Saturday, November 5, 2016 | By: Bagus Yulianto

Antara Aku, Dokter dan Sampah - ROHMAT Universitas Sriwijaya - Lomba Menulis Cerpen


Antara Aku, Dokter dan Sampah
Karya : ROHMAT Universitas Sriwijaya
Suasana yang cerah berselimutkan hawa dingin menyambut pagi ku hari ini, awan biru bersahabat dengan cahaya mentari menghiasi langit nan indah. Tak jarang kulihat burung berterbangan melintasi Khatulistiwa. Nyayian merdunya memecah kesunyian alam. Mata ini di manjakan dengan suguhan panorama alam yang setiap hari jadi pemandangan. Di pinggiran koridor nan elok tak tertandingi keindahan rupa parasnya taman hijau. Aku berdiri di bawah pohon mangga yang rindang,merebahkan tubuh di antara rumput yang empuk tempatku berpijak, melipat kedua kaki dan menjadikan reruntuhan daun sebagai alasnya. Mencoba menjernihkan pikiranku di atas kepenatan yang selama ini mendiami saraf-saraf otakku.
Dan walaupun hembusan angin timur yang dingin menusuk tulang,Aku akan terus berjuang hingga mendapati gelar lulusan sarjana pendidikan. Di tahun kedua Aku menimbah ilmu, setidaknya semakin banyak hal yang Aku alami. Buku-buku tebal sudah melambaikan tangannya menyambut kehadiranku. Tiba-tiba bel sekolah memangil-mangil para siswa untuk masuk ruangan. Semuanya sudah berlarian, Aku mulai mengayunkan kaki menuju pintu yang setengah tertutup. Pelan-pelan Aku mendorongnya, kelas yang terdengar berisik langsung sepi. Mereka mengira yang datang itu Ibu Sariyani. Teman-teman melihat jijik ke arahku, begitu hinakah tingkahku sehingga mereka membenciku. Terbesit tanya di hati, Apa yang salah padaku?. Keheranan yang menyesakkan dada setiap orang yang mengalaminya. Semuanya tertawa terbahak-bahak seperti mendengar lelucon aneh. Aku hanya bisa terdiam. Menatap kosong pintu ruangan.
Aku sandarkan tubuhku pada kursi favoritku, sekarang sedih mulai membayangiku. Terlintas dalam benakku. Bagaimana esok Aku akan menjalani kehidupanku kalau Aku mudah putus asa?. (Huuu...) ku hembuskan nafas panjang menatap langit-langit kelas. Aku memikirkan hal yang baik. Bukan menuruti emosiku yang mengebu-gebu. Saat itulah seseorang telah mendekatiku.

Ibu Sariyani membuyarkan lamunan ku. Dia menatapku heran dan langsung mengintrogasi layaknya anggota Polisi.
“Ada apa denganmu?”
  Akumenoleh saat tangannya pelan menyentuh bahu.
“Kamu sakit ya?”. Menatapku tidak mengerti .
“Tidak Bu, Aku baik-baik saja.” Jelasku.
“Dasar dia tuh cari muka Bu.” Kata Lesmana.
“Kamu tidak boleh begitu sama temanmu, sekarang push up sepuluh kali!” Tegas Ibu Sariyani.
Lesmana push up tergesa-gesa, setelah itu ia kembali ketempat duduknya namun Ibu Sariyani menyuruhnya menghampiriku.
“Lesmana, cepat minta maaf pada temanmu!”
“Tapi, Bu.” Lesmana  membantah.
“Tidak ada tapi-tapian, cepat! atau ?... mau ibu keluarkan?”
“Ya iya deh Aku minta maaf.” Dengan raut wajah merah Lesmana terpaksa menghampiriku. Lesmana menggerutu “ini semua salahmu” dan meremukkan jari tanganku.
Sebuah tepukan tangan menyadarkanku dan mengembalikan ingatanku.
“Kamu yang sabarya”. Sambung Ulpa mengelus pundakku.
“Ya, terima kasih sudah mengingatkanku.” Aku berbisik
“Itu sudah kewajibanku teman.” Ulpa mengangguk, bergegas melangkah di lorong antar kursi.
Pelajaran kami pun di mulai dengan hikmat. Seraya membolak-balikan lembaran-lembaran materi. Bunyi keroncongan terdengar dari perut Lesmana, itu pertanda telah mendekati waktu istirahat. Setelah bel berbunyi, semua siswa mulai balapan menuju kantin, kecuali Aku yang hanya berada di kelas.
“Nak, boleh Ibu tahu apa yang ada di pikiranmu?”
“Ini... masalah pribadi Bu.” Suaraku bergetar.
“Mungkin Ibu punya solusinya. Coba kamu ceritakan!.”
Aku mencurahkan semua isi hatiku pada Ibu Sariyani segala unek-unek dalam otakku di keluarkan. Sebenarnya beban ini sudah lama kutanggung sendiri.Sekarang Aku merasa plong. Setelah beliau memberikan motivasi dan menyemangatiku. Dan mengatakan “Hidup seperti sebuah pohon, jika setiap hari pohon itu disiram dengan kasih sayang maka akan tumbuh menjadi pohon yang besar dan berwibawa.
Ditengah pembicaraan kami tiba-tiba terdengar suara orang menabrak benda plastik. Aku dan Ibu Sariyani tekejut ketika melihat tanaman berjatuhan dari pot yang berserakan.
“Rasain Loh ngapain juga ngehalangi gue. Hahaha...”
“Lesmana kamu sudah keterlaluan” Sambung Ibu Sariyani.


“Orang nggak sengaja kok. Aduh sakit nih.” Jawab Lesmana sambil menggosok lututnya.
“Banyak alasan kamu.”
“Mungkin Lesmana tidak sengaja Bu.” Aku berusaha meyakinkan Ibu Sariyani.
Perbuatan Lesmana membuatku kesal karena pot itu sudah kuanggap sebagai temanku sendiri selainitu, Aku mencemaskan keindahan Bumi yang makin lama makin terkikis oleh tangan-tangan yang  tak bertanggung jawab.
Aku berlari menyelamatkan sahabat kecilku itu. Pot itu tidak bisaku manfaatkan lagi, karena telah hancur berkeping-keping. Hatiku juga ikut hancur lebur, tapi yang sudah terjadi biarlah terjadi. Tak usah di ungkit lagi. Sekarang apa yang harus Aku lakukan ?. Aku jadi teringat pelajaran kewirausahaan kemarin. Akhirnya sebuah botol plastik air mineral menjadi penolongku saat itu. Kumasukan tanah dengan sepenuh hati. Abra kadabra rumah barunya sudah selesai.
“Dan semoga ini pas untukmu teman, juga air ini cukup untuk menghilangkan dahagamu.”
“Ibu kagum pada pelajar sepertimu nak.” Menatap bangga padaku
“Aku sudah biasa melakukannya Bu.” Aku tersenyum.
“Biasa aja kale, dia kan mao jadi dokter Bu, gila kan apa hubunggannya dia, dokter dan sampah itu?.” Lesmana menimpali dan mulai melangkah jauh dengan kaki memar.
Karena di era modernisasi banyak orang tidak perduli lagi terhadap lingkungannya. Itu aneh bagi mereka. Memang benar apa yang dikatakan Lesmana. Dokter adalah impianku. Walaupun itu belum tercapai tapi setidaknya Aku telah menjadi dokter bagi lingkunganku. Tumbuh-tumbuhan sebagai pasiennya. Dengan cara merawat dan menjaganya paling tidak Aku telah mengusir penyakit yang dapat menyerang bumi secara tiba-tiba, salah satunya Global Warming. Ini bukanlah istilah yang baru bagi masyarakat umum. Karena mencegah lebih baik dari pada mengobati.

Segala usaha yang Aku lakukan ini adalah salah satu bentuk balas budiku pada alam. Kira-kira dua tahun yang silam Aku terselamatkan oleh daun saga. Ketika itu Aku mengikuti Lomba Pidato di tinggkat Provinsi. Tinggal menghitung menit menjelang penampilanku, tenggorokanku terasa gatal di tambah lagi batuk berdahak yang tak kunjung reda.Untunglah Ibu ku memberikan ramuan obat tradisional itu.Rebusan daun saga yang berasa manis ini ternyata mampu mengeluarkan dahak dan melegakan tenggorokanku yang membuat Aku meraih mendali. Selain itu daun saga juga telah menolong Ibu ku dari penyakit darah tingginya. Sungguh daun saga telah banyak berjasa pada keluargaku. Sejak itulah Aku mulai tergugah (Hmmm...) “GO GREEN akan Aku terapkan, entah itu di rumah, di sekolah, dimana pun pokoknya. Kini bola mataku berwarna hijau deh.
Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA

3 comments:

Post a Comment

Entri Populer

Blackjack widgets