Sunday, October 30, 2016 | By: Bagus Yulianto

Ayahku Dan Lilin - Yaser Fahrizal Damar Utama - Lomba Menulis Cerpen

Ayahku Dan Lilin
Yaser Fahrizal Damar Utama

 Hidup menjadi anak tunggal dan kedua orang tua yang bercerai membuatku tak mudah untuk menjalani hidupku seperti anak anak biasanya. Aku kesepian dan akupun sulit untuk bisa menerima takdir yang menimpaku.    Saat itu umurku masih 14 tahun dan masih duduk di bangku SMP. Ayahku memutuskan untuk menikah lagi dan akupun harus menjalani hidup dengan keluarga baruku ini. Sulit bagiku untuk beradaptasi apalagi aku juga harus mulai membagi kasih sayang ayah dengan adik tiriku yang masih sangat kecil. Aku sedikit frustasi pada saat itu.
Sejak saat itu kehidupanku mulai tak seperti biasanya. Prestasiku menurun, aku jadi malas bersekolah dan memilih untuk pergi ketempat dimana aku bisa menikmati kesendirian atau berkumpul bersama teman temanku di warnet untuk bermain game.
Rumah sudah tak senyaman dulu lagi. Hubunganku dengan ayahpun menjadi dingin. Sudah lama aku tak berbincang hangat dengan ayah, karena setiap ayah pulang selalu saja ada adik tiriku itu disampingnya. Sekalipun aku mengobrol, pasti hanya untuk meminta uang saku. Aku merasa kasih sayang ayah sudah tak ada lagi. Pirikanku kosong dan gelap. Yang yang aku pikirkan saat ini hanyalah "Ayah sudah punya mainan baru" dan "Ayah sudah tak sayang kepadaku lagi".
Suatu waktu sekitar pukul 8 malam aku pulang kerumah. Seharian aku bermain game di warnet. Karena aku merasa lelah aku langsung berbaring di tempat tidur. Tak butuh waktu lama, mungkin karena kondisi badanku yang lelah akupun langsung terlelap.
 Tiba - tiba, ayahku membangunkan aku. Dengan perlahan aku melirik ke arah jam dinding yang menunjukan pukul jam 12 malam. Di hadapanku ada ayahku, ibu tiriku dan juga adik tiriku yang juga ikut duduk disampingku dengan mata yang masih mengantuk. Ayahku membawa sebuah piring putih datar yang diatasnya ada puding yang ditumpuk dan diletakan lilin di bagian tengahnya. Cahaya dari lilin itu membias di wajah ayah dan aku mulai memandang wajah ayah. Aku bertanya pada diriku sendiri "Ada apa ini?". 
Lalu ayahku berbicara memecah keheningan malam itu dengan berkata "Selamat Ulang Tahun Anakku" . Aku terkejut, Aku mengira ayah sudah tak sayang lagi padaku tapi ternyata ayah masih mengingat hari ulang tahunku. Aku tak sanggup berkata apa apa dan akupun meneteskan air mata. Setelah itu, ayahku mengusap air mataku sambil berkata, "Hentikan tangisanmu, kamu anak laki laki kamu harus kuat, ayah tak akan lupa hari ulang tahunmu nak. Meskipun ayah mempunyai keluarga baru kamu tetap anak ayah. Mungkin mamahmu sudah bukan istri ayah lagi, tapi kamu akan selalu jadi anak ayah". Aku masih tak bisa berkata kata lalu aku usap air mataku yang masih tersisa. "Kamu lihat lilin ini nak? Semakin lama lilin ini semakin memendek dan akhirnya akan padam. Seperti itu pula ayah, ayah tak akan selamanya menerangi jalanmu. Setelah ayah tidak menemani dan menerangi jalanmu lagi, kamu akan sendirian". Air mataku menetes lagi. Ayah melanjutkan lagi kata katanya  "Kamu harus lanjutkan sekolahmu nak, kamu harus terus belajar agar kamu siap untuk menjalani kehidupanmu di masa depan, Ayah dan mamah tidak selamanya akan menemani kamu, kelak kamu akan sendirian dan kamu harus sanggup menjalani itu. Hari ini umurmu sudah bertambah satu tahun, dan ayah harap kamu bisa lebih dewasa lagi. Jangan terus menyesali masalah keluargamu yang sudah tak bisa bersatu lagi. Mungkin ini sudah takdirmu nak". 
  Setelah ayah selesai berbicara, ayah menyuruhku untuk membacakan membuat permintaan dan meniup lilinnya. "Maaf, ayah sedang tidak punya uang ayah tak mampu beli kue ulang tahun untuk kamu dan ayah juga tidak membelikan kamu hadiah" ujar ayahku. "Gak masalah yah, makasih. Buat aku dengan ayah ingat hari ulangtahunku saja aku sudah sangat senang" jawabku sembari memeluk ayah. Setelah itu aku minta maaf dan berterimakasih juga untuk ibu tiriku dan adik kecilku itu.
 Keesokan harinya aku berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan terpuruk hanya karena masalah ini. Orang tua yang bercerai bukan alasan untuk anaknya hanya berdiam diri dan menjadi sampah. Aku akan lanjutkan sekolahku dan menjalani kehidupanku dengan penuh semangat.

 Akhirnya kehidupanku mulai membaik lagi dan prestasiku disekolahpun meningkat lagi. Terbukti dengan aku mendapatkan kembali gelar juara kelas. Aku berhasil keluar dari dunia gelap yang pernah aku singgahi. Aku sangat bersyukur pada Alloh karena masih memberiku kesempatan untuk aku bertemu kedua orang tuaku meski sudah tidak bersama layaknya keluarga lain. Memang jalan ceritaku berbeda dengan anak anak lain diluar sana tapi itulah kelebihanku. Aku bisa keluar dari masalah yang menimpaku, aku bisa keluar dari keterpurukan dan saat aku keluar dari masalah itu, kehidupanku lebih baik lagi dari sebelumnya. Mungkin  ini juga yang di sebut skenario Alloh, pasti ada hal baik yang bisa di ambil dari setiap peristiwa. Sebagai seorang anak, aku ingin kedua orang tuaku bahagia dengan jalan jalannya masing masing. Itulah doaku saat ulang tahunku.
Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA

0 comments:

Post a Comment

Entri Populer

Blackjack widgets