Saturday, November 5, 2016 | By: Bagus Yulianto

Jalan Hidup - Washi Jalaluddin - Lomba Menulis Cerpen

Jalan Hidup
Washi Jalaluddin

            Perkenalkan namaku Washi Jalaluddin. Aku hidup bersama keluarga di Banyumas. Sebuah kota kecil yang berada di Jawa tengah. Ayahku bekerja sebagai penjual jasa fotocopy dan pencetak undangan. Ibuku menjahit dirumah tetangga. Kedua kakakku sekarang masih bersekolah, yang satu Kuliah dan yang satu lagi SMA. Kedua kakakku wanita sehingga sifatku juga sedikit kewanitaan. Aku sendiri sekarang bersekolah di SMK N 1 Purwokerto. Salah satu sekolah favorit dikotaku. Tetapi, yang ingin kuceritakan adalah masa laluku.

            Saat smp, aku bersekolah di SMP N 2 karanglewas. Sebuah sekolah yg terletak di barat kota Purwokerto tepatnya didesa Pangebatan. Aku  memiliki misi disekolah ini yaitu memiliki gerombolan teman seperti kakakku. Oleh karena itu, aku mencoba bersikap pecicilan alias banyak gerak kesana kesini. Aku duduk dikelas 7E namun karena siswanya ganjil, akhirnya aku dipindahkan ke kelas 7C. Dikelas 7 semester 1 misiku gagal karena mungkin ini masih awal. Kelas 7 semester 2 sebagian besar ada yang menyukaiku tetapi rata – rata wanita dan laki – laki lebih menganggapku “banci”. Nasib baik ada yang masih mau berteman denganku yaitu Risky, Kholil, David, Chandra, Taufik, Apriyatno, Sofian dan Arifin. Mereka adalah teman karibku.

Kenaikkan kelas tiba dan alhamdulillah aku bisa naik ke kelas 8 dan diterima dikelas 8A yang fasilitas kelasnya sangat bagus. Ternyata disekolahku ini jika naik kelas maka siswa-nya diacak jadi satu kelas berbeda anak lagi. Paling hanya ada empat sampai lima anak yang berasal dari kelas yang sama. Aku berpisah dengan kawan lamaku dikelas tujuh kecuali Chandra. Kini dikelaku yang baru, kucoba mengubah prinsip hidupku. Dari anak yg suka dengan religius, manja, centil, dan kutu buku menjadi anak nakal, berkata kasar atau jorok, suka band rock,  rambur gondrong lalu dijambulkan ke atas, dan duduk  bahkan yang lebih parah adalah merokok. Aku mulai suka pulang malam dan bermain dengan anak – anak jalanan agar terlihat maco. Semua ini kulakukan supaya tidak diejek dengan kata “banci” lagi. Walaupun penampilanku sudah begitu nakal, dalam jiwaku sebenernya masih anak cupu yang gak ngerti apa – apa tentang dunia luar.

            Meskipun gayaku begini, Chandra yang anaknya baik masih mau berteman denganku. Begitu juga dengan Sendi, Akhnan, Yogi dan Ibnu teman baruku disini. Aku tidak tahu kenapa mereka bisa nyaman dengan gayaku yang seperti ini. Tetapi, terima kasih karena telah menjadi teman baikku. Selain itu aku juga dapat bergaul dengan mereka – mereka yang menurutku anak gaul. Aku mulai mengikuti gaya mereka.

Suatu hari saat pulang sekolah, kami pulang bersama dan biasa nongkrong dahulu dijalanan sebelah rel kereta api. Salah satu dari temanku membawa alkohol dan mereka meminumnya bersama. Mereka juga menawariku dan mengancamku jika tidak diminum itu artinya aku cupu, banci, dan tidak boleh bergaul lagi dengannya. Aku tau ini adalah dosa besar karena setetes saja darah manusia akan haram hukumnya diakhirat nanti. Tetapi demi pergaulan, akhirnya kunikmati minuman itu. Tanganku sudah bersiap menerima gelas berisi alkohol itu meskipun bergemetar. Tiba – tiba kereta datang dengan cepat dan membunyikan klakson sangat keras sehingga membuat temanku terkejut dan menjatuhkan gelas itu kejalan. Serpihan pecahan gelas dan tumpahan alkohol berserakan. Karena takut ketahuan warga sekitar akhirnya kami kabur.


Kenaikan semester tiba. Nilaiku sangatlah buruk. Parahnya lagi nilai agamaku adalah C+. Kurasa aku sekarang mulai menjadi bodoh. Aku khawatir tidak bisa naik kelas dan harus mengulangi 1 tahun lagi. Pulang sekolah seperti biasa berkumpul dengan mereka anak nakal. Aku bertanya kepada mereka soal kenaikkan kelas ini dan salah satu temanku menjawab kalau semua pasti naik kelas karena SMP ini pasti malu memiliki murid yang tidak naik kelas.
           
            Mulai dari sini aku mulai sadar bahwa diriku salah telah memilih pergaulan seperti ini. Tidak seharusnya aku bergaul dengan mereka yang berbeda denganku. Hidupku jelas lah berbeda dengan mereka. Kini aku mulai meningglkan semua itu. Aku lebih memilih bergaul dengan Chandra, Sendi, Yogi, Ibnu dan Akhnan yang sejalan denganku. Tak peduli harus diejek “Cupu”,”Banci” atau “Bencong” yang penting adalah menjadi diri sendiri. Tak peduli harus pulang sekolah sendirian tanpa ditemani mereka yang penting aku tetap dijalan yang benar. Tak peduli harus kurang pergaulan yang terpenting aku bisa menjalani hidupku sendiri.

            Kuhapus semua lagu – lagu rock dan kudownload kembali sholawat – sholawat dari Habib Syech, lantunan lagu religi dari Opick, Hadad Alwi, Ceng Zam Zam dan Snada. Ku hentikan kebiasaan merokok karena memang rasanya tidak enak dan hanya membuat sesak nafas. Ku hentikan kebiasaan keluar malam karena hanya merusak mata dan gak ada gunanya juga. Ku cukur rambutku ini supaya terlihat lebih rapi. Temanku kini tak sebanyak sebelumnya tetapi aku senang karena mereka tidak mbejud alias nakal.

            Akhirnya aku naik kelas sembilan dan memang benar yang dikatakan mereka si anak – anak nakal bahwa semua siswa akan naik kelas meskipun nilainya kecil teatapi, menurutku nilai yang tinggi itu juga penting. Dikelas sembilan ini aku bertemu lagi dengan teman – temanku dulu dikelas tujuh hanya sayang sekali kholil harus pindah ke kelas sembilan b. Aku mulai dikenal oleh banyak siswa disini. Ini semua berkat Risky yang telah berbaik hati mengenalkanku dengan teman – temannya yaitu anak osis. Banyak adik kelas yang menganggapku anggota osis karena memang aku sering berkumpul dengan mereka.


            Dikelas sembilan ini, aku sangat bahagia karena banyak yang mengenalku mulai dari guru, adik kelas, ibu kantin dan sebagainya. Aku bahagia menjadi seperti ini karena diriku sendiri, bukan karena banyak masalah atau menjadi anak nakal. Meskipun terkadang aku menyukai gaya mereka anak – anak nakal tetapi yang penting tidak sampai terjerumus kehidupan seperti itu lagi. Namun setelah lulus, kita jarang bertemu lagi. Aku rindu masa masa bersama mereka, ketika bermain kartu bersama, bernyanyi – nyanyi dikelas, sholat berjama’ah dan lain sebagainya. Paling hanya Risky yang bisa kuhubungi dan bertemu langsung dengannya. Itupun sangatlah jarang. Namun itu hanyalah masa lalu dan kujalani masa sekarang. Tak kan ku ulangi kesalah untuk kedua kalinya. Kini misiku bukan untuk menjadi terkenal, dikenal dan memiliki banyak teman. Tetapi misiku adalah menjadi anak yang berprestasi dan bisa membahagaikan orang tua, saudara, tetangga, teman, kotaku dan negaraku.
Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA

0 comments:

Post a Comment

Entri Populer

Blackjack widgets