Friday, January 1, 2016 | By: Bagus Yulianto

Keunikan dan Kehebatan Suku Minang

Keunikan dan Kehebatan Suku Minang



Suku bangsa Minangkabau, menurut Tambo mempunyai nenek moyang keturunan dari Iskandar Zulkarnain, yang dinukilan dalam al-Quran pada surat al- Kaffi. Banyak pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud Iskandar Zulkarnaini adalah Alexander the Great yang hidup sekitar abad ke 4 sM*. Orang Minang sangat bangga dengan garis keturunan tersebut. Apalagi nenek moyang mereka yang bernama Maharaja Diraja bersaudara dengan Maharaja Alif dari negeri Rum, dan Maharaja Dipang dari Cina. Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa Iskandar Zulkarnain tersebut bukan Alexandre the Great. Yang dimaksud dalam al-Quran adalah seorang raja yang hidup sezaman dengan Nabi Musa, yang hidup pada abad ke 13 sM. Zulkarnaen itu artinya seorang raja mempunyai “dua terompet”, yang mampu mengalahkan Yakjul dan Makjut. Dan juga mampu membuat benteng tinggi sehingga kedua makhluk tersebut, tidak bisa masuk.
            Suku bangsa Minangkabau, adalah masyarakat perantau, seperti juga bangsa Yahudi. Kalau bangsa Yahudi merantau karena negeri mereka diporak-porandakan bangsa penjajah. Akan tetapi orang Minang merantau adalah untuk mencari ilmu pengetahuan sekaligus mencari penghidupan. Dalam sebuah mamangan mereka, berpetuah : Karatau madang diulu, babuah babungo balun. Marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun ( Karatau madang di hulu, berbuah berbunga belum. Merantau bujang dahulu, di rumah berguna belum). Di samping itu orang Minangkabau memiliki filsafat yang mereka sebut Alam takambang jadi guru, dengan filsafat ini mereka dapat menyesuaikan diri di mana mereka berada. Mereka juga cerdas dan cerdik seperti bangsa Yahudi tapi berpantang  berperangai licik seperti orang Yahudi.
            Serupa tapi tak sama dengan nasib bangsa Yahudi, negeri Minangkabau pun silih berganti diduduki oleh bangsa maupun kerajaan lain. Namun bukan seperti orang Yahudi, suku bangsa Minang tidak pernah terusir oleh bangsa atau kerajaan asing yang menjajahnya. Malah mereka yang datanglah yang harus menyesuaikan diri dengan masyarakat Minangkabau.
            Adat dan filsafat Minangkabau terus mereka pakai. Dengan adat dan filsafat tersebut orang Minang mampu menampilkan jati diri mereka. Mereka dikenal menganut paham egaliter atau kesetaraan, mereka tidak merasa canggung berhadapan dengan bangsa maupun suku bangsa mana pun. Orang Minang dikenal pintar berbicara, kepintaran mereka berbicara tersebut mereka asah di lapau-lapau. Dalam berbicara mereka menggunakan kias dan tata tertib bicara. Kelebihan orang Minang yang menonjol adalah mampu “membaca pikiran” lawan bicaranya. Sikap kesetaraan yang dianutnya, membuat ia sangat Pe-De (percaya diri) dalam posisi yang bagaimanapun sulitnya.


            Pada pasca perang saudara (PRRI), kendatipun mereka berada dipihak yang”kalah” , orang Minang masih bisa memasuki pikiran orang yang mengalahkannya. Tatkala Sukarno berkuasa, mereka berhasil memberi gelar pada Hartini, salah seorang istri Sukarno. Gelar tersebut adalah gelar kebesaran perempuan bangsawan Minangkabau, yaitu Bundo Kandung. Di mana Bundo Kandung, diyakini sebagai ratu di negeri tersebut. Dan di saat sekarang, beberapa orang pejabat negara mereka beri gelar kebesaran adat Minangkabau. Orang Minang tahu benar, jika seseorang telah mempunyai kecukupan materil maka mereka akan mencari dan ingin mendapat kebesaran nama, yaitu Simbol status.
            Soal pantas atau tidak, dan pro atau kontra adalah soal lain. Tapi mereka telah mampu menyalurkan keinginan orang lain. Di mana keinginan orang lain tersebut tidaklah merusak dan merugikan mereka. Orang Yahudi boleh saja bangga karena telah berhasil menguasai “pikiran” negara barat. Dan menindas bangsa Palestina tapi mereka dikutuk dunia. Sementara itu kebanggaan orang Minangkabau tidak pernah merusak orang lain. Orang Minang bukan suku bangsa penjajah dan zionis tapi secara semu anda pasti menemukan “penjajahan tanpa senjata” Di mana-mana anda pasti menemukan rumah makan Padang (baca rumah makan Minang) , dan selera anda akan cocok dengan masakan hidangan mereka. Kelakar mereka adalah, “ andaikata sudah dibuka permukiman di bulan, maka orang Minag pasti membuka rumah makan di sana.” Mereka yang pernah bertugas dan bermukim di Minangkabau, pasti merasakan bahwa jiwa mereka sebenarnya telah “tinggal” di negeri ini. Walaupun mereka telah kembali ke kampung halamannya.   
            Orang Minang dalam petuahnya menyatakan : Kok gapuak indak mambuang lamak. Kok cadiak indak mambuang kawan. Kalau mandepek, urang indak kahilangan. Lamak di awak katuju di urang! ( Jika gemuk tidak membuang lemak. Kalau cerdik tidak membuang kawan. Kalau mendapat, orang tidak kehilangan. Senang bagi kita, urang lain setuju) Itulah pikiran orang Minang yang mendunia.


Minangkabau atau yang lebih dikenal dengan Minang adalah salah satu suku etnik di indonesia yang menjunjung adat dan istiadatnya, yang mana terletak ditengah Bukit Barisan, pegunungan yang membujur hampir sepanjang pulau Sumatra, tepatnya di Sumatra Barat.
Dilihat dari penduduk nya masyarakat Minang masih menjunjung adat kebersamaan dan saling bergotong royong. Namun kebanyakan penduduk Minang keluar dari tanah leluhur nya untuk merantau karena ada pepatah yang mengatakan bahwa orang Minang dikatakan mandiri dan dapat bertahan dengan keluar dari tanah kelahiran nya dan mengadu nasib di kota atau negeri lain, sampai saat ini banyak suku minang yang tersebar di seluruh pelosok negeri ini lebih tepatnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Palembang, Medan, Aceh, Batam, dan masih banyak lainnya, bahkan sampai di semenanjung Malaysia dan Singapura.
Berdasarkan sensus tahun 2010, etnis Minang yang tinggal di Sumatera Barat berjumlah 4,2 juta jiwa, dengan perkiraan hampir separuh orang Minang berada di perantauan.
Jika sesama warga Minang merantau dan bertemu disuatu tempat, maka mereka akan menganggap jika mereka itu saudara, karena tali persaudaraan antar warga Minang sangat kuat, jadi sekalipun itu bukan saudara sedarah, namun akan tetap jadi saudara setanah leluhur.


Masyarakat Minangkabau dikenal sebagai suatu masyarakat yang sangat religious. Ada pepatah yang mengatakan, dimanapun kita berdiri diranah Minang, dapat dipastikan kita akan mendengar kumandang adzan, panggilan untuk beribadah lima waktu. Kearah manapun kita menengok, hampir dipastikan kita akan melihat kubah sebuah masjid, minimal sebuah surau dengan arsitektur Minang yang khas.
Bahkan jika ada yang keluar dari agama islam, maka orang tersebut akan dikucilkan dari lingkungannya bahkan ia akan dianggap keluar dari masyarakat Minang.
Minangkabau adalah suku yang unik, mulai dari adat istiadat, kesenian, rumah adat, sampai makanan.


Masyarakat Minangkabau adalah masyarakat yang demokratis dan egaliter, jadi semua masalah yang menyanggkut keseluruhan masyarakatnya wajib dimusyawarahkan secara mufakat.
satu lagi keunikan dari masyarakat Minangkabau adalah masyarakat yang menganut sistim matrilineal, dimana garis ibu lebih dominan dan hukum mengikuti garis ibu, yang mungkin di Indonesia hanya terdapat di Minagkabau.
Dan lagi untuk pembagian harta warisan, maka pihak perempuan berhak menerima lebih dibanding laki-laki.
Kesenian dalam masyarakat Minang sangat banyak, mulai dari tari-tarian, seni bela diri, sampai seni dalam berkata-kata, dalam seni berkata-kata ini seseorang diajarkan untuk mempertahankan kehormatan atau harga diri, tanpa menggunakan senjata dan kontak fisik.
Nilai positif dari suku minang adalah, suku minang menganut sistim matrilineal yang mana keturunan berdasar garis ibu, jadi harta jatuh ke tangan wanita.
jadi apabila suatu saat lelaki meninggalkan wanita, maka wanita itu tidak menjadi rentan dan terlalu bergantung pada pria.

Sumber :

Silahkan baca kumpulan cerpen dan kumpulan puisi lainnya!


Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA

1 comments:

Post a Comment

Entri Populer

Blackjack widgets