Saturday, November 5, 2016 | By: Bagus Yulianto

Mimpi Si Anak Kelinci - Fina Lutfiana - Lomba Menulis Cerpen

Mimpi Si Anak Kelinci
Fina Lutfiana

            Kelinci peliharaannya selalu menemani kegiatannya selama ia belajar dirumah. Ia tak pernah lepas dari hewan kesayangannya tersebut, hingga teman-temannya memanggilnya Si Anak Kelinci. Muhammad Aufa Ar-rasyid, itulah Si Anak Kelinci tersebut. Semangat belajar yang tak pernah luntur dari seorang anak yang berusia sembilan tahun tersebut.
            SDN Kembang Turi sudah tampak di ujung sana. Seorang anak laki-laki berbaju merah putih dengan semangat berangkat ke sekolah. Aufa, itulah anak yang sedang berlarian menuju tempat favoritnya itu. Ia selalu berangkat lebih awal, bahkan ia selalu tiba ke sekolah sebelum pintu-pintu kelas dibuka.
“Alhamdulillah sampai di sekolah” ucap Aufa. Tak lama kemudian teman-temannya mulai berdatangan. Bel masuk berbunyi, siswa-siswi berebut masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Suara doa awal majlis menggema ke seantero sekolah.
Assalamualikum warahmatullahi wabarokatuh..”
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.. Bismillahirrahmanirrahim”
“Selamat pagi anak-anak. Apa kabar kalian hari ini?”
“Alhamdulillah.. luar biasa.. Allahu Akbar..”
“Alhamdulillah semangat semua hari ini. Nah hari ini ibu akan membagikan hasil ulangan yang kemarin kalian kerjakan. Aufa, Alhamdulillah kamu masih mempertahankan prestasimu. Teruslah belajar nak tingkatkan prestasimu lagi, ibu bangga dengan semangat belajarmu yang tinggi. Untuk anak-anak yang lain contohlah semangat belajar yang dimiliki Aufa agar kalian juga bisa berprestasi seperti dia. Ini Aufa kamu dapat seratus”
“Terima kasih bu Ilmi”
“Sama-sama Aufa”.
Setelah semua nama terpanggil pelajaran pun dimulai. Bu Ilmi adalah guru favorit Aufa, beliau selalu memberi semangat kepada anak didiknya supaya giat belajar untuk bisa menggapai impian-impiannya. Bahkan bu Ilmi ini mampu merubah anak-anak yang malas sekolah menjadi anak-anak yang rajin sekolah. Itulah alasan mengapa Aufa sangat menyukai guru IPAnya tersebut. Selain memberi semangat belajar kepada setiap anak didiknya beliau juga tak pernah lelah membantu anak didiknya yang kesulitan dalam memahami materi pelajaran.
            Bel istirahat telah berbunyi. Seluruh siswa-siswi berebut keluar kelas, ada yang menuju ke kantin, bermain di halaman sekolah atau sekedar duduk-duduk di depan kelasnya. Namun berbeda dengan Aufa, ia lebih memilih menuju mushola untuk menunaikan sholat dhuha. Inilah kelebihan lain yang dimiliki oleh Aufa dibanding dengan anak-anak seusianya. Ia sangat memperhatikan syariat Islam, bahkan untuk yang sunnah sekalipun. Ia di didik menjadi anak sholeh yang patuh terhadap agama sejak ia masih kecil, sehingga patuh kepada syariat Islam telah tertanam kuat dalam dirinya. Hal inilah yang membuat bu Ilmi kagum kepada salah satu muridnya tersebut. Bahkan beliau terinspirasi dari Aufa dalam urusan agama. Bel tanda masuk telah berdering tepat saat Aufa mengakhiri do’anya. Di sela-sela pelajaran Aufa dikejutkan dengan surat yang diberikan oleh bu Ilmi.
“Nah anak-anak sebelum ibu menjelaskan materi hari ini kalian baca dulu halaman 20 sampai 25”
“Baik bu...” seluruh isi kelas menjawab serempak.
“Aufa kamu kedepan sebentar”
“Iya bu”
“Ini ada surat panggilan orangtua dari kepala sekolah, kasihkan kepada orangtuamu ya”
“Baik bu” Aufa menerima surat itu dengan sedikit ketakutan karena mendapat panggilan orangtua.
            Keesokan harinya Aufa berangkat dengan ibunya. Perasaan takut juga menimpa ibunya karena ia tersadar belum melunasi biaya sekolah Aufa selama satu semester ini. Setelah tiba di sekolah Aufa langsung menuju kelasnya dengan wajah yang murung, sedangkan ibunya menuju ke ruang kepala sekolah yang berada tak jauh dari kelas Aufa.
“Bismillah le, semoga tidak terjadi apa-apa”
“Nggih bu”
“Sekarang kamu masuk ke kelas dulu, belajar yang rajin agar kamu bisa menggapai impianmu le”
“Nggih bu, doa ibu selalu menjadi penyemangat saya dalam belajar. Saya masuk kelas dulu, assalamualaikum” sambil berjabat tangan dengan ibunya Aufa pamit masuk kelas, setelah itu ibu Aufa menuju ruang kepala sekolah.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam, bu Sunarsih ya? Silahkan duduk bu”
“Iya pak terima kasih”
“Bu Sunarsih mohon maaf sebelumnya, saya memanggil ibu kesini tentu ada maksud dan tujuan tertentu. Aufa anak ibu sangat berprestasi disekolah ini bu, saya ikut bangga atas prestasi yang diraihnya”
“Alhamdulillah, terima kasih pak”
“Tapi ada satu masalah yang membuat anda sebagai orangtuanya harus saya panggil. Selama satu semester ini Aufa belum melunasi yang menjadi kewajibannya bu, jadi sekali lagi saya mohon maaf, saya memberi kesempatan selama tiga hari untuk melunasi semuanya, jika tidak bisa mohon maaf sekali dengan sangat terpaksa kami harus mengembalikan Aufa kepada Ibu. Ini rinciannya yang harus dilunasi”
“Masya Allah, banyak sekali. Pak apakah tidak bisa diperpanjang lagi pak?”
“Maaf bu tidak bisa, ini sudah keputusan pihak sekolah. Sebenarnya saya juga merasa keberatan apabila Aufa harus dikeluarkan dari sekolah, tapi karena sekolah ini milik negara maka saya harus ikut peraturan yang dibuat oleh negara”
“Baik pak saya akan berusaha mendapatkan uang untuk membayar biaya sekolah Aufa. Tiga hari yang akan datang saya akan kembali untuk melunasinya”
“Baik bu akan saya tunggu tiga hari ke depan. Semoga ibu bisa mendapatkan uang untuk Aufa”
“Terima kasih pak, kalau begitu saya pamit dulu. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam” Bu Sunarsih keluar ruang kepala sekolah dengan suasana hati yang sangat kacau. Bagaimana tidak, biaya sekolah Aufa yang tidak sedikit harus lunas dalam tiga hari yang akan datang. Sementara itu keadaan ekonomi keluarganya yang sangat minim membuat ibu lima anak ini kebingungan. Sepulang sekolah bu Sunarsih menceritakan semuanya pada Aufa. Dengan lapang dada Aufa bisa menerima semua itu, ia tahu bagaimana keadaannya saat ini. Maka dari itu Aufa tak memaksakan diri jika ia harus dikeluarkan dari tempat ia menimba ilmu tersebut.
            Tiga hari berikutnya bu Sunarsih datang ke sekolah, bukan untuk membayar biaya sekolah Aufa melainkan memberi tahu kepada kepala sekolah bahwa dalam tiga hari ini ia tak sanggup mendapatkan uang sejumlah biaya sekolah Aufa. Bu Sunarsih juga menjelaskan bahwa ia dan Aufa telah bisa menerima jikalau Aufa harus dikeluarkan dari sekolah.
“Baiklah bu saya mengerti keadaan ekonomi ibu, namun karena sudah jatuh tempo saya terpaksa mengeluarkan Aufa dari sekolah. Mohon maaf sekali lagi bu.”
“Iya pak saya juga mengerti, InsyaAllah saya dan Aufa ikhlas menerima keputusan ini”
“Terima kasih bu, semoga Aufa bisa mendapatkan sekolah yang jauh lebih baik untuk dirinya”
“Aamiin”
Ada rasa menyesal dalam diri bu Sunarsih karena ia tak bersungguh-sungguh dalam menyekolahkan anak-anaknya hingga salah satu anaknya harus dikeluarkan dari sekolah. Namun takdir tetaplah takdir, ia harus menjalani kehidupan ini sesuai kehendak-Nya.
            Kini Aufa tak lagi berangkat ke sekolah, ia tetap pergi namun di tempat lain. Kini ia pergi untuk menggembala kambing salah satu saudagar di desa seberang. Ia harus mencukupi kebutuhannya agar ia bisa kembali lagi ke sekolah. Namun semangatnya belajar tak pernah luntur. Di sela-sela ia menggembala ia menyempatkan untuk belajar sembari ditemani kelinci kesayangannya. Ia juga rutin bertanya kepada teman-teman satu kelasnya tentang materi yang di sampaikan bu Ilmi setiap hari dan mempelajarinya di sela-sela ia menggembala.
            Suatu hari saat ia menggembala kambing, seorang pengusaha yang sedang berlibur di desa tempat Aufa menggembala melihat ia sedang menggembala kambingnya sambil belajar. Pengusaha tersebut penasaran kepada Aufa lalu ia mendatangi Aufa.
“Selamat pagi, apakah saya boleh bergabung?”
“Pagi pak, oh iya tentu saja boleh”
“Adik kok belajarnya disini? Bukankah ini masih jam sekolah”
“Saya tidak sekolah pak, saya dikeluarkan dari sekolah”
“Maaf dik bapak tidak tahu, ohh iya bapak belum memperkenalkan diri. Perkenalkan nama bapak Yoga Pratama, panggil saja Pak Yoga. Adik namanya siapa?”
“Nama saya Muhammad Aufa Ar-Rasyid, panggil saja Aufa pak”
“Emm Aufa kalu boleh bapak tahu kenapa Aufa bisa di keluarkan dari sekolah? Mungkin bapak bisa bantu”
“Saya dikeluarkan dari sekolah karena saya tidak segera membayar biaya sekolah saya pak, jadi saya harus dikeluarkan dari sekolah”
“Anak serajin kamu seharusnya mendapatkan keistimewaan, sayang sekali kalau kamu harus putus sekolah. Saya  ingin sekali membantu kamu Aufa, dimana kamu tinggal?”
“Di desa sebelah pak”
“Bolehkah saya pergi ke rumahmu”
“Tentu saja boleh tapi setelah saya selesai menggembala kambing-kambing ini”
Aufa juga menceritakan mengapa ia harus menggembala kambing milik saudagar kaya di desa ini. Menjelang sore barulah Aufa dan Pak Yoga menuju rumah sederhana Aufa. Di rumahnya Pak Yoga bertemu dengan Bu Sunarsih. Ia lalu mengutarakan keinginannya untuk membantu agar Aufa bisa sekolah lagi, bahkan Pak Yoga juga mengatakan bahwa ia sanggup membiayai adik-adik Aufa dan Aufa sampai ke perguruan tinggi sekalipun. Dengan senang hati akhirnya Bu Sunarsih mengiyakan niat baik Pak Yoga ini.

            Keesokan harinya Aufa kembali ke sekolah dengan lebih bersemangat lagi. Semakin hari semangat belajar Aufa semakin tinggi, ia terus berusaha menggapai impiannya mendirikan sebuah yayasan dengan basic hafalan Al-qur’an. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Dan bulan telah berganti tahun. Si anak kelinci telah tumbuh menjadi seorang peternak kelinci muda yang sukses. Dan dari usaha peternakan kelincinya tersebut ia mampu mewujudkan impiannya mendirikan yayasan Tahfidzil Qur’an.
Sumber : http://www.postinganmusa.com/2015/06/cara-membuat-tombol-share-keren-di-blog.html#ixzz420Z3yCcA

0 comments:

Post a Comment

Entri Populer

Blackjack widgets