Saturday, November 5, 2016 | By: Bagus Yulianto

MEMASANG BINTANG - Tengku Marni Adriyah - Lomba Menulis Cerpen

MEMASANG BINTANG
Karya : Tengku Marni Adriyah

            Kak temi. Begitu biasa kami memanggilnya. Perempuan manis, wanita baik hati, tetangga pengertian dan ibu yang sempurna. Kak temi tidak diberi kesempatan menjadi istri yang sholehah,karena ketika dia sedang mengandung anak ketiganyan 7 bulan, sang suami sudah berpulang ke Rahmatullah, tanpa pesan, tanpa salam perpisahan apalagi harta warisan.
            Sttt…tapi hal ini jangan sampai terdengar sama kak Temi ya, dia marah besar.dia pasti bilang “ ada kok warisan yang dia tinggalkan, tiga anak gadisku  itu ya warisan”.
 kalo melihat lengkungan bibirnya, kalian pasti bilang saya berdusta, “ wong kak temi senyum kok dibilang marah”, sttt….liat matanya saudara-saudara, kilatan fenomena Aurora di daerah kutub, tau kan kalian fenomena Aurora?. Fenomena dimana langit bercahaya warna-warni didaerah kutub seperti mempunyai lidah, dan lidah itu seperti menjulur-julur mau memeluk bumi. Mungkin kalo kejadian itu terjadinya di kampung kita, mesjid-mesjid setiap dusun sudah penuh, 80 persen pria dewasa dan wanita dewasa tidak henti-hentinya sholat taubat. Tapi untuk orang – orang diluar negeri sana, mereka sengaja datang ke kutub untuk melihat kejadian itu. Suatu pemandangan yang luar biasa indah, kejadian alam yang sebagian orang sangat dinantikan, tapi sangat menakutkan bagi sebagian lain.nah, itu dia, kilatan mata kak temi lebih mengerikan daripada kilatan aurora. Tapi aku sering sengaja memancing kilatan Aurora di mata kak Temi, karena setelah kilatan itu hilang, semangat kak temi akan naik beratus kali lipat.
Gelap. Tadi malam Cuma bulan sabit yang berkunjung, sisa-sisa sinarnya bahkan tak mampu menyinari pucuk daun. Sebagian orang masih memeluk mimpi, sebahagian lagi baru akan bermimpi, tapi di dalam gelap, Kak Temi sedang berusaha  mewujudkan mimpi.
Dari atas pohon jambu biji,si Jago sudah pasang kuda-kuda, biasa,  mau pamer suara sekaligus melaksanakan tugas desa, membangunkan warga untuk sholat subuh dan siap-siap bekerja. Beres, kata kak Temi. Tumis pakis, goreng ikan asin, plus menu special nan nikmat , telur bebek yang diracik dengan tambahan irisan bawang merah, cabe kecil,asam sunti (asam belimbing wuluh yang telah dikeringkan), dan sedikit taburan irisan daun kunyit sebagai penghilang bau amis pada masakan, dadar gurih namanya. sttt… itu resep turun temurun keluarga  kak Temi, semua menu itu sudah tersusun manis diatas meja makan yang terbuat dari 4 bilah papan sisa, di paku mati ke dinding dapur.
Subuh. Embun mulai menguap, gontai dan malas.  Tapi dirumah kak Temi, inilah waktu yang paling sibuk. si Sulung sedang membereskan rumah, anak keduanya yang masih SMA kelas 3, sibuk menyiapkan bekal makan siangnya, di sekolahnya sudah diadakan les sore khusus. Sementara si bungsu yang masih kelas 9, bertahan di meja makan sampai kedua kakaknya berteriak, “jangan badan aja yang dibesarin,Cita-cita juga harus besar”.  si bungsu senyum malu-malu. Dia memang agak berbeda dari kedua kakaknya. Cita-citanya jadi tukang jual tebu, dengan alasan supaya gratis minum tebu. Maklum si bungsu ini belum pernah dapat penataran cita-cita, sementara kakaknya sudah lebih dulu ikut penataran cita-cita, dan nara sumbernya adalah kak Temi. Si Sulung sedang menunggu hasil seleksi tulis, sekolahnya mengirimkan permohonan beasiswa ke salah satu Universitas terbaik di negeri ini, prestasi belajar si Sulung memang selalu membanggakan sejak ia kecil.
Lalu dimana kak Temi pagi- pagi begini?
Suara tangisan bayi terdengar di rumah wak minah, rumah itu sedang diselimuti suasana bahagia, anak tertuanya yang tinggal di pulau Jawa baru saja melahirkan putra pertamanya. Wak Minah kena Syndrom, ketakutan jadi nenek. Tidak berani memandikan bayi : takut tergelincir, takut terkena luka di pusat, takut bayi menangis, takut ini, takut itu. Pagi itu kak temi mengambil alih semua tugas ibu dan nenek. Mulai dari mengurut si bayi, memandikan bayi,ia selalu sebagai orang pertama yang menciumi bayi di pagi hari setelah mandi pagi tentunya. Selesai mengurus bayi, biasanya Kak Temi mengurus ibunya, mengurut, membuatkan jamu, melumuri tubuh ibu yang melahirkan dengan parem. Rutinitas yang sama setiap hari, dimulai pukul enam sampai pukul 8.00 wib.
“ ngurut nandi neh mi?” Tanya Wak Minah,sembari meletakkan teh manis dan lontong di depan kak temi.
 “arek nang omah Lek Kiman ndesek,omongne mau bengi masuk angin, trus omah Lek Sadi, bojone ,tibo. Terkilir sikelne. Eneng papat iki, tapi seng loro, agak awan aelah”
Kak Temi kembali mengayuh sepedanya, biasanya selesai memandikan bayi, ia akan ke polindes sebentar. Mengobrol dengan bidan dan perawat disana. Ada saja hal- hal yang ia ingin tau, dan ada saja berita-berita kesehatan yang ia ingin dengar. Sang bidan pun biasanya memanfaatkan kedatangan Kak Temi
 “ jangan lupa ya kak Temi, bilang sama yang punya anak bayi, ada imunisasi hari rabu”. Kak Temi akan bahagia sekali menerima amanat itu, dia akan merasa bahwa ia bisa sangat bermanfaat untuk orang lain.
“udah keluar hasil ujian Anis, kak Temi’ .
 “belum, minggu depan katanya”.
“salut kami sama kak Temi ini, anak perempuan semua, dan semuanya harus sekolah, anak kami aja dua ngak sekolah kak Temi, ngak tamat SMP”. Kata  petugas kebersihan polindes.
“ kalau dia ngak sekolah Kak Leha, mau jadi apa?, hidup ini kan baru hidup namanya kalau sudah ada gunanya untuk orang lain”.
“ oya Tak temi. Besok pagi jangan lupa datang kerumah anak Wak Goyah, anaknya baru operasi cesar, kusuk belakang aja ya!”. Kak Temi menganguk cepat, wajahnya cerah, dia sangat senang mendengar berita kelahiran. Setiap kelahiran bayi sepertinya adalah energy baru. Kembali kak Temi mengayuh sepedanya.
“wak temi” tegur si Zol ketika kak Temi lewat depan rumahnya, kak Temi tersenyum, hatinya miris, bulan lalu istri Zul melahirkan, bayinya sudah meninggal tiga hari dalam kandungan, ketika petugas Puskesmas menyiapkan ambulans, Zol menangis meminta tolong istrinya diupayakan normal, dia tidak punya uang ke RS. Dengan bantuan Bidan, dan ibu yang melahirkan, Kak Temi mengeluarkan bayi  laki-laki yang membusuk itu. Persoalan lain muncul, bilal laki-laki tak sanggup memandikan bayi itu, kemudian atas kesepakatan keluraga dan perangkat desa,Kak Temi memandikan bayi itu dan mengkafani mengikuti arahan bilal mayit. Seminggu kak Temi tidak nafsu makan.
Hasil ujian Anis keluar dia diterima di salah satu sekolah tinggi Negara yang kata guru sekolah anis, sekolah keuangan. Bulan depan Anis berangkat, Kak Temi harus menyediakan uang 10 juta, untuk tiket pesawat, dan biaya administrasi. Kata gurunya ini pembayaran pertama sekaligus yang terakhir, Karena sesudah itu dana beasiswanya akan keluar.
Dini hari, di sajadah, kesah kak Temi melimpah ruah, senyumnya yang melebar tadi siang dan anggukan bersemangatnya ketika mendengar berita kelulusan, bahkan ketika buk guru berkata kak Temi harus menyediakan 10 Juta dia masih tersenyum, senyum itu kini patah. Tiba-tiba saja dia begitu merindukan almarhum suaminya,dia rindu kata “sabar” yang kerap terucap dari bibir suaminya, dia butuh kata “ Allah pasti menolong kita” yang selalu menyejukkan hatinya.
 Di pangkuan malam, tangisnya merayap,mengendap, menyentuh pipinya yang tak mulus lagi.
“Mak, kalau memang mamak ngak sanggup, Anis biar di rumah aja, nanti Anis ikut kursus menjahit”. Kak Temi mengeleng sambil menyuapkan nasi di mulutnya.
“Mak, Lia dan Sanah kan harus sekolah juga, biar Anis bantu-bantu kak Ibeth jahit baju, sekalian Anis belajar mak” Kak Temi mengeleng, lalu bergegas pergi kerumah wak Usuf, anaknya tadi malam jatuh dari kereta.
“Mak, udahlah mak, udah seminggu ini mamak diam aja, ngak selera makan. Anis takut mamak sakit,Anis ngak papa lho mak kalau ngak jadi kuliah”.
“Kau kuliah, tugasmu cuma belajar, mamak masih sanggup menyediakan uang itu Nis, mamak Cuma perlu waktu, kau berdoa aja, Inn Sya Allah, minggu depan uang itu sudah ada, kau berangkat ke Jawa”.
Siang ini senyum kak Temi kembali melebar. Tak berhenti dia bersyukur, dia sangat bersyukur kenal dan berteman dengan perempuan-perempuan muda yang bekerja di Polindes, di SD dekat rumahnya, guru anak-anak perempuanya, di kantor camat tempat  biasa dia mengusuk. Karena mereka semua dia jadi punya keinginan menyekolahkan anak-anaknya. Kak Temi Cuma tau lagu Ibu Kita Kartini, tapi dia tidak tau siapa itu ibu kita Kartini, yang dia tau ibu Tin, istri Presiden Suharto.
Semalam Anis berangkat, ditemani gurunya yang kebetulan mau melihat anaknya yang sudah lebih duluan kuliah ditempat yang sama. Uang untuk Anis didapat dari pinjaman koperasi desa ditambah hasil penjualan  seluruh emas milik kak temi dan Anis. Sepanjang hari kak temi menangis. Dia Cuma ingin anaknya sekolah, jadi wanita pintar . Dia ingin Anis jadi seperti guru-guru muda yang dia jumpai setiap hari, tak pernah lelah, tak pernah menghitung rupiah, yang mereka tau anak-anak Indonesia harus sekolah. Atau seperti bidan dan perawat desa yang selalu mengajaknya ngobrol setiap hari, selalu bisa kompromi dengan penyakit, selalu menenangkan jantung yang berpacu tidak karuan, bergantian dinas malam, bahkan kadang harus mengesampingkan keluarga. Atau seperti perempuan-perempuan di kantor-kantor desa, yang pagi sudah berdandan rapi, cantik dan wangi,lalu mengerjakan tumpukan-tumpukan kertas yang entah kapan habisnya, sebagian lagi, bertahan seharian mengerjakan tugas di depan computer.
Tapi Ia juga ingin anak-anaknya menjadi wanita ikhlas, wanita hebat, wanita bersemangat. Seperti mpok karni tukang Sayur yang setiap  hari menyampaikan makna satu ayat kepada langganannya. Seperti Wak pon dan kawan-kawannya, yang setiap jam enam pagi sudah memeluk rumputan sawit, berebutan memukul embun, untuk memupuk, membersihkan rumput, atau kegiatan berkebun lain sesuai perintah si Mandor.
Kak Temi sering melihat bintang dimalam hari dan ia begitu terkagum-kagum, ia ingin menjadikan anaknya seperti bintang, walaupun kadang orang tak sempat memandanginya, namun terangnya tetap bisa dirasakan. Ia ingin sekali memasang bintang lebih dan lebih banyak. Agar semua orang bisa menikmati Sinarnya.
Tujuh  tahun kemudian
Hari ini kantor Camat sibuk dan ramai, penyambutan camat baru bertepatan dengan perayaan hari kartini, para staff dan warga lebih bersemangat, karena camat barunya merupakan putri daerah, masih muda, cantik dan sudah pasti pintar.
 Suasana hening, camat baru sampai ke kalimat penutupan “Terima kasih untuk upacara penyambutan ini, selamat hari Kartini, untuk semua perempuan Indonesia, Kartini memang telah lama mati, tapi semangatnya terus ada di hati perempuan Indonesia. Semua kita adalah Kartini, apapun pekerjaannya, bagaimanapun latar belakang keluarganya. Terimakasih untuk semua kartini yang ada disini, kartini-kartini yang melahirkan generasi muda, mengurus, menjaganya dan terlebih penting menjadikan anak-anaknya menjadi generasi yang bermanfaat.
Ada air di sudut mata kak Temi, tapi senyumnya sangat lebar. Perempuan  yang berdiri  di podium itu, anak ketiganya. Ia telah memasang satu bintang lagi



Note :
Asam Sunti : belimbing wuluh yang telah dikeringkan biasa digunakan masyarakat Aceh
ngurut nandi neh         : memijat dimana lagi
 arek nang omah lek kiman ndesek,omongne mau bengi masuk angin, trus omah lek sadi,      bojone tibo, terkilir sikelne. Eneng papat iki, tapi seng loro, agak awan aelah

  (dirumah lek Kiman dulu, tadi malam katanya dia masuk angin, terus rumah lek Sadi,  istrinya jatuh, terkilir kakinya. Ada empat ini. Tapi yang dua, siang nanti saja)
Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA

0 comments:

Post a Comment

Entri Populer

Blackjack widgets