak-anak baru di kelas IPS.
“Zil, murung kenapa?” Tanya Niall yang baru saja tiba dengan Ando.
“Hmm aku ngerasa asing. Aku juga bingung mau duduk sama siapa. Kamu mah enak duduk bareng sama Ando.” Keluh Azila.
“Aku cariin teman duduk deh.” Kata Niall.
“Vera, kamu duduk sama Azila ya”.
“Ah sory aku udah janji sama Rena.” Jawab Vera seraya meninggalkan mereka.
“Hmm tuh kan, apa aku bilang, asing semuanya.” Keluh Azila lagi.
“Aku duduk sama kamu ya Ndo untuk sementara waktu”
“Lho kalau gitu caranya kamu nggak bisa dapat teman baru Zil” Jawab Ando.
“Udah tenang aja, toh nanti juga kamu ada teman duduknya” Tambah Niall.
“Iya percaya aja sama Niall”. Ando mencoba menenangkan Azila.
             Setelah sekian menit sambil menunggu guru masuk, akhirnya Azila dapat teman duduk, dia Sissy.
“Hai, boleh kenalan?” Tanya Azila sambil mengulurkan tangan kanannya. Mereka berdua belum saling kenal, maklum namanya juga baru pindah kelas, tidak semua murid dikenal.
“Sissy.” Jawabnya datar seraya duduk di sampingnya.
“Aku, Azila.” Jawabnya sambil senyum tapi tak sedikit pun Sissy membalas senyumannya. Idih, nggak nyenengin banget sih anak, mending kalau dibales sama-sama senyum. Hmm oke lah.
            Tidak ada reaksi antara Azila dan Sissy, dia hanya berdiam, sibuk dengan sendirinya padahal Azila sudah mencoba membuat chemistry di antara mereka tapi lagi-lagi Sissy hanya berdiam saja. Akhirnya, Azila tidak lagi bertanya, dia memilih diam.
“Ah nyebelin banget sih, sombong. Padahal aku sudah mencoba membuka pembicaraan tapi aku hanya dapat kacang doang.” Gumam Azila di dalam hati sambil cemberut.
***
Kriing... Jam istirahat tiba.
“Ke kelas Bahasa yuk!” Ajak Azila kepada Niall dan Ando. Mereka sambil berjalan.
“Ninta.” Sesampainya di kelas Bahasa, Azila memanggil dengan nada memelas dan memeluk Ninta.
“Lho kamu kenapa Zil?” Tanya Ninta kebingungan.
“Dia punya masalah sama teman duduknya.” Jawab Ando.
“Kasian banget kamu, makanya di kelas Bahasa bareng kita kan enak.” Celetuk Ilina.
“Kamu lagi, sahabat masih sedih malah kamu nyalahin, lagian ini udah jadi keputusan kita bersama, udah lah kita bahas aja bersama-sama di kantin, nggak enak juga di sini kan rame.” Ajak Archie.
            Tiba di kantin, Azila menceritakan semua masalahnya kepada sahabat-sahabatnya.
“Mungkin kamu nanya tentang privasi dia kali?” Tanya Archie.
“Nggak kok, aku cuma tanya hal-hal umum doang seperti dari SMP mana. Emang salah ya?” Cerita Azila mencoba menyeka air matanya.
“Eh hampir nangis dia, kayak anak kecil.” Celetuk Ilina lagi disertai ketawa kecil.
“Ilina!” Bentak Ninta, Archie, Niall dan Ando.
“Eh salah ya. Iya deh maaf. Maksud aku agar nggak tegang gini suasananya.” Ilina cemberut.
“Tapi ini bukan saatnya!” Jawab Niall dan Ando serempak.
“Terus gimana dong? Aku jadi serba salah gini.” Sambung Azila.
“Gini aja deh kamu cari tahu dia suka apa?” Usul Archie.
“Iya yang dikatakan Archie benar biasanya kalau suka dengan apa sama, cocok deh.” Sambung Niall.
“Iya itu salah satunya sih.” Kata Archie.
“Hmm, dikiranya aku kepo lagi. Aku pingin duduk sama Ando tapi dia bilang nanti aku nggak dapat teman baru.”
“Iya itu benar Zil. Kalau kamu gabung sama mereka berdua aja, kamu temannya sedikit.” Kata Ninta.
“Kalau kayak gitu Niall dan Ando juga harus dipisahkan, mereka berdua kan duduk bareng.” Suruh Azila.
“Gini Zil, kita berlima itu pingin merubah kamu agar nggak canggung sama anak-anak lainnya. Jadinya Niall dan Ando duduk bareng.” Cerita Ninta.
“Tapi kalau kayak gini, namanya nggak adil!”
“Bukannya nggak adil Zil, ini demi kebaikan kamu juga.” Kata Ando.
“Iya Zil, kita kan sahabat. Mana ada sahabat mau tega sama sahabat sendiri.” Kata Ilina.
“Tuh benar yang dibilang Ilina.” Sahut Niall seraya senyum.
“Iya aku percaya kok. Makasih ya.” Mereka berenam berpelukan.
“Eh, air matamu jatuh tuh.” Kata Ilina.
“Ih kamu dari tadi ngeliatin mata aku mulu.” Azila tersipu-sipu seraya menghilangkan air mata di pelupuk matanya.
“Hahaha Azila Azila.” Ninta, Ilina, Archie, Niall dan Ando ketawa serempak.
“Pulang sekolah nanti kita bicarain deh sambil belajar bareng. Ok!” Usul Ninta.
***
            Pulang sekolah, mereka pergi ke rumah Ilina karena rumah dia yang terdekat dari sekolahan. Sesampainya di rumah Ilina mereka belajar bersama.
“Di kelasmu diajarin apa aja Il?” tanya Niall.
“Tadi Antropologi sama Sastra. Kalau kamu?” Ilina tanya balik.
“Baru sosiologi karena guru lain ada kepentingan di luar katanya.” Jawab Niall.
So guys mau belajar apa? Aku sih pingin coba sastra. Penasaran banget tadi belum clear.” Kata Ninta menoleh ke arah Ilina dan Archie.
“Boleh juga. Yuk!” kata Archie.
“Terus aku kapan mau cerita lagi kalau kalian belajar?” tanya Azila cemberut.
“Iya habis belajar Zil. kita belajar bareng dulu aja.” Jawab Ando.
“Iya deh, yuk!” Azila mulai tersenyum.
            Mereka berenam belajar secara 2 kelompok karena beda jurusan. Ninta, Ilina dan Archie belajar Sastra sedangkan Azila, Niall dan Ando belajar Sosiologi. Mereka membantu satu sama lain walaupun berbeda mereka tetap kompak. Setelah selesai belajar sesuai dengan rencana mereka bersama membantu Azila menyelesaikan masalahnya.
“Pokoknya kamu berusaha dekeat sama Sissy. Buat suasana menjadi berwarna.” Kata Ninta.
“Aku udah berusaha tapi dia tetap diam nggak ada respon, kacang yang aku dapat malah.” Azila mencibir.
“Seiring berjalannya waktu pasti dia juga bakal luluh kok.” Tambah Ninta.
“Iya Zil, lagian aku percaya mana ada orang yang tahan diam-diaman sampai lama.” Tambah Ilina.
“Tuh dengerin kata Ilina, yang terpenting usaha. Ingat, hal ini jangan bikin waktu belajar kamu terganggu.” Tambah Archie.
***
            Azila mencoba berbagai cara apa yang sahabat-sahabatnya katakan kepadanya. Tapi hal itu tidak berhasil juga. Azila semakin bingung apa yang harus dia lakukan agar Sissy mau berteman dengannya.
“Nggak berhasil-berhasil, susah banget dia diajak berteman. Padahal berbagai cara udah kulakukan buatnya.” Azila cemberut.
“Sabar Zil. Ini ujian buat kamu. Tapi kamu harus percaya, Allah akan menilai usaha yang telah kamu lakukan selama ini. So, kemudian hari juga pasti ada balasan kebaikannya.” Nasehat Ninta sambil memegang pundak Azila.
***
            Azila sudah terbiasa dengan sikap Sissy yang dingin. Tapi bukan berarti menyerah. Dia tetap berusaha dan berharap suatu hari nanti Sissy akan berubah.
            Hari ini Azila pulang sendirian karena Niall dan Ando mengerjakan tugas bareng kelompok Sosiologi yang sudah ditentukan. Sedangkan Ninta, Ilina dan Archie mengunjungi salah satu desa yang dijadikan sebagai obyek penelitian tugas Antropologi tentang pewarisan budaya di suatu daerah terentu.
“Sissy, kamu kenapa?” Azila lari menghampiri Sissy.
“Aku keseleo, tadi turun tangga buru-buru.”
“Aduh, kasian kamu. Ya udah pulang bareng aku aja. Kebetulan aku dijemput.”
“Nggak usah Zil. Aku rasa aku masih kuat.”
“Jangan Sy. Buat jalan aja susah. Aku nggak tega.”
“Makasih ya, kamu kok mau nolong aku, padahal aku udah sombong sama kamu?”
“Iya sama-sama. Aku kan teman sekelas kamu apalagi kita duduk bareng. Sesama teman kan harus saling tolong menolong.”
“Ma’afin kesalahanku ya selama ini. Aku udah sombong sama kamu, sering nyakitin juga.” Sissy memeluk Azila.

“Iya, sebelum kamu minta maaf, aku udah mema’afkanmu kok.” Azila tersenyum dan membalas pelukannya.
Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA

SISWAKU, RIZALDI - EVA GUSSEVENTINI - Lomba Menulis Cerpen

SISWAKU, RIZALDI
EVA GUSSEVENTINI

Pagi yang mendung, tak sedikitpun cahaya matahari muncul untuk menyapa orang-orang yang hilir mudik di jalan untuk berangkat kerja. Aku dengan motor bututku melaju kencang menuju salah satu SMA negeri di kotaku, Lubuklinggau, tempat dimana aku bekerja sebagai pengajar.
Di depan gerbang sekolah ku parkirkan motorku , ku lihat Kepala sekolah dan wakil kesiswaan sudah berdiri di depan pintu masuk sekolah menyambut anak didik yang baru datang, mereka bersalam-salaman secara bergiliran, budaya bersalam-salaman mendidik siswa untuk menjadi anak yang berkarakter dan beretika.
“ Selamat pagi, Pak..?” sambil bersalaman ku sapa mereka.
“ Selamat pagi, Bu Via..? “ jawab Pak Sumarnain dengan ramah, dia adalah kepala sekolah yang arif dan bijaksana dalam memimpin anak buahnya di sekolah.
Ku langsung melangkah ke ruang guru yang ada di pojok sekolah, hampir semua guru yang mengajar hari itu sudah datang. Meja kerja kesayanganku yang selalu membuat ku betah berada di sekolah terletak di tengah. Tumpukan buku kerja anak didikku masih berada di atas meja, belum sempat aku periksa pekerjaan mereka.
“ Bu Via, Ibu di panggil Pak Narno ke ruangan nya.” Suara Bu Yussi, salah satu staf usaha memanggilku.
“ Oh, Iya, Bu, saya ke sana sekarang. “  Belum sempat aku minum teh yang ada di atas mejaku, aku sudah di panggil oleh Pak Narno, wakil kesiswaan, pasti masalah siswa ku yang kemarin belum selesai.
Rizaldi, dia adalah siswa ku yang menurut beberapa guru yang mengajar nya adalah anak yang nakal, di dalam kelas dia selalu tidur di akhir pelajaran, pekerjaan rumah selalu di kerjakan di sekolah, di saat belajar sering izin keluar kelas dengan berbagai alasan, puncaknya adalah kemarin pagi, Rizaldi tertangkap Satpam melompat pagar untuk masuk sekolah pukul 07.30 WIB, sedangkan bel masuk seharusnya pukul 07.00 WIB.
“ Silahkan masuk, Bu Via..” sapa Pak Narno membuyarkan lamunanku.
“ Baik, Pak “
“ Begini, Bu, seperti nya kasus Rizaldi sudah terlalu banyak, surat perjanjian sudah berulangkali di buat, tetapi tidak ada perubahan, kasus terakhirnya melompat pagar merupakan poin terbesar untuk dapat mengembalikan anak ini ke orang tuanya “ jelas Pak Narno dengan semangatnya.
“ Tapi..Pak, saya selaku wali kelas nya mohon kebijakan dari bapak, tolong beri kesempatan satu kali lagi, anak ini sebenarnya anak pintar, walau jarang menulis, dia bisa menjawab pertanyaan guru, dan hasil ulangannya tidak pernah remedial.”
“ Bu Via, guru di sini tidak cuma Ibu, sudah beberapa guru yang melapor tentang masalah Rizaldi, apa Ibu bisa membina anak ini menjadi lebih baik..?”
“ Ya, Pak, beri kesempatan pada saya untuk membina anak ini, beri saya waktu satu bulan, jika memang tidak bisa dibina, saya dengan ikhlas mengeluarkan anak ini dari sekolah” jawabku pelan.
“ Baiklah ,Bu, saya tunggu satu bulan kedepan, sekarang Ibu boleh kembali bertugas”
Jawaban ku tadi membuat dada ku sesak, tanggung jawab yang sangat besar di pundakku, mungkinkah aku bisa melaksanakannya dengan baik ?, bisakah aku membina anak ini ?,di atas kepalaku seperti ada sebongkah batu yang besar, begitu berat untuk ku bawa.
***
            Bel berbunyi dengan nyaring tanda dimulainya aktivitas belajar mengajar, dengan gontai ku langkahkan kakiku menuju kelas, XI IPA, kelas yang ku ajar hari ini, dan aku adalah wali kelas nya. Mata ku tertuju di sudut kelas, seorang laki-laki hitam manis,badan yang agak kurus duduk dengan santai, topi masih bertengger di kepalanya.
            “ Selamat pagi, anak-anak..?” sapaku dengan senyum sumringah.
            “ Selamat pagi,Bu....?” teriak anak-anak dengan semangat.
            “ Baiklah.., buka halaman 17, kalian baca dulu dalam hati, nanti Ibu jelaskan dan beri pertanyaan untuk kalian, Rizaldi, menghadap Ibu  sekarang..!”
            Dengan santainya Rizaldi berjalan menuju mejaku, topi yang tadi bertengger di kepala nya sudah di lepas, dengan tertunduk dia menghadap ku .
            “ “Iya, Bu..”
            “ Zaldi, boleh Ibu bertanya,,? kemarin mengapa kamu melompat pagar, apa salahnya kamu masuk lewat depan gerbang sekolah “
            “ Maaf, Bu.., saya takut, kemarin saya terlambat..” jawab nya dengan penuh penyesalan.
“ Zaldi, anggap Ibu adalah Ibu mu sendiri, kalau kamu mau cerita sesuatu, cerita ke Ibu, mengapa kamu suka tidur di kelas ?, guru-guru sudah sangat mempermasalahkan diri mu, cerita sama Ibu, nak.., mudahan kita bisa sama-sama menyelesaikan masalah nya “.
“ Apa, Bu..?, menyelesaikan masalah ?, ini masalah saya, tidak ada yang bisa menyelesaikannya.., kecuali saya “ jawabnya ketus.
“ Zaldi, Ibu tanya.., kamu masih mau sekolah kan..?”
“ Iya, Bu.., saya harus sekolah, saya harus sekolah yang tinggi.., apa pun resikonya, saya mau menjadi orang yang berpendidikan tinggi..” Jawabnya bergetar, kulihat matanya memerah, air mata menetes di pipi nya yang kurus. Aku begitu terkejut, pertanyaanku sangat menusuk hatinya,  selama ini Rizaldi yang ku kenal anak yang keras, garang, dan ditakuti oleh teman-temannya, begitu rapuh, dan hatinya sangatlah halus.
“ Bu, maaf kan saya, terima kasih sudah perduli dengan saya, cuma Ibu yang memperhatikan saya..” dengan terisak Rizaldi terus berkata.
“ Sudahlah, yang penting Rizaldi menyadari kesalahan Rizaldi, dan tetap ingin bersekolah, sekarang duduklah..” terenyuh hatiku melihat nya.
Rizaldi membalikan tubuhnya untuk kembali ke kursi nya, tapi tiba-tiba dia berkata.
“ Bu, sepulang sekolah, maukah Ibu ikut saya ke rumah, saya ingin memperlihatkan sesuatu dengan Ibu..? ” tanya Rizaldi dengan memelas.
“ Baiklah, Ibu tunggu di parkiran, ya, kita pergi sama-sama..” jawabku dengan penasaran, apa lagi yang mau diperlihatkan oleh Rizaldi, berbagai pertanyaan berkecamuk di kepalaku.
***
Jam menunjukkan pukul 13.30 WIB, proses belajar mengajar di sekolah telah selesai, ku kemas buku-bukuku, dan ku jinjing tas ku menuju parkiran, mataku mencari-cari seseorang, pertanyaan-pertanyaan di kepalaku membuat aku ingin cepat-cepat pulang. Rizaldi ternyata sudah berdiri di depan pos satpam.
“ Zaldi, kamu yang bonceng Ibu ya, Ibu kan tidak tahu rumah mu..?”.
“ Iya, Bu..”. dengan cepat Rizaldi mengambil motorku, ku duduk di belakangnya, motorku melaju kencang menuju rumah Rizaldi.
Derit ban motor membuyarkan lamunanku, tak terasa kami sudah sampai di depan rumah Rizaldi, ku perhatikan rumah minimalis, berwarna putih bercampur merah marun yang menambah nuansa modern. Ku yakin pasti Rizaldi adalah anak orang kaya, dari data yang ku peroleh Ayah nya adalah seorang pengusaha furniture.
“ Ayo, Bu, masuk..” ajak Rizaldi sambil membukakan pintu rumahnya.
Dengan pelan ku langkahkan kakiku ke dalam ruang tamu yang begitu minimalis, sebuah kursi tamu dari kayu jati, dan lemari Palembang. Tiba-tiba ku dengar suara jeritan,suara tangisan perempuan membuatku terkejut.
“ Mari, Bu, ikut saya, saya kenalkan Ibu dengan Mama saya..” Rizaldi mengajakku ke sebuah kamar, aku begitu terperangah, dadaku sesak, kakiku gemetar, aku begitu terkejut dengan pemandangan yang ku lihat dihadapanku. Seorang perempuan dengan rambut acak-acakan, berbalut baju daster, duduk di lantai dengan kaki di borgol dengan besi, tangan di ikat dengan rantai yang tidak terlalu panjang. Dia memandangku, matanya terbelalak, kemudian menjerit, meronta-ronta, dia ingin mendekatku.
“ Ku bunuh kamu.., dasar pelacur.., mati kamu sekarang, hik..hik..hik.., jangan ambil suamiku, jangan ambil suamiku...” perempuan itu terus meracau tak karuan. Rizaldi kemudian mengajakku kembali ke ruang tamu. Dengan gemetar ku duduk kembali di sofa.
“ Bu.., dia mama ku, dia yang buat aku terlambat sekolah, aku harus memberinya sarapan dulu, walau ada Bik Nah, hanya aku yang bisa memberi dia makan. Dia benci dengan semua perempuan, setiap melihat perempuan, dia pasti mengamuk, mama ku gila, Bu..., ini semua gara-gara Papa.., Papa menikah lagi, dan meninggalkan kami. Aku benci Papa,Bu..” Rizaldi terisak menceritakan masalah keluarganya.
Hatiku begitu terenyuh, kini semua pertanyaan di kepalaku terjawab sudah, kasihan anak ini, bagaimana dia bisa belajar di rumah, kalau dia harus mendengar jeritan Ibunya, bagaimana dia bisa datang ke sekolah dengan cepat, kalau dia harus mengurus Ibu nya, memberi makan, memandikan, dan menggantikan baju ibunya, wajar kalau dia mengantuk di kelas, setiap malam tidak bisa tidur sebelum Ibunya tidur.
“ Maafkan Ibu, Rizaldi, selama ini Ibu salah paham dengan mu, kamu anak yang baik, mudah-mudahan pihak sekolah akan mengerti dengan masalah mu, teruslah sekolah, Ibu selalu mendukungmu” ucapku dengan pelan.
“ Terima kasih, Bu, aku mau sekolah, aku ingin menjadi Dokter Jiwa, aku ingin mengobati mama, mama harus sembuh, Bu...” air mata terus berlinang di pipi nya, hatiku begitu pilu mendengarnya.
“ Rizaldi, Ibu pulang dulu, ya..besok kita ketemu lagi di kelas..” pamitku, aku langsung pulang ke rumah dengan beban di kepalaku yang mulai berkurang.
***
Keesokan harinya ku ceritakan kejadian yang ku alami di rumah Rizaldi dengan Kepala Sekolah dan Wakil Kesiswaan, mereka begitu terenyuh dengan cerita ku, Rizaldi yang malang, di kelas dia begitu garang dan pemarah, ternyata semua itu hanya untuk menutupi kelemahan nya yang tidak boleh orang lain mengetahui nya.
 Kepala Sekolah bersama jajarannya mengadakan rapat mendadak, mereka membahas permasalahan yang di alami Rizaldi, siapa lagi yang perduli dengan Rizaldi, kalau bukan kita semua, siswa yang malang, di tinggal Papa nya menikah lagi, bahkan sampai sekarang tidak pernah menjenguk Rizaldi lagi, Mama nya yang mengalami depresi berat, dan harus ditangani dengan cepat, untunglah Mama Rizaldi adalah seorang PNS, dari gaji nya mereka bisa makan dan membiayai sekolah nya.

Pihak sekolah dengan persetujuan Rizaldi memasukan mama nya ke rumah sakit jiwa di Palembang, mudahan di sana dia dapat sembuh total, dan kembali lagi bersama Rizaldi. Kini Rizaldi pergi sekolah dengan rajin, prestasi nya meningkat dengan cepat, semua pekerjaan rumah selalu di kerjakan, dan tanpa tidur di kelas lagi.
Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA

Putih- Putih VS Merah-Biru-Putih - Mahlian Elyana - Lomba Menulis Cerpen

Putih- Putih VS  Merah-Biru-Putih
Mahlian Elyana

Assalamu’alaikum. Salam Sejahtera. Om Suwastiastu
            Ba’da tahmid kesyukuran selalu tercurah kepada sang pencipta langit,bumi beserta isinya yang tidak sesederhana tahu isi, dan tidak seberat kata-kata ini. Salawat dan salam kepada manusia tanpa cela, pemimpin yang ia mengaku punya dosa tapi Allah jaminkan ia surga, Muhammad SAW. Dan kepada orang tua yang hidup dan matinya hanya kepada kita, setelah kepada Allah.
            Cerita ini harus saya buka dengan kata syukur, karena saya sadar dengan syukur saja tak cukup membayar yang sudah saya punya sejauh ini. Saya takut dengan melupakan Tuhan saya yang maha agung, DIA akan melupakan anda dan melewatkan tulisan saya ini. Namun, saya lebih dan sangat takut ketika saya terbiasa melupakan tuhan saya dengan tidak bersyukur dan saya merasa biasa akan hal itu.
Inspiratif? Apakah saya termasuk?. Dengan sangat terpaksa saya harus mengatakan ya, jika tidak saya tidak akan mengirimkan tulisan ini dan anda mungkin sedang tidak membacanya. Kisah saya bisa dikatakan inspiratif hanya jika anda terinspirasi. Jadi, mohon terinspirasi lah dengan sepotong cerita dari anak negeri ini.
Saya lahir dalam keadaan tidak bisa membaca dan menulis, ia karena saya baru lahir maka dari itu saya tidak bisa membaca, apalagi sampai menulis. Namun, saya mengikuti kebiasaan klasik manusia, yaitu pada usia 9 bulan 10 hari kandungan saya lahir. Diusia 5 tahun saya bersekolah di taman kanak- kanak dan hebatnya orangtua saya, bisa menyekolahkan saya hingga keperguruan tinggi bukan negeri.
Karakter itu tidak jadi terbunuh apalagi sampai mati, ia masih hidup dan tumbuh subur sekarang. Pembunuhan karakter itu dimulai dari awal masuk ke sekolah menengah atas, awal dari perjuangan pembentukan karakter.
Seragam yang diincar-incar siswa yang pertama kali masuk sekolah menengah atas itu terlihat mengagumkan, kebanggan akan diri jelas tampak pada diri senior-senior pada saat itu. Pandangan tajam, gerakan mulus, sepatu licin dan lapangan yang sudah siap berdiri menyambut pasukan putih-putih itu dan yang kemudian menyeretku sampai setengah perjalanan.
Hari itu menjadi akhir dimana saya mengikuti pelatihan sebelum pada akhirnya saya keluar. Saya masih ingat perkataan senior itu. “Dendam gak kalau dikeluarkan?” dia setengah melirik “Kalau saya keluar karena ketidakmampuan saya, saya tidak akan dendam!” jawabku tanpa melirik. Tapi, fakta terbaiknya aku harus keluar dan alasannya tidak jelas, abu-abu.
Mereka berhasil mengeluarkan saya dengan sempurna dan dengan skenario yang hampir tidak mengundang reaksi siapapun saat itu, saya ingat jelas siapa yang membela saya. Ada satu sosok yang sangat berjasa pada diri saya saat itu, sosok yang tetap hidup dan bertahan disaat saya butuhkan, yaitu sisi lain dalam diri saya sendiri. Kekuatan itu benar- benar muncul disaat yang tepat. Yakinlah, sosok itu juga ada didalam diri anda disaat anda benar-benar jatuh, bukan orang lain.
Keluar dari pasukan putih-putih mulailah berpetualang mencari pelarian. Awalnya saya hanya menganggap itu sebuah pelarian atau  hanya sekedar pelampiasan disaat saya ditolak di kelompok putih-putih itu, bahkan saat saya masuk saya tidak pernah berfikir itu akan jadi cerita panjang dan berlanjut hingga sekarang. Saya ingat jelas, saya masuk diminggu akhir sebelum adanya kuis diles itu. Kuis ini biasa dibuat sebulan sekali oleh pihak les.
Ujian mau tidak mau saya ikuti dan saya persis duduk di urutan pertama karena berhubung saya murid baru di les itu. Ada catatan khusus yang saya tuliskan saat itu. Dalam bahasa Indonesia begini kira-kira artinya “Saya adalah murid baru disini Miss, jadi saya belum mengerti tentang bahasa inggris. Saya bisa menulis kata-kata ini karena saya otodidak.”Mungkin dengan penghargaan penuh dia memberi saya nilai 68, dan saya sempat melihat ia tersenyum membacanya..
Akhirnya setelah hampir satu tahun saya menimba ilmu di kursus bahasa inggris,  hari itu, di hari paling bersejarah saya berdiri dengan nomor urut enam belas memulai hafalan yang satu bulan saya hafal mati-matian dengan bismillah. Mungkin pohon mangga dibelakang rumah saya bosan mendengar perkataan saya yang berdurasi tujuh menit itu, batu yang saya pijak juga berat hati melihat saya bermukaddimah hampir setiap  hari. Tapi, satu bulan itu membuktikan proses tidak akan mengkhianati hasil. Posisi satu ditangan saya, hari itu menjadi saksi bahwa Allah lebih tahu segala yang baik untuk hambanya.
“.....Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”-Q.S Al-Baqarah : 216-

Seandainya saya masuk dan menjadi pasukan berseragam serba putih itu, maka saya tidak akan belajar bahasa inggris dan tidak berani berbicara di depan orang banyak. Ilmu itu masih melekat hingga kini, mimbar dan podium menjadi saksi perjuangan gadis kecil itu sekarang.
Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA

HARI NAHAS - Garizah Sae - Lomba Menulis Cerpen

HARI NAHAS

          Garizah Sae 

Tiga kali sudah aku terbangun. Tidurku malam ini benar-benar tak nyenyak. Semua menjadi hambar, karna masa penantianku kian berujung. Aku memang tak sabaran tapi, bukan berarti musibah ini bagus untukku. Beberapa waktu lalu aku membuat kesalahan karna tak berpikirpanjang. Membuat teman-temanku geram dan mereka harus menahan emosi yang meluap-luap untukku. Seperti yang telah digariskan Tuhan, kita akan mendapat balasan dari apa yang kita lakukan. Aku memaknai balasan itu sebagai terguran, dan materi yang bagus untuk mulai intropeksi diri. Seperti yang terlihat, aku bukanlah orang yang suka melimpahkan kesalahan pada orang lain. Karna musibah ini muncul tidak lain untuk memjadi pengingat bagiku agar tak tergesa-gesa, selalu berdzikir serta meminta petunjuk Allah sebelum memutuskan sesuatu.
Jauh-jauh hari aku membuat list kebutuhan dan pengeluaran saat pulang, oleh-oleh dan segala titipan orang rumah telah dipersiapkan. aku berasal dari pulau kecil di ujung negri yang sedang menimba ilmu dikota apel. setiap liburan semester aku pulang kekampung halaman untuk sekedar memanjakan rindu dan melewati masa puasa bersama keluarga. Namun, kali ini keinginanku untuk pulang harus dipendam dalam-dalam. Semuanya menjadi abu-abu. Tentang rumah,  bis, dan tempat-tempat yang lain saat akan kulalui ketika menuju kampung halaman. Aku mencari alasan apa yang bisa diterimah? Sehingga membuat ibu mengerti, tanpa harus menceritakan kebenaran yang sesungguhnya. Aku tak biasa berbohong pada ibu, namun tak ada yang bisa aku lakukan kecuali berbohong.
Tak adakah alasan yang bisa aku pakai untuk kebaikan. Alasan kenapa aku tak bisa pulang? Aku sangat ingin bertemu ibu yang juga merindukanku. Tapi, dengan apa aku pulang?. Bahkan untuk mengisi perut saja aku memilih makanan yang paling murah asal mengenyangkan. tebakanmu benar, aku tak punya uang. Mungkin ada satu dua lembar uang biru. Tapi, itu tak cukup untuk banyar ongkos angkutan. Semua serba abu-abu, aku tak bisa membayangkan bagaimana aku hidup disini tanpa memegang uang sekecukupan makan satu bulan saja. Apalagi untuk ongkos pulang yang serba butuh uang. Mulai dari bekal perjalan sampai buang air kecil  saja butuh uang. Sedang uangku raib seketika seiring hembusan angin menyapa mesin ATM dikala itu.
Aku tertipu undian berhadiah, dan melakukan transaksi entah untuk apa. Seingatku waktu itu aku seperti orang terhipnotis, aku tak bisa berargumen dan menerima semua perintah dari balik telfon genggam. Hatiku sangat bahagia karna kalimat-kalimatnya yang begitu menyenangkan. Otakku memutar Bayangan memiliki uang puluhan juta. Hatiku benar-benar girang, banyak rencana yang tak berani kubayangkan sebelumnya, kini siap untuk kuwujudkan. Seperti membeli mobil dan umroh bersama ibu. Logika berkali-kali mencoba mengingatkanku, Naluri menolak perasaan bahagia yang bersemayam dihati, karna tak mungkin dengan cara semudah itu aku bisa mendapat uang puluhan juta.  Namun semua kalah oleh nafsu yang telah menguasai hatiku. Aku mentrasfer uang kenomer ATM sesuai petunjuk dari telpon genggam. Banyak keanehan yang kurasa, namun terabaikan karna mata hatiku telah buta oleh bayang-bayang uang puluhan juta.
Keesokan harinya aku baru bangun dari pengaruh hipnotis. Mesin ATM kembali kudatangi, berharap itu semua hanya mimpi, namun saldoku benar-benar telah hilang hanya tersisa lima angka yang diawali angka 1 padahal sebelum dua hari sebelumnya ATMku  memiliki enam angka. Ingin rasanya aku menangis dan merengek pada siapa saja yang aku temui dikala itu. Namun, aku terlalu malu untuk melakukannya. Hingga saat ini, kejadian itu hanya akan menjadi rahasia hidupku seorang. Rahasia tentang kebodohanku yang sangat mudah terpengaruh. Rahasia tentang kelemahan imanku hingga aku terhipnotis.  Begitu sakit jika diingat namun tak akan bisa dilupakan. Aku putuskan untuk ikhlas dengan semuanya. Tapi, aku tak tahu. Apa yang bisa aku lakukan untuk mengembalikan keadaan seperti sebelum hari nahas itu.
Liburan semester segera tiba, itu berarti aku harus pulang. Dengan apa aku pulang? sedang kiriman dan jatah makanku satu bulan telah aku ikhlaskan untuk penipu itu.
Lalu bagaimana???
Seandainya aku langsung meminta maaf pada teman-teman karna telah diam-diam mengumbar aib mereka, akankah aku tetap mendapat musibah ini?
Seandainya aku selalu berdzikir disetiap keadaan, apakah aku akan tetap terhipnotis oleh suara yang bersih dan ramah itu?
Allah selalu menyembunyikan aib hambanya.
Allah selalu memaafkan kesalahan hambanya yang bertaubat.

Sekian

(27 januari 2014)
Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA

Senyum Terakhir Reia - VIRA MAULISA DEWI - Lomba Menulis Cerpen

Senyum Terakhir Reia
VIRA MAULISA DEWI


Satu bulan telah berlalu, Reia gadis manis yang menderita tumor otak harus berbaring di rumah sakit. Sebenarnya ia sangat ingin pergi ke sekolah dan bertemu teman-temannya, namun kondisinya sangat mengkhawatirkan. Bahkan tiga hari terakhir, keadaannya semakin memburuk.
“Mama..”, panggil Reia lemah.
“Iya, sayang. Apa kamu perlu sesuatu?”, tanya Mamanya dengan penuh kasih sayang.
Reia menggelengkan kepalanya, lalu ia tersenyum kecil memandang wajah cantik Mamanya. “Ma, selama ini aku banyak salah dengan Mama. Maukah Mama memaafkan semuanya?”, tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar perkataan anaknya, Mama sangat terkejut. Oh Tuhan, apa yang akan terjadi pada anakku, kenapa ia berkata seperti itu. “Kenapa kamu bicara seperti itu, sayang? Bukankah kamu tahu ketulusan Mamamu?”, tanya Mama yang sekuat tenaga menahan air mata.
Lagi-lagi Reia mengawalinya dengan senyuman, “Tidak, Ma. Tiba-tiba kalimat itu ingin kutanyakan pada Mama”, jawab Reia lemah.
Mama mengelus lembut rambut putri semata wayangnya itu. Dengan penuh ketulusan, ia menjawab pertanyaan Reia. “Bahkan sebelum kamu menanyakannya, Mama sudah memaafkannya Reia”. Reia hanya kembali tersenyum.
Setelah kejadian itu, Mama selalu berfirasat buruk terhadap keadaan Reia. Ia takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada anaknya. “Pa, kenapa firasat Mama tidak baik ya?”, tanya Mama pada suaminya saat Reia tertidur. “Mama bicara ini apa?”, Papa berkata dengan nada sedikit keras.
“Sssttttt.. jangan keras-keras nanti Reia bangun”, ucap Mama lirih.
“Sudahlah, Ma. Jangan berpikir yang tidak-tidak, kita berdo’a semoga anak kita cepat sembuh dan kembali seperti biasanya”, Ayah mulai tenang. Sementara Mama hanya terdiam.
Semakin lama ia di rumah sakit, keadaannya justru semakin memburuk. Orang tua Reia semakin cemas dengan kondisi anak semata wayang mereka. “Ibu dan Bapak kami harap untuk selalu memohon kepada Sang Pencipta. Mengingat kondisi Reia yang terus memburuk, sekarang Reia sedang koma”, kata dokter yang baru saja memeriksa kedaan Reia setelah tiba-tiba ia merasakan kepalanya sangat sakit dan kemudian tak sadarkan diri.
Mama Reia tak henti-hentinya menangis di depan tubuh anaknya yang tengah tertidur dalam. Sementara ayahnya lebih tegar dan berusaha menenangkan istrinya. “Ma, makanlah dulu. Sejak tadi malam perutmu belum kau isi”, ucap Ayah. Mama tak pedulikan apa yang dikatakan suaminya, ia terus saja mengusap rambut Reia dan memegang tangannya.
“Jika Mama terus-terusan begini, Ayah yang semakin gelisah. Pikirkan juga kesehatanmu, Ma”, Ayah semakin terlihat khawatir melihat keadaan istrinya.
Sudah tiga hari Reia koma dan belum sadarkan diri. Dokter dan perawat keluar masuk kamar Reia, namun mereka selalu mengatakan hal yang sama kalau keadaan Reia belum ada perubahan. Jam dinding menunjuk pukul 13.25, saat Mama memegang tangan Reia, ia merasakan tangan anaknya bergerak. “Reia.. Reia.. kamu sadar nak”, ucap Mama seraya mengusap air matanya. “Ayah, lihat anak kita..”, panggil Mama saat Reia berusaha membuka matanya. Ayah segera mendekati Reia.
“Ma..”, satu kata pertama yang Reia ucapkan dengan sangat lemah. “Iya, sayang. Mama di sini bersama Ayah”, jawab Mama. Reia membalas dengan senyuman. Dokter segera datang setelah Ayah memanggilnya. “Permisi, Bu. Biarkan saya memeriksanya sebentar. Anda bisa tetap di sini”, kata dokter. Lalu Mama bangkit dari duduknya dan menyaksikan dokter yang sedang memeriksa anaknya.
“Kondisi Reia sangat lemah, sebenarnya ia sedang berada di....”, dokter menggantung kalimatnya.
“Maksud, dokter?”, tanya Ayah serius.
“Maaf, Pak. Saya terpaksa mengatakannya kepada Bapak kalau kondisi Reia sudah tidak memungkinkan”, kata dokter pelan.
Mendengar kata dokter tersebut, Mama berlari menuju samping Reia yang sedang terbaring lemah tak berdaya. “Kamu pasti bisa, sayang. Bertahanlah, percaya sama Mama”, ucap Mama disertai isak tangis.
Reia tak mengeluarkan sepatah katapun selain satu kata sebelumnya, memanggil mamanya. Di kamar Reia, kedua orang tuanya dibalut rasa sedih yang mendalam melihat anaknya terbaring lemah dengan mata berkaca-kaca. “A-aa-a-yah.. Maa-aa-maa..”, ucap Reia terbata-bata. “Iya, sayang”, jawab Mama dan Ayah bersamaan. Mereka menantikan kata-kata yang akan keluar dari mulut kecil anaknya. Namun apa yang terjadi bukanlah Reia mengucapkan sepatah kata lagi, melainkan ia tersenyum untuk yang terkakhir kalinya sebelum ia meninggalkan kemegahan kehidupan dunia yang fana ini. Seketika tangis Mama pecah dan Ayah yang berusaha tegar segera memanggil dokter.
“Reia... Sayang, kenapa kamu pergi tinggalkan Mama, nak? Siapa yang akan menjadi permata hidup Mama? Reiaaaa....”, Mama terus saja berteriak menolak keadaan.
“Sabar, Ma.. Ini sudah menjadi takdir Reia, biarkan ia pergi dengan tenang. Mari kita berusaha untuk mengikhlaskannya”, Ayah berusaha menghibur Mama meski ia juga meneteskan air mata.
Akhirnya dengan bujuk rayu suaminya, Mamanya Reia berangsur-angsur tenang. Masih di tepi ranjang tempat berbaring Reia, Mama mulai melantunkan kalimat-kalimat do’a untuk anak semata wayangyayang  kini telah almarhumah. Dengan tusukan duka yang dalam, Ayah masih memimpin istrinya untuk tetap berdo’a kepada Sang Rahim untuk kebahagiaan Reia di alam sana.

Tiada seorang pun yang bisa memutar balikkan takdir Allah. Sekalipun ia orang terhebat.
Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA

Say No To Brother! - Isti Artika Haris - Lomba Menulis Cerpen

Say No To Brother!
Isti Artika Haris


Sejak awal, aku memang tak pernah suka punya adik. Karena menurutku, adik kecil itu, terutama adik laki-laki, sangat susah diatur. Maka dari itu sedari awal, sejak ayah bilang aku akan punya adik, wajahku sudah langsung menujukan tampang masam. Bahkan pernah ada yang mengucapkan selamat padaku tentang aku yang akan sebentar lagi jadi kakak, dengan sangat konyolnya, aku menangis! Bayangkan, dia hanya mengucapkan selamat padaku. Makanya, saat tadi pagi Ayahku berkata jika adikku akan lahir hari ini, aku langsung menangis dan minta dibawa ke rumah pamanku saja. Dan di sinilah aku sekarang, mendenenggakrkan ceramah dan sedikit penenggakjaran tentang enaknya punya adik dari Paman, Nenek, Kak Mita dan Kak Selly. Ugh, menyebalkan!

"Ayolah, Teh-"
Ucapan Kak Mita entah untuk yang keberapa kalinya aku potong, "Sheila enggak mau dipanggil Teteh!
Sheila enggak mau, Titik!!!"

     Kulihat Kak Mita menghela nafas frustasi. Kak Mita pun melirik Kak Selly yang ada di sebelahnya diam-diam. Frustasi harus memberiku nasehat yang baenggakimana, karena, dipanggil pun aku tak mau. Namun, aku bisa melihat jika Kak Selly sepertinya punya ide -lagi- cara membujukku.

"Dek, emang kenapa sih enggak mau punya adek? Punya adek enak lho," ujarnya. Tuh kan aku bilang apa, dia pasti punya ide lagi buat ngomong.
"Punya adek itu ngeselin, Kak. Pasti nanti kalau punya adek, Ayah sama Ibu enggak ngajakin aku main lagi! Mereka pasti sibuk sama adik aku, akunya dicuekin." ujarku sambil memainkan simpul bantal guling yang sedang kupegang. Kulihat Paman akan memberikanku nasehat lagi. Namun, (Walau aku tau) dengan sangat tidak sopannya aku memotong ucapannya, "Aku mau bobok. Ceramahnya di pending dulu. Good night, Paman, Nenek, Kak Mita, Kak Selly,"
Dan akhirnya hari ini aku pun terbebas.
*
Hari ini entah sudah hari keberapa aku memilih tinggal dirumah Pamanku. Aku masih dengan bersikeras tak mau pulang jika masih ada adik di rumah. Terkesan sangat konyol memang. Tapi yah sudah lah. Aku yakin Ayah sudah bosan membujukku. Karena, dapat kulihat dari jendela kamarku, Ayah tampak sangat frustasi. Well, seharusnya dia sudah tau aku keras kepala. Karena sifat itu juenggak diturunkan darinya.

*
Hari ini, entah ada angin apa, Paman Lion atau aku biasanya memanggilnya Paman Yon dan Kak Mita mengajakku ke Pantai Panjang, salah satu pantai terkenal di Bengkulu. Yah, tentu saja dengan senang hati aku menerimanya. Namun, ternyata mereka mengajakku ke sana hanya untuk membujukku untuk menerima adik baru. Dan kali ini aku berlaku konyol lagi, dengan cara kabur dari mereka. Namun, dalam acara  kaburku, aku bertemu dengan anak perempuan yang kira kira lebih tua dariku, 8 atau 9 tahunanlah tengah mengandeng anak laki-laki yang kira kira sebaya denganku. Mereka terlihat sangat senang. Dan dari pembicaraan yang ku dengarr, mereka seperti adik kakak. Kok, bisa akur begitu, yah? Namun, akhirnya hanya aku hiraukan saja dan berjalan kembali mencari Paman Yon dan Kak Mita, aku sudah tak berminat kabur, namun baru beberapa langkah aku berjalan, suara anak perempuan itu terdengar lagi,

"Punya adik itu memang enak, terutama adik laki-laki. Walau awalnya aku tak menyangka. Adik laki laki itu, nantinya yang akan menjadi pelindung untuk ku,"
Memang, sebegitu enaknnya, yah punya adik itu?
*
     Malam ini, aku tidak hanya makan bersama Nenek dan Paman Yon saja. Malam ini, kami kedatangan Paman Rama (Adik Paman Yon dan ibuku). Aku melihat sepertinya Paman Yon dan Paman Rama akrab sekali, sepertinya punya adik memang enak. Dalam hati aku menepisnya, 'Mereka kan sama-sama laki laki. Yah, pasti jarang bertengkarlah.

"Sheila kenapa diam aja, Nak?" suara Paman Rama menenggakgetkanku.
"Ahh, enggak papa, Paman! Cuma, lagi mikir aja. Malam ini siapa yang masak sih, kok Sup-nya ada brokolinya?" Yah, itu tak sepenuhnya bohong. Karena, tumben saja jika Nenek yang masak, kok Sup-nya ada brokolinya, kan Nenek tau aku enggak suka brokoli.
"Ahh, itu tadi titipan Tante Rini, istrinya Dang Lonson, inget kan?" aku mengangguk. Ohh... Ternyata  Tante Rini yang bikin. Wajar saja sih, Adek Arif kan suka sayuran yang bentuknya kayak pohon itu.
"... yang banyak," suara Paman Rama membuyarkan lamunanku. Ahh, ternyata Paman Rama itu sama cerewetnya dengan Ibu. Pasti saat aku melamun tadi, dia berbiara tentang 'makan sayur bikin sehat dan pintar', huh! Padahal ia tau aku benci sayuran.

*
Hari ini, harinya bersih bersih gudang. Yah, aku memang tak terlalu suka dengan hari ini. Kenapa?  Karena, di gudang itu pasti banyak sekali debunya. Yah, memang sih gudang di rumah Paman Yon tak terlalu tebal karena setiap bulan selalu di bersihkan. Tapi, yang namanya gudang, ya tetap gudang. Namun, saat aku tengah sibuk membersihkan tumpukan buku, yang sepertinya buku buku, Ibu, Paman Rama, Paman Yon dan Dang Lonson, sebuah buku bersampul hitam menarik perhatianku.

'Sepertinya buku diari,' batinku.

      Walau umurku baru empat tahun, tapi, Paman Yon sudah mengajariku membaca dan alhamdulillah saat ini aku sudah lancar membaca. Aku tertegun saat membaca isinya. Ternyata, dulu ibu juga tak suka jika punya adik. Sama sepertiku. Tapi, kenapa sekarang dia akrab sekali dengan Paman Yon, Paman Rama dan Dang Lonson? Tulisan tangan ibu pada halaman terakhir membuatku membeku.

'Awalnya aku memang tak punya minat sama sekali punya adik, karena menurutku mereka itu merepotkan. Namun, sekarang aku tau, mereka dangat menggemaskan dan lucu, sangat baik dan sangat menyenangkan. Ibu dan ayah juga tetap sayang padaku walau aku punya adik. Aku suka punya adik sekaran!

     Jadi ibu dulu juga sama sepertiku akan tetapi akhirnya dia bisa menerima adiknya? Bahkan ibu sudah punya tiga adik?
*
Saat ini Kak Mita dan Kak Selly sedang menemaniku bermain di padang rumput di dekat rumah Paman. Namun, dengan sangat tak terduga, ayah dan ibu datang ke sini. Sesuai dugaanku, mereka ingin aku pulang.

"Ayolah, sayang. Ibu dan ayah berjanji tak akan mengasingkanmu saat kau di rumah nanti. Kami menyayangimu, ada atau tidak ada adikmu kau tetap anak kami," bujuk ibuku.
Aku tak tau harus bilang apa. Sejujurnya hatiku sudah mulai luluh. Namun, pikiran tentang aku yang tak akan disayang itu tetap menghantui hidupku. Dan akhirnya setelah dibantu oleh Kak Mita dan Kak Selly juga yang lain aku akhirnya mau pulang.
*
Sudah beberapa hari ini, aku dapat merasakan, jika semua yang aku kira akan terjadi jika aku punya adik tidak terjadi. Oh, tuhan aku sangat bersyukur karena ini. Ternyata apa yang ibu tuliskan dibukunya itu benar!

"Sayang, ayo kita makan. Ibu tadi sudah memasakanmu Cumi kecap. Ibu yakin kau akan suka," Dan itulah, Ibu dan Ayah tetap menyayangiku. Seharusnya dari awal saja aku menerima punya adik baru. Mereka memang menggemaskan dan sangat menyenangkan.
*
            "Riski..... jangan dimainin tas, Teteh!!!!"

Huh, ternyata walau adik bayi itu menyenangkan dan menggemaskan dan tak ketinggalan lucunya, namun tetap saja tak ada yang sempurna! Adik laki-laki sudah pasti nakal. Buktinya saat ini, hari ini aku akan masuk TK. Yah, memang sangat lebih cepat dari seharusnya sih cuma, eh!!! Itu bukan topik kita! Huh, aku jadi lupa jika aku sedang berbicara tentang kenakalan adikku pagi ini. Hari ini aku akan masuk TK, dan dengan sangat menjengkelkannya adikku memainkan tas sekolahku. Yah, memang salahku juga sih meninggalkan tasku di sampingnya. Tapi, sekali lagi ini bukan tentang kesalahanku. Memainkan tas orang itu memang tetap saja tak baik! Ugh, aku sebal.

Yah, sekarang aku mengerti. Punya adik itu seperti menangkap burung merpati, susah susah gampang. Yah, walau begitu, hal yang paling utama di sini adalah,  ibu dan ayah tidak mengabaikanku.
Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA

Entri Populer

Blackjack widgets